Jawaban untuk Pertanyaan Kenapa Kutoarjo Punya Alun-alun Sendiri padahal Masuk Purworejo

Jawaban untuk Pertanyaan Kenapa Kutoarjo Punya Alun-alun Sendiri padahal Masuk Purworejo

Jawaban untuk Pertanyaan Kenapa Kutoarjo Punya Alun-alun Sendiri padahal Masuk Purworejo (SatelitBM via Wikimedia Commons)

Kalau dilihat dari peta administrasi, urusannya sederhana. Kutoarjo adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Purworejo. Selesai. Tetapi begitu kaki benar-benar menginjak tanahnya, logika peta itu langsung goyah.

Di Kutoarjo ada sebuah alun-alun. Lengkap dengan ruang terbuka luas, pusat keramaian, dan fungsi sosial yang biasanya cuma dimiliki kota inti. Pertanyaannya bukan lagi “kok bisa”, tapi sejak kapan Kutoarjo hidup seperti kota sendiri?

Jawabannya tidak bisa dilepaskan dari sejarah

Menurut Wikipedia, Kutoarjo memang tercatat sebagai town and district yang berada di dalam Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Secara resmi, statusnya bukan kota otonom, apalagi ibu kota kabupaten. Namun catatan administratif itu hanya menjelaskan keadaan hari ini, bukan perjalanan masa lalu yang membentuk wajah Kutoarjo seperti sekarang.

Baca juga: Uniknya Kutoarjo, Sebuah Kota yang Menghadapi Krisis Identitas.

Dalam sejarahnya, ia bukan wilayah pinggiran yang tumbuh belakangan. Pada masa kolonial Belanda, wilayah ini pernah menjadi pusat pemerintahan lokal, dikenal sebagai bagian dari Kabupaten atau Kadipaten Semawung. Status ini membuat Kutoarjo berkembang dengan pola kota administrasi Jawa. Ada pusat pemerintahan, permukiman padat, aktivitas ekonomi, dan tentu saja ruang publik utama.

Ketika pada tahun 1934 wilayah Semawung dilebur ke dalam Kabupaten Purworejo, status administratifnya memang turun. Tetapi struktur kotanya tidak ikut dihapus.

Di sinilah Alun-alun Kutoarjo menemukan penjelasannya

Dalam tradisi tata kota Jawa, alun-alun bukan sekadar taman atau lapangan kosong. Ia adalah simbol pusat kekuasaan sekaligus ruang hidup masyarakat. Tempat upacara, pasar malam, pertemuan warga, hingga aktivitas sehari-hari. Lantaran Kutoarjo sejak awal tumbuh sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi, kebutuhan akan ruang seperti ini sudah ada jauh sebelum ia “resmi” menjadi kecamatan di bawah Purworejo.

Selain faktor sejarah pemerintahan, ada faktor lain yang membuat Kutoarjo terus hidup sebagai kota dalam praktik sehari-hari: transportasi dan ekonomi. Stasiun Kutoarjo, yang juga dicatat di Wikipedia sebagai salah satu stasiun besar di jalur selatan Jawa. Wilayah ini juga menjadi simpul pergerakan orang dan barang.

Arus manusia yang keluar masuk membuat Kutoarjo tidak pernah benar-benar bergantung pada pusat Purworejo untuk bertahan hidup. Aktivitas warganya berputar di lingkar mereka sendiri.

Baca juga: Purworejo: Kabupaten dengan Hari Jadi yang Labil dan Stasiun Kereta Mati Suri.

Secara sosial, ini menciptakan jarak yang unik. Administrasi boleh satu kabupaten, tapi kehidupan sehari-hari berjalan di pusat yang berbeda. Alun-alun Kutoarjo lalu berfungsi sebagai jangkar identitas lokal tempat warga merasa berada di pusat wilayahnya sendiri, bukan sekadar singgah di kecamatan.

Karena itu, alun-alun daerah ini bukan anomali. Ia bukan hasil ambisi pemekaran atau upaya menyaingi kota Purworejo. Ia adalah peninggalan logis dari sejarah panjang Kutoarjo sebagai kota yang pernah berdiri di garis depan, lalu dipaksa mengecil hanya di atas kertas.

Hari ini, ketika orang duduk sore di Alun-alun Kutoarjo, yang mereka tempati bukan sekadar ruang publik. Itu adalah sisa memori kolektif bahwa sebelum batas administrasi ditarik ulang, Kutoarjo sudah lebih dulu merasa sebagai kota.

Penulis: Riko Prihandoyo
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Jangan Harap Menemukan Kehidupan Selepas Isya di Purworejo.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version