Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup Personality

Lima Tahun Lagi, Masihkah Bubur Tahu Seharga Dua Ribu?

Andrian Eksa oleh Andrian Eksa
14 Mei 2019
A A
penjual bubur

penjual bubur

Share on FacebookShare on Twitter

Setiap kali pulang ke rumah, pasti saya sempatkan untuk sarapan bubur tahu. Harganya cuma dua ribu rupiah. Apa tidak kelewat murah?

Bubur putih dengan lauk sambel tahu. Orang-orang di daerah saya menyebutnya, sambel tumpang, karena cara penyajiannya ditumpangkan di atas bubur. Tahu yang diolah dengan bumbu pedas dan tempe ‘busuk’ yang menjadikannya khas. Masakan ini selalu menyegarkan ingatan saya tentang cita-cita.

Saya punya cita-cita untuk tinggal di desa. Hidup di sebuah rumah dengan halaman dan kebun belakang. Di sana, saya dan istri menanam sayur dan buah. Rumah kami tidak perlu diberi pagar. Kami tidak ingin membuat batas. Kami percaya dengan tetangga. Tidak perlu was-was.

Lebih jauh lagi, saya membayangkan, di dapur nanti, istri saya memasak di atas tungku. Saya suka aroma abu. Meskipun asap membuat sesak. Melihat kayu yang membara, mengingatkan saya pada masa kecil yang bahagia. Lagi pula, kami bisa belajar sabar dari menjaga api tetap menyala.

Mempunyai cita-cita tersebut, bukan berarti saya melihat perempuan lebih rendah dan menempatkan pada beban ganda. Bukan seperti itu. Sudah barang tentu saya bertanggung jawab atas cita-cita itu. Saya pun akan dengan senang hati membantu istri saya memasak. La wong saya seneng banget masak.

Keberanian saya dalam menyusun cita-cita tersebut menguat ketika rumah saya dirombak. Sebelumnya, saya berumah di dalam anyaman bambu yang ditegakkan tiang-tiang kayu. Pawonnya tentu masih tungku. Di samping rumah, saya sering mendapati tumpukan kayu.

Setelahnya, tembok-tembok mulai berdiri sendiri. Gentingnya digantikan asbes. Lantaiya bukan lagi tanah. Tungkunya menjadi kompor gas yang dibagikan pemerintah. Rumah saya benar-benar berubah.

Sejak saat itu, saya tidak lagi melihat kayu yang membara. Alih-alih disesakkan oleh asap dapur, saya malah disesakkan oleh kenyataan bahwa nenek sudah berumur. Selain itu, nenek pun gagap dengan kompor gas. Sudah sekian kali saya mengajarinya, beliau tetap belum bisa. Seolah nenek menolaknya.

Baca Juga:

Punya Rumah di Desa dengan Halaman Luas Itu Malah Menjadi Sumber Keresahan, Hidup Jadi Nggak Tenang

4 Ciri Bubur Ayam yang Pasti Enak, Cocok Jadi Penyelamat Perut di Pagi Hari

Setiap kali mengingat nenek, saya teringat rumah lama. Setiap kali mengingat rumah lama, saya lekat dengan ingatan bara. Nenek menjadi bara yang menghidupkan cita-cita saya. Itulah mengapa saya bercita-cita tinggal di desa. Saya ingin tinggal di ingatan nenek yang manis seperti senyumnya.

Sayangnya, semakin hari, keberanian saya seolah tenggelam. Tetangga-tetangga saya ikut hanyut dalam arus zaman. Hari ini, ketika pulang, saya tidak lagi melihat asap mengepul, kecuali dari pembakaran plastik dan knalpot kendaraan. Satu-satunya tungku yang masih bisa saya temui, hanya di tempat penjual bubur pagi hari.

Di dapur Simbok Bubur ini, saya pun masih menemui panci besar dari tanah liat. Konon, panci tersebut yang membuat orang-orang ketagihan. Bubur yang dimasak dengan panci ini, rasanya jauh lebih enak dibandingkan dimasak dengan panci alumunium. Apalagi masaknya di atas tungku yang apinya dari pembakaran kayu. Ditambah lagi disiram dengan sambel tumpang. Behhh…hambok sumpah, rasane juoss tenan.

Seingat saya, bubur tahu ini harganya dua ribu rupiah sejak saya masih sekolah. Setelah saya kuliah dan jarang di rumah, saya kaget kalau harganya belum berubah. Kurang lebih, lima tahun sudah berlalu dan rasanya pun tetap begitu. Enak dan nagihnya itu loh, seperti genggaman tangan pertama dari orang yang akhirnya kamu cinta. Tidak akan pernah kau lupa.

Saya jadi suka membayangkan, lima tahun ke depan, ketika cita-cita saya menjadi kenyataan, apa iya harga bubur tahu masih dua ribu? Melihat apa yang sedang berlangsung hari ini, sepertinya tidak. Bubur instan semakin eksis. Minimarket juga sudah masuk desa. Jadi, lebih baik mempersiapkan diri untuk ikhlas menerima kenyataan yang ada.

