Lingkaran Setan Keluarga Besar yang Hobi Gibah. Kumpul Dosa, Absen Dicap Durhaka – Terminal Mojok

Lingkaran Setan Keluarga Besar yang Hobi Gibah. Kumpul Dosa, Absen Dicap Durhaka

Artikel

Avatar

Punya keluarga besar itu enak. Banyak saudara, banyak cerita, banyak jalan-jalan, banyak uang saku, dan banyak lainnya. Pokoknya mah nyenengin banget kalau sudah musim liburan panjang. Sebentar lagi bisa kumpul keluarga bareng kakek, nenek, sepupu, om, tante, dan liburan bersama sambil sewa vila atau menginap di tempat saudara yang rumahnya paling besar (baca: paling kaya). Tapi itu pemikiran saya dulu, waktu masih SD.

Sekarang? Preeet! Jalan-jalan dan makan-makan itu bisa dihitung jari. Justru apa yang paling sering dilakukan kalau sedang kumpul bareng keluarga besar? Pertama, sidang sepupu yang “keluar jalur”. Kedua, membanding-bandingkan dua atau lebih anggota saudara yang selevel. Ketiga, kelas gibah, dan ini yang paling memuakkan.

Memang sih bakal garing banget ketika duduk rame-rame, tapi nggak ada bahan yang diobrolin. Paling ceng-cengan antarsepupu atau guyonan dalam batas wajar. Nah, tapi yang senior-senior (para bude dan pakde) ini nih yang biasanya mulai buka obrolan tanyain keponakannya yang absen karena kesibukan tertentu, tapi orang tuanya hadir dalam lingkaran. Tujuannya nembak sepupu yang seumuran tapi keluar jalur.

#1 Sidang anggota keluarga

“Anakmu kenapa nggak ikut? Lagi sibuk, tho, Mas?”

“Iya, dia nemenin Bupati kunjungan kerja. Sekarang kan kalau ke mana-mana disuruh ikut terus… Ya capek, tapi gimana, wong sudah dipercaya. Ini audah 2 minggu keluar kota terus. Ya alhamdulillah, Mbak, sudah bisa mandiri.”

Biasalaaah, terdengar merendah. Tapi kita semua pasti mencium aroma pamer menyeruak. Yang masih jadi jobseeker pasti menunduk sambil senyum kecut, berharap nggak ditanyain. Kita yang junior ini cuma punya “aamiin” untuk merespons kalau ditanya. Habis itu mulai deh membidik target.

Baca Juga:  Saat Oligarki Media Mainstream Dihadang oleh Kekuatan Media Sosial Bersama Hashtagnya

“Hayooo, itu yang duduk di pojok sendirian mesam-mesem aja, le? Kamu kapan lulusnya? Nggak pengin tho jadi kayak masmu (sepupu)?”

“Aamiin…”

Selanjutnya berasa perang Amerika lawan Burkina Faso, alias nggak imbang. Yang satu ngebom terus, yang satu pasrah mau kabur nggak bisa. Sebenarnya sih, ya nggak apa-apa kalau mau mengingatkan anggota keluarga yang dirasa berbuat salah, demi kebaikan dirinya sendiri. Tapi mbok ya jangan disidang di depan khalayak? Pindah saja ke ranah privat supaya si “korban” nggak merasa minder yang berujung kapok mau kumpul keluarga lagi. Memangnya yang pada ikutan ketawa dan ngebully itu pada ikut urunan uang kuliahnya?

#2 Komparasi prestasi

Dibanding-bandingkan dengan sepupu yang seumuran itu sudah biasa. Mulai dari soal sifat, prestasi, sampai soal kehidupan rumah tangga. Bukannya mau memaklumi, tapi protes juga buat apa? Buang-buang waktu dan malah menambah perkara.

