Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Lamongan Memang Maido-Able, sebab Lamongan Problematik dan Memprihatinkan

M. Afiqul Adib oleh M. Afiqul Adib
30 Desember 2025
A A
Lamongan Memang Maido-Able, sebab Lamongan Problematik dan Memprihatinkan

Lamongan Memang Maido-Able, sebab Lamongan Problematik dan Memprihatinkan

Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa waktu kemarin, postingan saya seputar Lamongan menuai banyak komentar. Salah satu yang paling membekas adalah, “Lamongan, rek, beritane elek tok”, ucap salah satu akun. Tentu saya ketawa. Sebab memang demikian. Ini terlalu jujur untuk dibantah.

Kalian boleh mencoba cek akun-akun seputar Lamongan di Instagram. Tiap hari isinya seputar jalan rusak, banjir, kecelakaan, atau berita kriminal. Hampir tidak ada narasi positif yang bisa dibanggakan. Seolah-olah Lamongan ini hidup dalam siklus konten keprihatinan yang nggak ada tamatnya.

ADVERTISEMENT

Meski demikian, sebagai putra daerah, menurut keyakinan saya, ini bukan karena Lamongan tidak punya potensi, tapi karena tidak benar-benar diurus. Ironisnya, alih-alih melebarkan daun telinganya, pemerintah daerah malah seperti menutup rapat-rapat gendang telinga. 

Jadi ketika ada yang bilang Lamongan seperti daerah tanpa pemerintah daerah, itu bukan karena tidak cinta kampung halaman. Tapi selama ini seakan warga terus yang mengurus semuanya sendiri. Lantas ke mana pemimpin daerahnya?

Yang menyedihkan, warga Lamongan seolah sudah terbiasa dengan keadaan ini. Kami seperti dipaksa mandiri. Ketika jalan rusak, ya tambal sendiri. Ketika ruang publik minim, ya nongkrong di pinggir jalan. Dan ketika tak ada angkutan umum, ya naik motor. Bila perlu bonceng tiga. Sungguh, etos swadaya warga memang membanggakan.

Media sosial bukan biang masalah, tapi cerminan

Sering kali media sosial dituding sebagai biang kerok citra buruk Lamongan. Katanya, netizen kebanyakan nyinyir, doyan mengeluh, dan gemar membesar-besarkan masalah. Padahal, media sosial tidak pernah menciptakan lubang di jalan, tidak menurunkan kualitas drainase, apalagi membuat fasilitas publik tak terurus. Media sosial hanya memotret apa yang sudah ada.

Kalau yang muncul setiap hari adalah keluhan, itu karena memang itulah yang dialami warga. Sulit berharap narasi positif tumbuh dari realitas yang timpang. Orang tidak mungkin memaksa bangga pada trotoar yang tidak ramah pejalan kaki, taman kota yang minim perawatan, atau monumen berdebu yang berdiri tanpa fungsi.

Di titik ini, media sosial justru bekerja sebagaimana mestinya: menjadi ruang publik alternatif ketika kanal formal aspirasi tidak berjalan. Warga bersuara bukan karena ingin viral, tapi karena ingin didengar. Sayangnya, suara itu sering mental kembali sebagai arsip konten, bukan bahan evaluasi kebijakan.

Baca Juga:

Krisis Identitas wingko babat: jajanan asli Lamongan, dijajah Semarang, dicaplok Jogja

Lamongan butuh dipimpin Yusril Fahriza agar makin maju dan kalcer, dan saya serius!

Lamongan memang maido-able, no debat! 

Entahlah, Lamongan memang maido-able. Kalau Jogja dikenal tiap sudutnya penuh kenangan, Lamongan tiap sudutnya penuh bahan maido. Jalan rusak, monumen nganggur, program kerja yang gitu-gitu saja, dan prestasi daerah yang sulit disebutkan satu per satu karena memang jarang terdengar.

Yang sering dibanggakan justru berasal dari swasta. WBL misalnya, itu dikelola swasta. Pemerintah daerah seolah lebih sibuk hadir di acara, memberi sambutan singkat, lalu pulang. Yang penting fotonya nampang. Lumayan buat stok konten.

Bupatinya pun terasa begitu-begitu saja. Datang, meresmikan, tersenyum, selesai. Tidak ada gebrakan yang benar-benar terasa dampaknya ke kehidupan warga sehari-hari.

Maido sebagai hiburan terakhir warga

Pada akhirnya, satu-satunya “kebahagiaan” warga Lamongan mungkin memang sumber maidonya yang tak pernah habis. Karena kalau tidak ditertawakan, realitas ini terlalu getir untuk ditelan.