Akhir-akhir ini, saya mencoba untuk kembali memberanikan diri. Seseorang yang kini dekat dengan saya, mempunyai cita-cita yang sama. Bukankah kalau sudah seperti ini tinggal dikuatkan upaya dan doanya?

Bercita-cita hidup di desa, bagi saya bukan sekadar iming-iming harga. Melainkan, satu cara untuk terus membarakan ingatan masa kecil yang bahagia. Ingatan yang terus saya jaga agar tidak luput dari segala upaya orangtua membesarkan anak-anaknya. Di sepetak tanah kecil itulah saya dilahirkan, di sepetak tanah kecil itu pula, masa tua saya gantungkan.

Terakhir diperbarui pada 8 Oktober 2021 oleh

Tags: BuburDesaMakanan Murah
Andrian Eksa

Andrian Eksa

Kelahiran Boyolali, 15 Desember. Saat ini menjadi seorang guru Bahasa Indonesia yang memilih tidak hanya sekadar mengajarkan kata, tapi juga merawatnya. Menyukai isu-isu terdekat di sekitarnya.

ArtikelTerkait

5 Hal Nggak Enaknya Jadi Guru di Desa terminal mojok

5 Hal Nggak Enaknya Jadi Guru di Desa

17 Desember 2021
8 Nama Desa di Banyuwangi yang Unik dan Nyeleneh Mojok.co

8 Nama Desa di Banyuwangi yang Unik dan Nyeleneh

22 Februari 2025
Derita Pengguna Supra Fit 2007 yang Tinggal di Desa Penuh Jalan Berlubang Honda EM1

Derita Pengguna Supra Fit 2007 yang Tinggal di Desa Penuh Jalan Berlubang

5 Mei 2022
Pesan buat yang Pelihara Ayam di Rumah: Jaga Baik-baik Ayam Kalian, Jangan Sampai Keluyuran di Tengah Jalan. Bikin Orang Lain Kecelakaan, lho!

Pesan buat yang Pelihara Ayam di Rumah: Jaga Baik-baik Ayam Kalian, Jangan Sampai Keluyuran di Tengah Jalan. Bikin Orang Lain Kecelakaan, lho!

19 November 2023
Membayangkan Hidup di 4 Desa Paling Populer dalam Drama Korea, Paling Enak Tinggal di Mana?

Membayangkan Hidup di 4 Desa Paling Populer dalam Drama Korea, Paling Enak Tinggal di Mana?

29 Juni 2023
5 Hal yang Bikin Saya Nggak Betah Tinggal di Desa

Romantisasi Desa Lama-lama Terdengar Begitu Menggelikan

16 April 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bakmi Krinjing, Kuliner Kulon Progo yang Kalah Pamor dari Bakmi Jawa tapi Sayang Dilewatkan Begitu Saja

Bakmi Krinjing, Kuliner Kulon Progo yang Kalah Pamor dari Bakmi Jawa tapi Sayang Dilewatkan Begitu Saja

14 Januari 2026
7 Lagu Bahasa Inggris Mewakili Jeritan Hati Dosen di Indonesia (Unsplash)

7 Lagu Bahasa Inggris yang Mewakili Jeritan Hati Dosen di Indonesia

16 Januari 2026
Alasan Lupis Legendaris Mbah Satinem Jogja Cukup Dikunjungi Sekali Aja Mojok.co

Alasan Lupis Legendaris Mbah Satinem Jogja Cukup Dikunjungi Sekali Aja

16 Januari 2026
Aku Cinta Kartasura, Kecuali Saat Hujan, Pasti Banjir!

Aku Cinta Kartasura, kecuali Saat Hujan, Pasti Banjir!

12 Januari 2026
Motor Supra, Motor Super yang Bikin Honda Jaya di Mata Rakyat (Sutrisno Gallery/Shutterstock.com)

Motor Supra Adalah Motor Super yang Mengangkat Nama Honda di Mata Rakyat

16 Januari 2026
Trowulan, Tempat Berlibur Terbaik di Mojokerto, Bukan Pacet Atau Trawas

Trowulan, Tempat Berlibur Terbaik di Mojokerto, Bukan Pacet Atau Trawas

12 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri
  • Gotong Royong, Jalan Atasi Sampah Menumpuk di Banyak Titik Kota Semarang
  • Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital karena Harga RAM Makin Nggak Masuk Akal
  • Honda Vario 150 2016 Motor Tahan Banting: Beli Ngasal tapi Tak Menyesal, Tetap Gahar usai 10 Tahun Lebih Saya Hajar di Jalanan sampai Tak Tega Menjual
  • Adu Jotos Guru dan Siswa di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur Akibat Buruknya Pendekatan Pedagogis, Alarm Darurat Dunia Pendidikan 
  • Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.