Larangan Bawa Tumbler di Perpustakaan Daerah Itu Aneh, Minum Saja Dipersulit, Gimana Orang Mau ke Perpustakaan?

Saya Lulusan Ilmu Perpustakaan, tapi Saya Nggak Mau Jadi Pustakawan Sekolah, Isinya Cuma Makan Hati! perpusnas

Saya Lulusan Ilmu Perpustakaan, tapi Saya Nggak Mau Jadi Pustakawan Sekolah, Isinya Cuma Makan Hati!

Entah kapan terakhir kali saya mengunjungi perpustakaan milik Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah. Bahkan saat saya masih menjadi mahasiswa pun saya jarang ke perpus milik pemerintah alasannya beragam. Tapi dua hal yang paling utama bagi saya adalah koleksi buku dan tempat yang membosankan dan waktu operasional yang tidak fleksibel.

Saya akhirnya mengunjungi kembali perpustakaan milik Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah milik Pemerintah Kota Malang. Hal ini lantaran sudah berbulan-bulan saya tinggal di Malang tapi belum mengunjungi perpustakaan yang jaraknya hanya 1 km dari kos saya itu. Selain itu saya mendengar kabar dari seorang teman kalau di perpustakaan ini tersedia novel dari penulis yang sejak lama ingin saya baca yakni novel dari penulis Marga T.

Uniknya saat saya sedang di perpustakaan yang letaknya di Jalan Ijen itu lewat tulisan di akun Thread saya berjudul Perpustakaan Kota Malang Payah, Bikin Kecewa yang ditulis oleh Ferika Sandra. Membaca itu saya tertawa kecil. Sebab, baru saja saya mengisi formulir yang harus diisi sebelum saya diperbolehkan untuk masuk ke ruang baca.

Masak minum aja dipersulit?

Selain masalah formulir, masalah lain yang saya hadapi selama di dalam perpustakaan adalah kehausan. Saya jadi ingat momen saat mengunjungi perpustakaan milik Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah baik milik Pemprov Jawa Timur maupun Pemkot Surabaya daerah asal saya. Di sana juga tidak diperbolehkan membawa tumbler atau botol minum yang berisi air mineral.

Mengapa perpustakaan milik pemerintah ini tidak memperbolehkan pengunjungnya membawa tumbler atau botol minum?

Sedangkan di perpustakaan independen misalnya yang sering saya datangi di Surabaya adalah C2O atau Omah Tua dan di Malang Rumah Budaya Ratna, Omah Wiro Margo (boleh membawa minum tapi tidak boleh di area baca, hanya saja tempat penitipan tas dan ruang baca tidak jauh sehingga masih bisa minum dan makan dengan leluasa bahkan disediakan area makan dan minum) dan Bintang Kecil misalnya memperbolehkan para pengunjung membawa minum bahkan makan?

Bikin tambah males ke perpustakaan milik pemerintah

Selain masyarakat yang menunjukkan ketidakpercayaan dengan pemerintah termasuk di dalamnya melalui instansi-instansi pemerintah, ternyata pelarangan membawa minum di ruang baca perpustakaan daerah ini menunjukkan tidak hanya masyarakat yang tidak percaya kepada pemerintah. Tapi sebaliknya, pemerintah juga tidak percaya kepada masyarakat.

Kalau dalihnya takut air tumpah mengenai buku, aneh. Apakah tidak bisa jika ada kejadian air tumpah mengenai buku dimonitor saja dan diberi sanksi? Toh kami sudah memberikan data untuk keanggotaan. Bukankah artinya data itu bisa jadi bekal untuk monitoring buku apa saja yang kami baca dan pinjam?

Apalagi setiap mau baca buku ada proses screening dulu. Tidakkah itu bisa jadi modal untuk melakukan pengecekan kondisi buku setiap buku dibaca oleh pengunjung? Kalau data kami cuman buat kuantitas aja tapi tidak diolah, ya sama aja seperti konter tempat isi pulsa, wkwkwk.

BACA JUGA: Kuliah Ilmu Perpustakaan Saya Kira Remeh dan Gampang, Ternyata Skripsinya Mumet Banget karena Bukan tentang Perpus

Aneh, beneran aneh

Saya tidak paham sekali bagaimana buku-buku ini dipantau karena saya punya seorang teman yang mengelola perpustakaan online. Di mana ia meminjamkan bukunya kepada seseorang yang ia screening secara online.

Dalam peraturannya ketika buku dipinjam dan saat dikembalikan ada perubahan misalnya kotor, rusak, atau misalnya ketumpahan atau kecipratan air maka penyewa harus diberi sanksi membayar denda. Apakah perpustakaan daerah tidak bisa begini Pak/ Bu?

Dilarang membawa air minum, artinya saya bolak-balik naik turun tangga menuju area penitipan barang untuk sekedar minum dari tumbler yang saya bawa dari kos. Kondisinya memang saat itu saya habis jalan kaki dari kos ke perpus sehingga membuat saya kekurangan cairan. Dan selama membaca pun saya rawan mengantuk karena dehidrasi.

Dengan tidak diperbolehkannya pengunjung perpustakaan membawa air minum dalam botol atau tumbler yang dibawa sendiri semakin membuat saya malas mengunjungi perpustakaan daerah. Sudah mah penataannya awut-awutan, koleksinya kadang membosankan. Plus jam operasionalnya tidak ramah, ditambah aturan dilarang bawa air minum dalam botol sendiri.

Penulis: Wahyu Tri Utami
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Perpustakaan Sekolah Sepi Bukan karena Minat Baca Rendah, tetapi (Dibikin) Nggak Bisa ke Perpustakaan!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version