Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Lockdown Lokal di Jogja Aslinya Cuma Tutup Jalan, Nggak Beda kalau Lagi Ada Hajatan

Muhammad Farih Fanani oleh Muhammad Farih Fanani
1 April 2020
A A
Lockdown Lokal di Jogja Aslinya Cuma Tutup Jalan, Nggak Beda kalau Lagi Ada Hajatan

Lockdown Lokal di Jogja Aslinya Cuma Tutup Jalan, Nggak Beda kalau Lagi Ada Hajatan

Share on FacebookShare on Twitter

Dunia saat ini dihadapkan pada kondisi yang semakin buruk terkait dengan virus corona. Banyak korban yang tumbang termasuk tenaga medis yang berada di garda terdepan dalam penanganan virus ini. Seluruh dunia sedang susah payah mencari solusi bagaimana agar virus corona segera enyah dari muka bumi.

Termasuk juga di Indonesia, pemerintah sejak 15 Maret 2020 mengimbau masyarakat untuk bekerja di rumah, belajar di rumah, dan beribadah di rumah. Himbauan itu tentu bukan tanpa alasan. Alasan terkuatnya adalah dalam rangka mengurangi penyebaran virus yang sangat masif.

Memang betul, untuk mencegah penularan orang harus menjaga jarak satu sama lain. Mengurangi mobilisasi dan meniadakan berbagai macam bentuk kegiatan yang menghadirkan banyak orang. Senjata terampuhnya agar bisa terealisasi adalah dengan melakukan lockdown. Tapi pemerintah tidak memilih itu. Kenapa?

Alasan yang mungkin sedang dipertimbangkan adalah dampaknya terhadap perekonomian. Kemungkinan terburuk ketika terjadinya lockdown adalah pekerja harian akan kesulitan mencari sumber pendapatan. Selain itu ekonomi di negeri kita tercinta ini akan mandek, kebayang bagaimana nantinya, wong sekarang satu dolar saja sudah sampai 16.000.

Fantasi liar dan jiwa nyinyirku kembali terkoyak ketika melihat fenomena unik di Jogja. Iya Jogja. Kota yang tidak akan ada habisnya untuk dibicarakan di sini. Banyak kampung-kampung di Jogja yang saat ini memberlakukan lockdown lokal. Artinya hanya satu dusun atau satu RW saja yang melakukan lockdown, atau bahkan satu RT saja. Bisa jadi.

Artinya warga menutup semua akses JALAN utama di kampung tersebut, termasuk gerbang, dan akses jalan lain. Tujuannya mungkin untuk mengurangi mobilisasi. Mengurangi orang yang akan lewat dan masuk di kampung itu.

Dengan begitu maka imbauan untuk melakukan physical distancing jadi mudah untuk ditaati. Selian itu warga yang tinggal di kampung tersebut juga bisa mengkarantina diri sendiri dengan nyaman di rumah masing-masing. Itu teorinya, tapi dalam prakteknya tidak begitu.

Kalau kita cermati lebih dalam lagi bahwa masyarakat di perkampungan adalah masyarakat yang sangat komunal. Mereka tidak akan bisa hidup tanpa srawung, ngopi, dan ngangkring (kita bebas mengartikan itu baik atau tidak).

Baca Juga:

Konten tidak tersedia

Tapi dalam konteks lockdown lokal di kampung, tampaknya bapak-bapak kumisan dengan kearifan lokalnya sedang dapat tongkrongan baru untuk serawung, ngopi dan ngangkring. Tepatnya di gerbang yang tertutup portal dan tertulis tulisan lockdown dengan pilok warna merah.

Entah disadari atau tidak, nongkrong adalah salah satu tindakan yang seharusnya dihindari oleh setiap orang termasuk bapak-bapak kumisan. Mengingat bahwa himbauan yang sudah jelas adalah himbauan untuk menerapkan physical distancing (menjaga jarak) dan menghindari kerumunan. Kesan yang kemudian muncul bukanlah sedang terjadi lockwdown, tapi tidak lebih dari jalan yang ditutup karena sedang ada hajatan. Tidak ada bedanya.

Dalam artikel-artikel berita, pengertian lockdown adalah bentuk mengkarantina suatu wilayah, dengan tujuan agar wilayah tersebut berhenti aktivitasnya. Supaya aturan tersebut ditaati aparat akan mengawasi dan menjaga di setiap sudut wilayah tersebut.

Berbeda hal nya dengan lockdown lokal yang saat ini tengah ramai dilakukan. Mungkin definisi yang cocok untuk lockdown lokal ini adalah sebatas tindakan menutup jalan supaya tidak ada orang yang lewat.

