Latihan Ujian CPNS Bikin Kena Mental karena Soal-soal TWK yang Absurd

Latihan Ujian CPNS Bikin Kena Mental karena Soal-soal TWK yang Absurd Mojok.co

Latihan Ujian CPNS Bikin Kena Mental karena Soal-soal TWK yang Absurd (unsplash.com)

Mengerjakan soal-soal TWK saat latihan ujian CPNS bikin pening. 

‎Lini masa media sosial saya sedang dibanjiri percakapan tentang seleksi CPNS 2026. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB) telah memberi sinyal rekrutmen untuk calon ASN 2026, tapi belum ada berita resmi mengenai jadwal pelaksanaannya. Menteri KemenPAN-RB, Rini Widyantini, telah menginstruksikan seluruh instansi untuk mengajukan usulan kebutuhan formasi. Lebih jauh, bakal ada sekitar 160.000 formasi yang dibuka. 

‎Sebagai sarjana yang hampir menyerah mencari 19 juta lapangan pekerjaan, berita mendengar berita ini adalah sebuah anugerah. Mengetahui informasi pelaksanaan seleksi CPNS akan hadir tahun ini saja sudah menjadi obat pelipur lara. Apalagi, ditambah ada ratusan ribu formasi yang terbuka. Saya yakin, bukan cuma saya yang bahagia mengenai kabar ini. 

‎Mengapa mesti ikut ujian CPNS? 

Bekerja sebagai PNS masih menjadi pilihan karier primadona di kalangan kelas menengah ke bawah. Selain dapat mengubah nasib keluarga seketika dan menciptakan kehidupan yang stabil hingga masa tua kelak, profesi ini merupakan wujud konkrit dari sistem meritokrasi. Sebuah jalur yang memberi peluang kerja masyarakat secara adil di tengah nepotisme yang telah menjalar ke seluruh sendi-sendi kehidupan pekerjaan. 

Ibarat kata, kita bertarung satu sama lain dalam medan perang. Tidak peduli kamu sekaya apa, anaknya siapa, atau lulusan mana. Yang bisa kita andalkan hanyalah diri sendiri, doa orang tua, dan Tuhan.

Saya mempersiapkan diri sedini mungkin mengingat tes ini merupakan pengalaman pertama saya mencoba ikut seleksi CPNS. Saya mulai menonton trik-trik menjawab soal di Youtube, ikut Tryout (TO), hingga belajar teknis ujian dari cerita orang-orang. 

Soal-soal TWK yang paling susah 

Dari tiga kompetensi dasar yang diujikan, saya merasa bahwa belajar memahami Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) sulitnya minta ampun ketimbang Tes Intelegensi Umum (TIU) dan Seleksi Kompetensi Bidang (SKB). 

TIU dalam seleksi CPNS menyajikan soal yang cenderung sama dari tahun ke tahun, terbaca polanya. Soal-soal macam ini juga pernah saya pelajari ketika masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN).  Secara garis besar mirip-mirip dengan soal penalaran matematika UTBK-SNBT dan sub tes kuantitatif PAPs UGM.

Sementara SKB menuntut kita “berpura-pura” menjadi aparatur negara yang maha ideal. Setiap jawaban memiliki poin tersendiri dan itu membutuhkan penalaran yang baik untuk memilih opsi paling idealis. Nasihat dari teman saya yang telah menjadi PNS, dimensi ini merupakan lumbung poin. Itu mengapa peserta ujian diharapkan mengambil kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Upayakan jangan sampai mengambil jawaban dengan poin di bawah 3. 

Akan tetapi, ketika berlatih mengerjakan TWK, saya merasa soal-soalnya benar-benar berada di level lain. Soal TWK menuntut kita menjadi warga negara yang baik dengan memahami bentuk implementasi dari nilai-nilai kebangsaan. Selain itu, kita mesti punya landasan pengetahuan yang kokoh mengenai sejarah, politik, hukum, dan kebudayaan Indonesia. 

Jawaban yang subjektif

Kata orang-orang, tes ini bisa dilalui dengan banyak-banyak membaca dan memupuk perspektif warga negara yang baik. Begitulah kata content creator bimbingan CPNS. Saya mencoba tips ini pada TO pertama. Dan, hasilnya hanya benar setengah dari total 30 soal TWK. Ya, namanya juga teori memang sering meleset dari harapan ketika diujikan di lapangan. 

Akan tetapi, ketika saya mencoba menganalisis opsi jawaban benar dan pembahasannya dengan cermat, saya merasa hampir seluruh soal bisa diperdebatkan jawabannya. Artinya, tidak ada jawaban yang benar-benar tepat, semuanya punya potensi tidak tepat.  

Selain itu, di tengah-tengah belajar, terlintas di pikiran ini, apakah mereka yang bekerja sebagai PNS benar-benar memahami dan menerapkan jawaban-jawaban soal TWK. Apakah para aparat dan elit pemerintah yang punya posisi strategis mengambil keputusan penting juga lolos TWK sebelum menduduki jabatannya saat ini? Dan banyak pemikiran negatif lain.

Saya mencoba membuang jauh-jauh pikiran itu. Saya tidak mau punya mental menyalahkan pihak atau hal lain ketika gagal. Namun, semakin saya menyelami jawaban tiap jawaban, kok sisi “akal-akalan” dari soal-soal TWK ini semakin kuat ya. 

Jujur, belajar TWK membuat saya, dan mungkin banyak orang lain “kena mental”. Selain pusing dengan opsi jawaban yang mirip-mirip, TWK membuat peserta merasa tidak jadi warga negara yang baik. Terlebih kalau skor atau nilai di bagian ini rendah. Rasanya ingin menyerah saja, tapi kemudian diingatkan kalau 19 juta lapangan pekerjaan lain belum terlihat hilalnya, ikut seleksi CPNS (dan menghadali soal-soalnya yang ajaib) adalah pilihan paling masuk akal saat ini. 

Penulis: Muhammad Iqbal Pamungkas
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Penyesalan Pindah Kerja dari Jakarta ke Jogja: Selain Gaji Kecil, Budaya Pekewuh Ternyata Memperlambat Kerjaan.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version