Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Lingkaran Oligarki yang Mati Membuat Boruto Masih Memiliki Harapan

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
19 Oktober 2020
A A
Lingkaran Oligarki yang Mati Membuat Boruto Masih Memiliki Harapan terminal mojok.co

Lingkaran Oligarki yang Mati Membuat Boruto Masih Memiliki Harapan terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Saya nggak ragu mengatakan bahwa anime Boruto adalah sebuah kesalahan fatal. Ketika kita disajikan karya luar biasa bernama Naruto dengan segala hiruk pikuk masa kelam, anime Boruto keluar dengan perasaan hambar yang cenderung membuat jijik. Bisa dikatakan, hadirnya Boruto, murni sebagai perusak gegap gempita manisnya kisah Naruto yang ditutup dengan baik dan benar—walau tidak seutuh-utuhnya benar juga, sih.

Pun saya akan bersepakat bahwa anime Boruto, tak lebih seperti Chibi Maruko Chan dengan kisah hidup anak SD ala mereka. Dunia mereka dengan segala problematika jajanan dan imajinatif. Malahan, menurut saya pribadi, kisah Maruko lebih menggugah ketimbang sekelompok anak ninja yang tidak tahu arah dan tujuannya mau apa. Bisa dibilang, anime Boruto tujuannya seperti sinetron Indonesia, kejar rating belaka.

Mengapa saya tega bilang seperti itu? Sebagai orang yang pernah menangis manakala melihat Naruto berteriak guna menyadarkan bangsatnya ego Sasuke, saya merasa dipermainkan dengan anime ini. Anime Boruto: Naruto Next Generations yang sembilan puluh sembilan persen hanya filler. Saya rasanya ingin bilang, “Sudah, cukup, jangan bikin saya kecewa lebih dalam.”

Bahkan, dikutip dari Kincir dalam sebuah siaran dari VizMedia, Masashi mengaku lepas tangan dengan cerita di dalam anime ini dan lebih merasa puas dengan akhir yang telah dia buat di Naruto: Shippuden. Masashi Sensei pun mempercayakan kelangsungan waralaba ini kepada dua penulis, yakni Mikio Ikemoto dan Ukyo Kodachi. Mereka merupakan “orang dekat” Masashi dan jadi asisten kala Naruto  masih dikembangkan.

Asumsi saya pribadi mengenai Boruto hanya sebagai alat peras rating dan penjualan, dipertegas melalui filler (hampir semua filler, sih) di mana Boruto terjebak di zona waktu, di mana Naruto masih Genin. Mereka masih belum bisa lepas dari masa emas Naruto, di mana sisi kuat karakter yang satu ini terus dihajar habis-habisan.

Manga yang penuh filler, cenderung sangat membosankan. Apalagi, konflik yang dihadirkan begitu sepele dan di luar konteks dari manga (walau beberapa sengaja dibuat sebagai jembatan menuju cerita di manga). Boruto, selalu dihadapkan tembok besar bernama Naruto. Kedua nama ini akan terus dibandingkan, apalagi dalam segi penceritaan dan kualitas konflik yang dihadirkan. Padahal, potensi dari Boruto ini sangat luar biasa.

Jika boleh berbicara secara adil, saya masih berharap banyak melalui Ukyo Kodachi. Dengan satu catatan, stop saja animenya, fokus kerjakan manga dan buat cerita dengan sepenuh hati. Jangan lupa, selain pakai hati, pakai juga otaknya. Mengapa saya berbicara seperti ini? Lantaran, apa yang ia upayakan, sudah merubah banyak sistematis jagat Naruto secara keseluruhan. Dan langkah terbaik adalah menyelesaikan dengan hormat.

Sejatinya, banyak plot menarik dalam manga yang bisa ia kembangkan. Ketimbang berkutat mengeluarkan musuh-musuh yang powernya kelewat sakti, fokuskan saja dahulu kepada generasi Naruto dalam masa transisi pascaperang. Politik, kuasa, kekuatan negara, bisa dikaji lebih jauh di sini. Apa lagi sebuah negara “pasca merdeka”, pasti banyak problem yang dihadapinya. Buat Naruto “sengsara” akan kesibukan ini.

Baca Juga:

Pengalaman Belajar Ilmu Tenaga Dalam di Pesantren Berharap Bisa Rasengan Kayak Naruto

Perbandingan Jumlah Guru dan Murid yang Ideal serta Keberadaan Support System Adalah Rahasia Kecerdasan Upin Ipin dan Naruto

Buat alasan mendasar bahwa tugas Naruto sebagai Hokage masa transisi ini super sibuk dengan urusan administrasi negara. Jika hal itu sudah runtut, maka alasan Naruto yang di-nerf besar-besaran ini (bahkan sempat dikalahkan oleh anak kecil dalam satu bagian) ada alasan logisnya. Setali dengan kajian dalam manga, Naruto lelah mengurusi urusan negara, sampai-sampai hal vital berupa tenaga dan kekuatan ninja ia tinggalkan begitu saja.

Ingat Naruto, tugas negara itu berat. Jangan sekalipun pakai bunshin untuk mengerjakan tetek bengek urusan administrasi negara. Makanya, jangan kebanyakan pencitraan. Atau dari sisi ini, bangun saja cerita yang berkaitan, yakni muntabnya Boruto melihat kinerja sang ayah yang nggak becus ngurus negara. Kan cocok tuh, jadi alasan Boruto nggak mau jadi Hokage semakin kuat.

 

https://twitter.com/Eno_Bening/status/1315929132425859072

 

Saya tertarik dengan opini Eno Bening. Jika mau buat Boruto (sedikit) diperhitungkan. Jika mau lho, ya. Mbok menowo.

