Ada satu momen yang akan membuat kita langsung tersadar kalau Lebaran kali ini terasa begitu membosankan. Polanya begini:
Lebaran hari pertama, kita sibuk persiapan salat Id sejak subuh. Setelah itu, momen sungkem dengan orang tua sambil nangis bombay. Bersamaan dengan itu, beban dosa-dosa kita luntur seketika. Katanya.
Acara lanjut dengan makan-makan, menikmati makanan khas Lebaran seperti opor, rendang, dan lain-lain. Selesai makan, kita sibuk menerima kunjungan dari tetangga sekitar atau berkeliling rumah tetangga di kampung untuk silaturahmi.
Setelah waktu menunjukkan lewat pukul 12 siang di hari pertama Lebaran, kamu rebahan di karpet. Kegiatanmu adalah menonton rangkuman berita Lebaran di TV. Biasanya, ini momen yang pas untuk mengedit foto-foto bareng keluarga inti buat di-share ke media sosialmu plus tambahan caption khas “Mohon Maaf Lahir Batin dan Met Idul Fitri”.
Tidak lupa, setoples cookies kastengel dan nastar menemani rebahan kamu. Kita melihat acara TV, jajanan, menu makanan, yang itu-itu saja, seluruh aktivitas yang sama berulang. Jika kamu merasakan semua hal yang saya sebut. Saya ucapkan, “Selamat! Anda mengalami sindrom Lebaran Membosankan”.
Lebaran yang membosankan dan kamu nggak sendirian
Eitss, tunggu dulu. Ada kabar baiknya. Iya, kamu tidak sendirian. Kenapa? Karena tandanya, kamu memasuki fase pendewasaan.
Sebuah fase yang bahkan lebih pahit daripada resep obat puyer. Pertanyaan kenapa kok bisa membosankan? Masalah utama dari sindrom Lebaran membosankan adalah bahwa sebagian besar dari kita terjebak pada ritual yang berulang.
Semuanya sudah bisa kita prediksi. Ayo kita coba urutan aktivitasnya! Bangun pagi, mandi, pakai baju Lebaran hasil uang beli dari THR, buru-buru berangkat salat Id, sungkem, foto keluarga dengan posenya dari tahun-ketahun itu-itu saja (yang berubah wajahmu tambah semakin tua), lalu makan hidangan Lebaran.
Saya tidak akan menjelaskan lebih lanjut. Selain sudah tidak sanggup, kamu sudah dapat memprediksi aktivitas berikutnya sebelum saya selesai menuliskannya.
Kebosanan itu muncul juga karena rasa penasaran kita sudah mati
Kita sudah hafal setiap sudut rumah nenek, percakapan apa yang terlontar sewaktu momen Lebaran, hingga warung mie ayam bakso mana yang selalu buka di hari pertama.
Kita juga hafal betul sudut-sudut rumah, kebun belakang yang dulu semasa kecil sebagai area bermain, benda apa saja dalam imajinasi kita bisa menjadi alat bermain yang seru.
Kini, kita hanya bisa mengenangnya dan justru berubah menjadi pengingat kalau kita sudah dewasa. Saat dewasa, justru tidak banyak aktivitas menyenangkan yang bisa kita lakukan. Kebanyakan dari kita hanya akan duduk, makan, mengobrol, atau bahkan melamun mikirin kerjaan yang numpuk setelah libur Lebaran selesai.
Tanggung jawab sosial ketika Lebaran
Fase dewasa berarti kita bukan lagi sebagai penerima angpao Lebaran dari Tante, Bulek, Paklek, Pakde, Uti, tapi kitalah sekarang berperan menjadi mereka. Kitalah sekarang yang harus memikirkan berapa dana untuk budget angpao Lebaran, jajanan apa yang akan disuguhkan, dan keperluan pernak-pernik lainnya.
Tanggung jawab sosial beralih begitu saja tanpa kita sadari. Lebaran yang dulu membuat kita happy tanpa beban sekarang berubah menjadi beban pikiran. Kita justru ingin momen ini segera berlalu, berganti ke tanggal gajian berikutnya.
Sewaktu kecil, tidak peduli pertanyaan orang lain ke kita, dan kita pun bebas tanpa beban menjawab pertanyaan dengan asbun sambil cengengesan dan disambut gelak tawa keluarga yang mendengarnya. Ketika dewasa, kita sadar pertanyaan yang diarahkan ke kita bukanlah seperti pertanyaan kepada anak kecil.
Pertanyaan yang menghujam ke kita memiliki seribu makna tersembunyi. Terasa seperti audit internal dadakan yang membuat batin jadi drop kelelahan dan ingin berteriak, “Cukup hentikan!”
Tanpa makna, cuma repetitif
Fase pendewasaan akan menuntun kita pada sebuah kesadaran. Kita mulai sadar banyak hal di dunia ini sejatinya hanya bersifat repetitif, minim makna, dan hanya sekadar menjalankan tradisi.
Menjadi dewasa berarti belajar berdamai dengan rasa bosan. Jika memikirkannya ulang, Lebaran yang gitu-gitu aja sejatinya adalah sebuah kemewahan yang patut disyukuri.
Setidaknya, kita masih bisa melakukan ritual yang itu-itu saja lengkap bersama keluarga dengan sajian kuah kental opor dan lauk rendang yang penuh kolesterol. Bersyukur, kamu tidak makan obat puyer yang pahitnya naudzubillah.
Penulis: Rizal Widiya P
Editor: Yamadipati Seno
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
