Hampir semua para pencari kerja pasti tidak akan asing lagi dengan aplikasi LinkedIn, apalagi bagi mereka yang baru lulus alias fresh graduate. Bahkan kini mahasiswa pun sudah terbiasa untuk meng-update pencapaiannya di LinkedIn mulai dari posisinya di organisasi kemahasiswaan sampai pengalaman magang di perusahaan.
Pertama kali saya mengenal dan membuat akun LinkedIn saat duduk di bangku SMA sekitar 10 tahun yang lalu. Saat itu saya belum tahu bagaimana cara menggunakan aplikasi ini. Saya hanya meng-update pendidikan lalu ditinggal begitu saja sebelum memakainya lagi menjelang lulus kuliah.
Selama lebih dari satu dekade menggunakan aplikasi ini, bagi saya LinkedIn adalah aplikasi paling toksik yang pernah saya gunakan karena beberapa hal berikut ini.
#1 LinkedIn sering bikin orang insecure
Saya yakin kalian akan sepakat kalau LinkedIn itu jadi aplikasi yang paling sering bikin orang insecure. Setiap buka LinkedIn, banyak orang yang dengan bangganya mengumumkan bahwa doi baru saja diterima kerja di perusahaan dengan posisi yang mentereng. Hal ini tentunya bikin para job seeker alias pencari kerja yang menganggur lama merasa insecure karena tidak seberuntung orang yang sepertinya mudah untuk mendapatkan pekerjaan.
Sebenarnya ya, itu hal yang wajar sih. Sebab itu memang fitur LinkedIn. Tapi kalian tahu maksud saya lah.
Melihat kawan satu seangkatan yang baru diterima kerja langsung insecure. Melihat adik tingkat yang lebih dulu diterima kerja rasanya diri ini tidak berharga di mata para perekrut. Lama-kelamaan rasa insecure itu berubah menjadi rasa demotivasi. Membuka LinkedIn menjadi khawatir sehingga merasa semua usaha yang dilakukan menjadi sia-sia sehingga berakhir tidak percaya diri lagi.
#2 Banyak yang haus akan validasi
Kita tahu bahwa LinkedIn merupakan aplikasi untuk mencari kerja. Namun, banyak dari penggunanya yang mengharapkan banyak komentar dan like ketika mengumumkan dirinya baru diterima kerja atau sekadar mengunggah kegiatannya bekerja. Setiap satu jam sekali dilihat sudah berapa orang yang berinteraksi dengan unggahannya.
Seiring berjalannya waktu kini LinkedIn malah menjadi aplikasi yang membuat orang haus akan validasi dan pengakuan. Semua kegiatan pekerjaannya baik yang penting sampai tidak penting diunggah ke LinkedIn seperti membuat status di Facebook atau Instagram. Lebih gongnya lagi, banyak yang memakai kata-kata mutiara seolah-olah mereka adalah seorang motivator andal yang sudah sukses dunia akhirat.
#3 Pamer posisi dan pencapaian sudah jadi budaya
Mengumumkan baru diterima kerja di suatu perusahaan mungkin jadi hal yang wajar karena ingin berbagi kebahagiaan dengan orang lain—meskipun ada juga yang memilih untuk tidak membagikannya ke publik. Setiap orang memang memiliki cara yang berbeda dalam mengungkapkan kebahagiaan. Tapi, kebiasaan memamerkan posisi dan pencapaian dapat menjadi budaya yang toksik.
Semua orang hanya tertarik membagikan kebahagiaan saja sementara hal-hal sedihnya seperti ditolak perusahaan berkali-kali tidak pernah dipublikasikan. Semua orang hanya fokus merayakan mereka yang baru diterima kerja, tapi yang baru kena lay-off atau di-ghosting oleh perekrut sama sekali tidak ada yang peduli.
#4 Banyak komentar template di LinkedIn
Entah sudah berapa seringnya saya mendapati komentar template dari pengguna LinkedIn terhadap suatu postingan. Terkadang antara postingan dengan komentarnya tidak nyambung karena sudah kebiasaan template. Ada suatu momen di mana seorang HR membuat status receh, namun banyak dari mereka yang memberikan komentar “very insightful, “great job”, “very inspiring”, dan kata-kata pujian lainnya. Saya sih agak ngakak ya bacanya.
Bagi saya pribadi, LinkedIn itu aplikasi pencari kerja paling toksik sekaligus sebagai ajang untuk melatih mental apalagi buat para pengangguran yang belum kunjung mendapatkan pekerjaan impiannya.
Penulis: Erfransdo
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