Buat Boruto jadi orang yang membangkang sekalian. Ia menjabarkan sistem oligarki nggak sehat dari hokage pertama sampai ayahnya. Jelaskan pula bahwa sistem seperti ini terus terjadi, lama-lama terbentuk semacam dinasti. Boruto hadir di garda terdepan, mengusulkan adanya demokrasi yang lebih sehat dan adil.

Dari sinilah muncul pertentangan antara penasehat desa, Naruto, dan Boruto. Keberpihakan Sarada akan dipertanyakan menengok ia ingin menjadi Hokage. Namun, di malam yang khusyuk, Sarada tersadar bahwa jika tidak ada sistem demokrasi, klannya, Uchiha, sampai kapan pun akan terus diinjak-injak.

Boruto ketika masa Jonin, menyebutkan bahwa masa kecil ayahnya tidak seberapa menyedihkan. Tidak sekelam apa yang dibicarakan dalam biografi dan film khusus yang dibuat untuk melanggengkan masa baktinya. Ia adalah anak dari Hokage Keempat, mendapat perlindungan Hokage Ketiga, memiliki chakra yang nggak terhingga pula. Nah, jika ini digunakan dalam cerita, pasti penikmat Naruto akan ikut menyimak. Sambil mengernyitkan dahi, bakal ngedumel sendiri, ini bocah kok bisa-bisanya ngomong begini?

Memang terdengar simpel, tapi begitu menohok. Ketimbang ambil setting cerita anak-anak kecil sok asyik padahal nggak ada apa-apanya ketimbang arc Naruto lawan Zabuza.

Pertanyaannya, apakah Ukyo Kodachi sanggup? Ketika Masashi Sensei percaya, saya yakin orang itu akan memenuhi ambisinya. Apalagi, masih banyak hal menarik di masa transisi Konoha yang bisa dikaji lebih jeli oleh Ukyo Kodachi.

Anime stop saja, lah. Namun, jika memang harus ada guna menunjang sektor finansial, buat adil saja. Ketika anime pangsa pasarnya bocah-bocah, buat manga menjadi makin pelik dan realistis sebagai penghormatan bagi para penggemar Naruto yang kini mungkin sudah punya anak dan cucu. Kan begitu. Pasalnya, harapan selalu ada, walau mulai menipis tentunya.

Sumber gambar: Viz.com

BACA JUGA Boruto Beli Gacha Melulu, Uang Sakunya Emang Berapa, sih? dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 19 Oktober 2020 oleh

Tags: Borutonaruto
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut.

ArtikelTerkait

Hah, Serial One Piece Lebih Baik? Padahal Ceritanya Aja Bermasalah!

Hah, Serial One Piece Lebih Baik? Padahal Ceritanya Aja Bermasalah!

23 April 2020
5 Kematian Karakter Anime yang Bikin Penggemarnya Gagal Move On

5 Kematian Karakter Anime yang Bikin Penggemarnya Gagal Move On

23 Juni 2022
film pengkhianatan uchiha akatsuki naruto mojok.co contoh parodi

Film ‘Pengkhianatan Uchiha’ dan Bahaya Kebangkitan Akatsuki

8 Oktober 2020
Membandingkan Raja Bajak Laut 'One Piece' dan Hokage Itu Nggak Apple to Apple! terminal mojok.co

Membandingkan Raja Bajak Laut ‘One Piece’ dan Hokage Itu Nggak Apple to Apple!

5 Juli 2021
hokage konoha kapasitas chakra naruto baryon mode hokage naruto boruto mojok

Panduan Memahami Bagaimana Hokage Dipilih

25 November 2020
anime

Mencari Falsafah Hidup dari Film Anime

23 Agustus 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

6 Alasan Perantauan seperti Saya Begitu Mudah Jatuh Cinta pada Solo Mojok.co

6 Alasan Sederhana yang Membuat Perantau seperti Saya Begitu Mudah Jatuh Cinta pada Solo

12 Januari 2026
Motor Supra, Motor Super yang Bikin Honda Jaya di Mata Rakyat (Sutrisno Gallery/Shutterstock.com)

Tanpa Motor Supra, Honda Tidak Akan Menjadi Brand Motor Terbaik yang Pernah Ada di Indonesia

16 Januari 2026
Bekasi Justru Daerah Paling Nggak Cocok Ditinggali di Sekitaran Jakarta, Banyak Pungli dan Banjir di Mana-mana

Bekasi: Planet Lain yang Indah, yang Akan Membuatmu Betah

13 Januari 2026
Jalan Dayeuhkolot Bandung- Wujud Ruwetnya Jalanan Bandung (Unsplash)

Jalan Dayeuhkolot Bandung: Jalan Raya Paling Menyebalkan di Bandung. Kalau Hujan Banjir, kalau Kemarau Panas dan Macet

17 Januari 2026
4 Aturan Tidak Tertulis ketika Naik Transjakarta (Unsplash)

Hal-hal yang Perlu Pemula Ketahui Sebelum Menaiki Transjakarta Supaya Selamat dan Cepat Sampai Tujuan

16 Januari 2026
Mahasiswa yang Kuliah Sambil Kerja Adalah Petarung Sesungguhnya, Layak Diapresiasi Mojok.co

Mahasiswa yang Kuliah Sambil Kerja Adalah Petarung Sesungguhnya, Layak Diapresiasi

16 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi
  • Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan
  • Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM
  • Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna
  • Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri
  • Gotong Royong, Jalan Atasi Sampah Menumpuk di Banyak Titik Kota Semarang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.