Dua hal yang bisa dipahami dari fenomena lockdown lokal ini adalah pertama, bahwa lockdown adalah bentuk ekstrem dari karantina wilayah. Sebelum melakukan lockdown, masyarakat harus mengawali dengan tidakan physical distancing atau #DirumahAja. Bukan malah nongkrong. Lockdown dilakukan ketika keadaan sudah sangat darurat dan tidak bisa lagi dikendalikan.

Kedua adalah lockdown harusnya tidak hanya dipahami sebagai tindakan menutup jalan. Tapi juga harus dibarengi dengan berhentinya seluruh aktivitas yang ada di sebuah wilayah yang di-lockdown. Memang susah, tapi itu resiko yang harus diambil ketika sudah memberlakukan lockdown.

Jadi inti dari tulisan ini adalah, saya merasa tidak bebas ketika komplek kos-kosan yang saya tempati memberlakukan lockdown lokal. Mau keluar susah, cari makan juga susah, mau pacaran ketemu kawan juga susah.

Seharusnya cukup lah kita semua menjaga diri dengan melakukan apa-apa yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Sering-sering cuci tangan, jaga kesehatan, jaga jarak dengan orang lain, pakai masker, kalau merasa sakit jangan keluar, dan lain sebagainya. Kami anak kos, kamar kami sempit.

BACA JUGA Lockdown Mandiri di Desa Bikin Sadar kalau Cuma Ketua RT yang Bisa Nyelametin Kita atau tulisan Muhammad Farih Fanani lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 1 April 2020 oleh

Tags: lockdown di jogjalockdown lokal
Muhammad Farih Fanani

Muhammad Farih Fanani

Muhammad Farih Fanani, full time berpikir, part time menulis. Instagram @mfarihf.

ArtikelTerkait

Konten tidak tersedia
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rangka Ringkih Honda Vario 160 “Membunuh” Performa Mesin yang Ampuh Mojok.co

Rangka Ringkih Honda Vario 160 “Membunuh” Performa Mesin yang Ampuh

4 Februari 2026
4 Usaha Paling Cuan di Desa yang Bisa Dilakukan Semua Orang Mojok.co

4 Usaha Paling Cuan di Desa yang Bisa Dilakukan Semua Orang

31 Januari 2026
Tiga Tradisi Madura yang Melibakan Sapi Selain Kèrabhan Sapè yang Harus Kalian Tahu, Biar Obrolan Nggak Itu-Itu Aja

4 Pandangan Norak Orang Luar Madura tentang Orang Madura yang Perlu Diluruskan

29 Januari 2026
Stasiun Plabuan Batang, Satu-Satunya Stasiun Kereta Api Aktif di Indonesia dengan Pemandangan Pinggir Pantai

Bisakah Batang yang Dikenal sebagai Kabupaten Sepi Bangkit dan Jadi Terkenal?

1 Februari 2026
Es Teh Jumbo Cuan, tapi Jualan Gorengan Bikin Saya Bisa Kuliah (Unsplash)

Bisnis Kecil Seperti Gorengan dan Es Teh Jumbo Dipandang Remeh Nggak Bakal Cuan, Padahal Berkat Jualan Gorengan Saya Bisa Kuliah

2 Februari 2026
Tunjungan Plaza Surabaya Lebih Cocok Disebut Labirin daripada Mal, Membingungkan dan Rawan Tersesat Mojok.co

Tunjungan Plaza Surabaya Lebih Cocok Disebut Labirin daripada Mal, Membingungkan dan Rawan Tersesat

2 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Perjuangan Ojol sambil Kuliah: Pernah Diancam Pihak Resto karena Telat Antar Makanan, Kini Lulus Jadi Sarjana Hukum UGM
  • Misteri Adik Saya yang Berakal Sehat dan Mengerti Dunia Otomotif, tapi Rela Menebus Suzuki APV yang Isinya Begitu Mengenaskan
  • Saat Musik Analog Bukan Lagi Barang Jadul yang Bikin Malu, tapi Pintu Menuju Kenangan Masa Lalu bagi Pemuda di Jogja
  • Salah Kaprah tentang Kerja di Surabaya, “Tipuan” Gaji Tinggi dan Kenyamanan padahal Harus Tahan-tahan dengan Penderitaan
  • Mitos dan Pamali adalah Sains Tingkat Tinggi yang Dikemas dalam Kearifan Lokal, Bisa Menjadi Peringatan Dini Bencana
  • Cabut dari Kota Tinggalkan Perusahaan demi Budidaya Jamur di Perdesaan, Beberapa Hari Raup Jutaan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.