Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

3 Kelakuan Lulusan Ilmu Perpustakaan yang Membuat Saya Malu

Maulana Hasan oleh Maulana Hasan
2 Juli 2026
A A
Saya Lulusan Ilmu Perpustakaan, tapi Saya Nggak Mau Jadi Pustakawan Sekolah, Isinya Cuma Makan Hati! perpusnas

Saya Lulusan Ilmu Perpustakaan, tapi Saya Nggak Mau Jadi Pustakawan Sekolah, Isinya Cuma Makan Hati!

Share on FacebookShare on Twitter

Salah satu konsekuensi menjadi lulusan Ilmu Perpustakaan adalah saya jadi punya dua pekerjaan sekaligus: membela profesi pustakawan dari stereotip masyarakat, dan mengelus dada melihat tingkah sebagian sesama alumninya.

Sudah dua tahun saya menyandang gelar S.IP sekaligus bekerja sebagai pustakawan sekolah. Harusnya saya bangga. Ilmu, gelar, dan pekerjaan saya berada di jalur yang sama. Sayangnya, rasa bangga itu belakangan agak tergerus—bukan karena orang mengira pustakawan cuma tukang jaga buku, melainkan karena ulah orang-orang yang justru pernah belajar di jurusan yang sama.

Lulusan Ilmu Perpustakaan meremehkan Pustakawan Jalur Diklat

Saya sering melihat alumni Ilmu Perpustakaan yang menganggap posisi pustakawan semestinya diisi oleh lulusan Ilmu Perpustakaan saja. Seolah-olah orang yang masuk lewat jalur diklat cuma pemain cadangan yang kebetulan ikut pertandingan.

UU Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan mengakui dua jalur untuk menjadi pustakawan: pendidikan formal dan diklat. Artinya, negara sendiri tidak pernah menganggap profesi ini sebagai hak eksklusif lulusan Ilmu Perpustakaan saja. Siapa pun bisa menjadi pustakawan selama syaratnya terpenuhi.

Konsekuensinya, lulusan ilpus tidak hanya bersaing dengan sesama alumni, tetapi juga dengan pustakawan jalur diklat. Dan, jujur saja, di lapangan tidak selalu lulusan ilpus yang unggul.

Di lapangan, tidak sedikit alumni ilpus yang kalah saing. Mereka beranggapan bahwa seharusnya sarjana ilmu perpustakaan lah yang mengisi posisi kosong pustakawan. Sebagian merasa lebih berkompeten dibandingkan non-ilpus yang latar pendidikannya bukan perpustakaan.

Padahal, jika bicara skill, belum tentu jebolan ilpus bisa lebih jago dari yang non-ilpus. Mereka yang menjadi pustakawan jalur diklat, bisa jadi jauh lebih terampil soal pekerjaan di lapangan. Mereka juga bisa menguasai skill yang dipunya lulusan ilpus seperti penomoran klasifikasi.

Merasa jago cuma karena gelar itu bikin malu. Takutnya, pas masuk dunia kerja, yang kelihatan justru banyak nggak bisanya.

Baca Juga:

Perpustakaan Kota Pekalongan berbenah, akhirnya ada ruang publik yang bikin betah 

Perpustakaan Kota Batu salah satu tempat terbaik di kota ini, sayang belum banyak orang yang tahu dan mengunjunginya

Bangga memamerkan ketidakmampuan sendiri 

Nomor dua ini masih ada sangkut pautnya dengan sikap nomor satu. Karena terlanjur merasa spesial, sebagian lulusan Ilmu Perpustakaan malah dengan bangga memamerkan hal-hal yang mestinya bikin kita belajar lebih rendah hati. Niatnya menunjukkan superioritas akademik, malah mempertontonkan kelemahan diri sendiri. Salah satu yang sering dibahas itu tentang klasifikasi DDC.

Dan, jujur saja, saya pun belum sepenuhnya mahir mengklasifikasikan semua subjek dengan DDC. Bedanya, saya memilih menganggapnya sebagai pekerjaan rumah, bukan sebagai alasan untuk merasa lebih unggul dari orang lain.

Saya merasa malu sekali, ketika baca postingan yang senada begini: “Saya saja lulusan Ilmu Perpustakaan belum mahir klasifikasi, apalagi yang cuma ikut diklat.”

Lah, kalau empat tahun kuliah saja belum bisa, bukankah itu mestinya jadi alasan untuk lebih rendah hati? Entah sejak kapan ‘ketidakmampuan’ berubah menjadi bukti superioritas akademik. Logikanya mirip orang yang bilang, “Saya lulusan sekolah memasak saja masih sering gosong bikin nasi, apalagi yang belajar otodidak.”

BACA JUGA: Kuliah Ilmu Perpustakaan Saya Kira Remeh dan Gampang, Ternyata Skripsinya Mumet Banget karena Bukan tentang Perpus

Merasa cukup dengan skill kuliahan di Ilmu Perpustakaan

Penyakit lain yang saya lihat adalah perasaan bahwa empat tahun kuliah sudah cukup untuk menghadapi dunia kerja. Seolah-olah wisuda merupakan garis finis, bukan garis start untuk belajar lebih serius.

Saya punya kenalan, lulusan ilpus yang kelewat percaya diri. Saya akui orangnya pintar dan pekerja keras, tapi untuk waktu lama dia belum diterima kerja juga. Jujur, saya sendiri merasa heran. Namun, keheranan saya sirna ketika melihat cover letter, dan resume yang dia pakai melamar.

