Setiap ada teman dari luar kota datang ke Jogja dan bertanya pantai yang bagus di mana, saya hampir selalu mendengar jawaban yang sama: Gunungkidul. Bukan Bantul, apalagi Kulon Progo.
Bicara pantai di Jogja memang aneh. Pantai yang bagus memang adanya di Gunungkidul, padahal kalau bicara pantai paling ikonik di Jogja, jawabannya jelas Pantai Parangtritis, yang terletak di Bantul. Pantai ini sudah seperti wajah wisata pantai Jogja sejak dulu. Ombaknya besar, pasirnya hitam, dan suasananya punya aura yang entah kenapa selalu terasa sedikit mistis. Parangtritis juga relatif mudah dijangkau dari kota.
Sementara itu, Kulon Progo sebenarnya juga punya beberapa pantai. Salah satunya Pantai Glagah yang terkenal dengan tetrapod beton pemecah ombak itu. Dari foto-foto di internet, pantai ini kelihatan dramatis. Ombak besar menghantam beton, percikan air terbang ke mana-mana.
Tapi jujur saja, sebagai orang yang lumayan lama tinggal di Kulon Progo, saya sering merasa bingung sendiri kalau sedang di pantai-pantai sana, yaitu: sebenarnya, apa yang menarik di pantai-pantai ini?
BACA JUGA: 3 Alasan Orang Kota Jogja Lebih Suka Piknik ke Gunungkidul dibandingkan Kulon Progo
Nggak tau mau ngapain di pantai di Kulon Progo
Saya pernah beberapa kali mampir ke Pantai Congot, salah satu pantai yang terkendal di Kulon Progo. Biasanya, yang saya lakukan di pantai itu cuma duduk sebentar di warung pinggir pantai, minum es teh, melihat ombak yang datang dan pergi, lalu pulang. Iya, beneran gitu doang. Nggak ada kegiatan lain.
Bukan karena pantainya jelek. Lautnya tetap luas, anginnya kencang, dan suasananya khas pantai selatan. Tapi setelah duduk sekitar dua puluh menit, biasanya muncul satu pertanyaan sederhana di kepala: habis ini mau ngapain lagi?
Pertanyaan itu muncul mungkin karena saking biasanya pantai di Kulon Progo. Atau memang tidak punya vibes yang sama dengan pantai-pantai di Gunungkidul. Kalau pantai di Selatan, jelas lah memunculkan vibes liburan. Di KP sih, kok, nggak kerasa ya.
Jadinya malah gini: Pantai di Kulon Progo sering terasa seperti tempat mampir, bukan tempat tujuan.
Pesawat pun tak menyelamatkanmu
Satu hal yang sebenarnya cukup unik dari pantai di sana adalah pemandangan pesawat. Terutama kalau sedang berada di Pantai Glagah yang letaknya tidak jauh dari Bandara Internasional Yogyakarta.
Kadang saat duduk di tepi pantai, kita bisa melihat pesawat melintas cukup rendah sebelum mendarat atau setelah lepas landas. Ombak besar di depan, pesawat lewat di langit—kombinasi yang sebenarnya cukup menarik.
Masalahnya, bahkan dengan bonus pemandangan pesawat seperti itu, pantai di Kulon Progo tetap terasa tidak seramai pantai-pantai di Gunungkidul. Begitu sekali saja pergi ke Gunungkidul, saya langsung paham kenapa orang-orang selalu merekomendasikan tempat itu. Salah satu yang pernah saya kunjungi adalah Pantai Drini.
Begitu sampai, suasananya terasa berbeda. Pasirnya putih kecoklatan, bukan hitam seperti di Bantul atau Kulon Progo. Pantainya juga diapit tebing karst yang membuatnya terasa seperti teluk kecil. Di Gunungkidul, setiap pantai rasanya punya karakter sendiri. Ada yang tersembunyi di balik bukit, ada yang pasirnya luas, ada yang ombaknya relatif lebih tenang.
Sementara pantai di Bantul dan Kulon Progo kebanyakan langsung menghadap laut selatan yang terbuka. Garis pantainya panjang, ombaknya besar, pasirnya gelap. Secara visual memang gagah, tapi pengalaman yang dirasakan sering tidak jauh berbeda antara satu pantai dan pantai lainnya.
Kalau harus jujur, pantai di Bantul sebenarnya masih punya “cerita”. Parangtritis misalnya, bukan hanya soal laut dan pasir. Ada sejarah, ada mitos, ada suasana yang membuat orang tetap ingin datang. Sedangkan pantai di Kulon Progo, ya tidak. Ia sering terasa seperti ruang luas yang tenang. Cocok untuk duduk sebentar, melihat ombak, atau menunggu pesawat melintas di langit dekat YIA.
Jadi ya, sampai kapan pun, kayaknya, kalau bicara pantai indah, Gunungkidul akan selalu jadi top of mind, dan itu wajar. Kulon Progo tak perlu iri, karena ya, sudah beda spek. Mau protes juga nggak bisa, jadi ya, nikmati saja ketenangan ini.
Penulis: Riko Prihandoyo
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Kulon Progo Cocok untuk Orang Mumet karena Ada 6 Tempat Ajaib Ini
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat

