Seringnya sih, yang dibanding-bandingkan ini antara sepupu yang lurus-lurus saja (lulus kuliah tepat waktu, dapat kerja cepat, menikah, dan punya anak) dengan sepupu versi kebalikannya (telat lulus kuliah, masih cari kerja, atau baru saja mendapat pekerjaan jadi sales motor). Ya lagi-lagi, perbandingan yang nggak imbang. Lagi pula buat apa sih dibanding-bandingkan? Garis start dan finish tiap orang kan beda-beda, Bos! Kasih motivasi nggak, bikin down iya. Apalagi kalau dibandingkan dengan sepupu yang jadi PNS, wah, damage-nya lebih besar!

Baca Juga:  Pendidikan Akademik Beda dari Vokasi, Ngarep Sarjana Langsung Bisa Praktik ya Jelas Salah

Saya sih cuma menganggap golongan pakde dan bude yang seperti ini sedang kurang kerjaan saja. Ya memang rata-rata sudah pensiun, nggak punya kegiatan atau hobi lain, tapi paling depan kalau urusan menilai-nilai orang. Sebenarnya kasihan juga, karena masuk usia tua orang pasti butuh teman bicara. Tapi, menurut saya sih mendingan lebih fungsikan telinga yang ada dua, ketimbang mulut yang cuma satu. Menurut saya, lho.

#3 Kelas gibah massal

Membanding-bandingkan itu satu hal. Ada lagi level yang paling ngehe, yaitu ngomongin anggota keluarga sendiri, alias gibah. Biasanya yang jadi target itu saudara jauh, entah itu sepupunya pakde dari beda nenek, atau fulan bin fulan yang jadi pembantunya keponakannya tetangganya Bill Gates yang masih satu trah dari selirnya Raja Brawijaya ke-5… de-es-te. Jauh banget lah pokoknya!

Jujur, dulu sih pernah antusias waktu kelas pergibahan dimulai. Tapi saya sadar, sejak punya beberapa masalah pribadi yang diketahui keluarga besar, saya punya pikiran jangan-jangan saya juga jadi bahan hibahan mereka ketika saya nggak ikut kumpul-kumpul? Maka dari itu saya tobat. Sumpah. Saya kapok.

Besar hati dan bodo amat itu beda tipis, dan saya memegang teguh keduanya. Sering kali sebelum saya dijadikan objek ceng-cengan keluarga, saya terpaksa mengejek diri saya sendiri di depan mereka. Saya cuma nggak mau mereka tambah kelewat batas. Dan saya pun percaya karma baik akan datang karena menghibur orang lain. Lama kelamaan saya ikhlas dan senang ketika dijadikan bahan guyonan. Minimal, nggak ada sepupu-sepupu lain yang jadi “korban”. Belum tentu mereka bisa menahan rasanya. Saya sih, cuek saja.

Baca Juga:  Kumpul Keluarga, Waktunya Mom Shaming

Terakhir, saya sih nggak yakin golongan senior di keluarga kita baca Terminal Mojok, karena pasti lebih memilih nonton Ikatan Cinta. Tapi syukur kalau ini bisa jadi pegangan kita semua ketika nanti naik level jadi senior di lingkungan keluarga besar. Kita pernah disidang, pernah dibanding-bandingkan, dan pernah diomongin di belakang, tapi bukan berarti kita punya alasan untuk dendam. Bagimu baik-burukmu, bagiku baik-burukku.

Pada akhirnya, sebuah dilema besar manakala memutuskan ikut kumpul atau absen saja ketika ada agenda keluarga. Tapi sejalan dengan kaidah fiqih agama yang saya anut, “dar’ul mafasid muqaddamu ‘ala jalbil masholih”, maka saya pribadi lebih baik menghindari keburukan (mafsadat) karena itu lebih utama ketimbang mengambil manfaat (dari suatu hal). So, bukannya tak cinta nih, lur, tapi mendingan saya absen dulu kalau acaranya nggak penting-penting banget, daripada ikutan kelas gibah dan beneran bisa bikin suasana hati jelek karena bawaannya jadi negatif terus sama orang lain. Serius!

BACA JUGA Grup WhatsApp Keluarga Lebih Banyak Nyusahinnya, Mending Nggak Usah Punya, deh dan tulisan Dimas Bagus lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
20


Komentar

Comments are closed.