Resume dan cover letternya berantakan. Tidak sesuai dengan posisi yang dilamar, minim capaian, dan terasa seperti dibuat dengan asumsi bahwa gelar sarjana sudah cukup menjadi nilai jual utama.

Di lain kesempatan, saya pernah menjumpai lulusan Ilmu Perpustakaan yang public speakingnya masih berantakan; dan nggak tahu caranya mengembangkan program di perpustakaan.

Jujur saja, saya juga pernah melakukan kesalahan yang nomor 3 ini terutama bagian public speaking. Saya merasa ilmu yang saya pelajari di kampus sudah lebih dari cukup dan tidak perlu belajar hal lain. Padahal, perkuliahan cuma memberikan dasar-dasarnya saja. Alhasil, dunia kerja menyadarkan saya dengan cara paling tidak enak dan bikin malu seumur hidup.

Hanya tiket masuk dunia kerja, bukan medali

Pada akhirnya, gelar Sarjana Ilmu Perpustakaan hanyalah tiket masuk dunia kerja, bukan medali yang membuat kita otomatis lebih unggul dari orang lain. Jadi, daripada sibuk meremehkan pustakawan jalur diklat, memamerkan ketidakmampuan sendiri, atau merasa cukup dengan ilmu kampus, mungkin kita perlu lebih banyak belajar dan sedikit menurunkan ego.

Toh, pengunjung perpustakaan tidak pernah bertanya kita lulusan mana atau masuk lewat jalur apa. Mereka cuma ingin dibantu menemukan buku, informasi, atau dilayani sepenuh hati. Dan untuk urusan itu, ego akademik seringkali tidak berguna dibanding kemauan untuk terus belajar.

Penulis: Maulana Hasan
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Lulusan Ilmu Perpustakaan Dulu Dianggap Cuma Bakal Jadi Penjaga Perpus tapi Ternyata Mudah Diterima Kerja di Bidang Lain Bergaji Besar, Kuliah Nggak Cuma Diajari Nata Buku!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 2 Juli 2026 oleh

Tags: Ilmu Perpustakaanjurusan ilmu perpustakaanPerpustakaan
Maulana Hasan

Maulana Hasan

Content creator dan calon pustakawan.

ArtikelTerkait

Pengguna iPusnas Harus Tabah seperti Fans Arsenal karena Aplikasi Perpustakaan Digital Ini Bikin Mengelus Dada padahal Sudah Lama Diluncurkan

Pengguna iPusnas Harus Tabah seperti Fans Arsenal karena Aplikasi Perpustakaan Digital Ini Bikin Mengelus Dada padahal Sudah Lama Diluncurkan

22 Mei 2024
Perpustakaan Grhatama Pustaka, Tempat Healing Terbaik Mahasiswa Jogja

Perpustakaan Grhatama Pustaka, Tempat Healing Terbaik Mahasiswa Jogja

27 Maret 2023
Aturan Tidak Tertulis Perpustakaan Digital yang Kerap Disepelekan Pengunjungnya Mojok.co

Aturan Tidak Tertulis Perpustakaan Digital yang Kerap Disepelekan Pengunjungnya

29 Desember 2023
Disarpus Kota Bandung, Perpustakaan Bagus, tapi Fasilitasnya Tidak Berfungsi Sebagaimana Mestinya, Masak Komputer Nggak Bisa Dipakai Semua?

Disarpus Kota Bandung, Perpustakaan Bagus, tapi Fasilitasnya Tidak Berfungsi sebagaimana Mestinya, Masak Komputer Nggak Bisa Dipakai Semua?

2 Juli 2024
skripsi ratusan halaman data skripsi kutipan dalam karya tulis skripsi dibuang mojok

Skripsi Bukan Dijual, Bisa Jadi Masuk Jadwal Retensi Arsip (JRA)

23 Juli 2020
Ide Membangun 10 Ribu Perpustakaan Desa Bukti Perpusnas Gagal Paham dengan Kondisi Literasi di Desa Mojok.co

Ide Membangun 10 Ribu Perpustakaan Desa Bukti Perpusnas Gagal Paham dengan Kondisi Literasi di Desa

24 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

3 hal yang mendorong saya meninggalkan Alfagift dan beralih Klik Indomaret walau lebih mahal Mojok.co

3 hal yang mendorong saya meninggalkan Alfagift dan beralih Klik Indomaret walau lebih mahal

26 Juli 2026
Kebodohan pembeli soto ayam yang bikin saya muak dan jijik (Wikimedia Commons)

Akulah pelanggan soto ayam yang marah itu gara-gara konsumen nggak punya hati yang bikin muak, mual, dan jijik

26 Juli 2026
Penderitaan orang Serang yang kerja di luar kota: pakai KRL susah, kereta lokal pun nggak membantu

Penderitaan orang Serang yang kerja di luar kota: pakai KRL susah, kereta lokal pun nggak membantu

22 Juli 2026
Jemuran, hal sepele yang bisa jadi sumber konflik penghuni kos Mojok.co

Jemuran, hal sepele yang bisa jadi sumber konflik penghuni kos

20 Juli 2026
Sleman Tanpa UGM dan UNY Cuma Jadi Kabupaten Sunyi dan Mati

Sleman jadi besar dan hebat justru karena tidak punya “pusat kota”, kemajuan tersebar merata di segala penjurunya

26 Juli 2026
13 Tabiat Mahasiswa KKN yang Dibenci Warga Desa, Jangan Dilakukan atau Kalian Jadi Musuh Bersama Mojok.co

Apa salahnya mahasiswa kkn di kota? Mereka sedang belajar, bukan cuma nyari enak

20 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.