Namun maido seharusnya jadi peringatan, bukan malah jadi pembiaran. Media sosial sudah cukup lantang bicara. Tinggal satu pertanyaan tersisa: apakah pemerintah daerah mau mendengar, atau tetap memilih diam seolah-seolah baik-baik saja?

Kalau jawabannya yang kedua, ya wajar saja kalau Lamongan terus dikenal sebagai daerah yang rajin viral, tapi malas berbenah. Dan terakhir, adanya Richeese Factory di suatu daerah itu bukan berarti tanda kemajuan, tulung cara mikirnya diperbaiki ya wahai pemangku kebijakan!

Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Perbaikan Jalan di Lamongan Selatan Memang Layak Diapresiasi, tapi Jangan Selebrasi Dulu, Wahai Pemerintah Daerah!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 30 Desember 2025 oleh

Tags: berita lamongan hari inikabar lamongan hari inilamonganmedia sosial lamongan
M. Afiqul Adib

M. Afiqul Adib

Seorang tenaga pendidik lulusan UIN Malang dan UIN Jogja. Saat ini tinggal di Lamongan. Mulai suka menulis sejak pandemi, dan entah kenapa lebih mudah menghapal kondisi suatu jalan ketimbang rute perjalanan.

ArtikelTerkait

Nelayan, Profesi Paling Makmur di Lamongan, Awak Kapal Gajinya Minimal 3 Juta!

Nelayan, Profesi Paling Makmur di Lamongan, Awak Kapal Gajinya Minimal 3 Juta!

21 Agustus 2023
Entah Kenapa Mendengar Nama Kota Lamongan Saja Sudah Bikin Lapar mojok.co/terminal

Entah Kenapa Mendengar Nama Kota Lamongan Saja Sudah Bikin Lapar

12 Maret 2021
Sego Boran, Kuliner Legendaris yang Cuma Ada di Lamongan

Sego Boran, Kuliner Legendaris yang Cuma Ada di Lamongan

25 Mei 2022
Lamongan Punya Unisla yang “Keanehannya” Sulit Disaingi Kampus-kampus Lain Mojok.co

Lamongan Punya Unisla yang “Keanehannya” Sulit Disaingi Kampus Lain

16 September 2025
Culture Shock Orang Lamongan Menikah dengan Orang Mojokerto: Istri Nggak Suka Ikan, Saya Bingung Lihat Dia Makan Rujak Pakai Nasi

Culture Shock Orang Lamongan Menikah dengan Orang Mojokerto: Istri Nggak Suka Ikan, Saya Bingung Lihat Dia Makan Rujak Pakai Nasi

2 Desember 2025
Panduan Memilih Lele di Tenda Lamongan yang Sudah Pasti Enak dan Nggak Bau Mojok.co

Panduan Memilih Lele di Tenda Lamongan yang Sudah Pasti Enak dan Nggak Bau

6 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Setelah Membelah Sleman-Bantul dan Melawan Kemacetan Jogja, Saya Nyatakan Yamaha Aerox Alpha Motor Terbaik di Masa Kini

Setelah Membelah Sleman-Bantul dan Melawan Kemacetan Jogja, Saya Nyatakan Yamaha Aerox Alpha Motor Terbaik di Masa Kini

17 Juli 2026
4 jajanan tradisional Bandung yang bikin orang Semarang gagal paham. Nama dan tampilan mirip, tapi rasanya jauh berbeda Mojok.co

4 kuliner Bandung yang bikin orang Semarang gagal paham. Nama dan tampilan mirip, tapi rasanya berbeda

16 Juli 2026
Nanas madu Pemalang sering diremehkan karena ukurannya, padahal inilah oleh-oleh yang paling layak dibawa pulang

Nanas madu Pemalang sering diremehkan karena ukurannya, padahal inilah oleh-oleh yang paling layak dibawa pulang

18 Juli 2026
Rezeki memang tak melulu soal uang, tapi senang juga rasanya kalau dapat duit bertubi-tubi Mojok.co

Rezeki memang tak melulu soal uang, tapi senang juga rasanya kalau dapat duit bertubi-tubi

18 Juli 2026
Drama pembayaran tunai ojol, uang kembalian jadi menguras waktu dan energi saya Mojok.co

Niat beli makanan lewat layanan pesan antar ojol supaya praktis, eh berujung repot karena driver tak punya kembalian

20 Juli 2026
Membayangkan Jatinangor Tanpa Unpad, ITB, IPDN, dan Ikopin: Nggak Terkenal, Nggak Berkembang, Pokoknya Menyedihkan sumedang, bandung

Berhentilah menyebut Jatinangor sebagai Bandung coret, tolong hormati Sumedang

15 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.