Informasi
ADVERTISEMENT

Lanjut kuliah S2 setelah punya pengalaman kerja, pembelajaran di ruang kelas jadi lebih hidup

Beruntung lanjut kuliah S2 setelah punya pengalaman kerja, ilmu terasa lebih nyata dan kaya Terminal

Ada kepercayaan umum kalau kuliah S2 bisa jadi jalan pintas mendongkrak karier. Padahal, mereka yang melompat langsung ke jenjang S2 tanpa pengalaman kerja sebelumnya kerap berujung pada kebingungan. Alih-alih tercerahkan oleh teori yang dibahas, para mahasiswa pascasarjana polosan tadi biasanya jadi kalang kabut kalau sudah masuk adu argumentasi.

Alasannya jelas, mereka kaget lantaran teori tebal di buku ternyata nggak selalu sejalan dengan kenyataan. Itu mengapa, menunda sejenak ambisi kuliah S2 demi mencicipi pengalaman kerja adalah keputusan rasional. Setidaknya itulah yang saya dan banyak orang rasakan.

#1 Asam garam dunia kerja memperkaya pandangan saat kuliah S2

Mahasiswa S2 yang sudah khatam menyesap kerasnya dunia kerja biasanya punya tabiat lebih santai dan membumi. Begitu dicecar teori kuliah, kepala mereka otomatis terkoneksi dengan pengalaman yang pernah dijumpai di lapangan. Makanya, jangan heran kalau mereka lebih doyan metode diskusi ketimbang cuma duduk manis mendengarkan dosen ceramah satu arah.

Dampaknya, atmosfer kelas jadi jauh lebih hidup dan berbobot. Mereka mudah saja menyumbangkan studi kasus nyata beserta solusinya. Bukan sekadar melontarkan teori muluk-muluk berbekal common sense semata.

Sebaliknya, mereka yang langsung gaspol lanjut kuliah S2 tanpa punya pengalaman kerja sering keteteran saat diajak membedah masalah rumit. Mereka miskin konteks praktis di dunia nyata.

#2 Punya filter alami buat menyaring teori-teori yang dipelajari saat S2

Berdasar pengamatan, mereka yang langsung bablas lanjut S2 tanpa pengalaman kerja biasanya cenderung menelan bulat-bulat ajaran dosen. Seolah perkataan para dosen ini mutlak, paling benar.

Beda cerita dengan mereka yang sudah babak belur terjun langsung di dunia nyata. Dicekokin rumus-rumus idealis barang sekecil apa pun nggak bakal bikin mereka praktis manggut-manggut.

Berbanding terbalik, pengalaman di lapangan justru jadi filter paling jitu buat menyaring mana teori yang sungguh bisa dipakai sebagai pisau analisis. Ambil contoh saat dosen mulai menyampaikan sederet teori kepemimpinan yang berkaitan dengan watak manusia yang dinamis. Buat mahasiswa yang sudah bekerja, kacamata realitas mereka jelas jauh lebih peka. 

Mereka tahu betul kalau nggak ada satu pun teori manajemen sumber daya manusia yang mulus plek-ketiplek diterapkan di segala situasi. Alhasil, materi kuliah nggak lagi diserap sekadar sebagai hafalan demi mendulang nilai A. Namun, diolah lewat daya kritis yang jauh lebih matang.

#3 Topik tesis bukan khayalan tingkat tinggi

Banyak mahasiswa S2 yang stres setengah mati mencari topik tesis. Pasalnya, mereka nggak kenal masalah apa yang sebenarnya penting untuk diselesaikan di dunia nyata. Mentok-mentok, mereka paling-paling menduplikasi dari artikel jurnal bereputasi yang sudah banyak dikutip orang. Padahal, bisa jadi permasalahan yang diangkat di artikel kurang cocok diterapkan di Indonesia.

Sementara, pengalaman kerja memberikan mahasiswa sebuah radar pendeteksi masalah. Mereka tahu persis di mana celah inefisiensi perusahaan, masalah birokrasi, atau tren pasar yang belum tergarap dengan benar. Alhasil, topik tesis yang diambil bukan cuma syarat administratif untuk lulus. Namun, benar-benar bisa diaplikasikan, atau minimal punya relevansi praktis yang kuat.

#4 Tahu cara menghargai nilai waktu dan uang kuliah

Menempuh kuliah S2 membutuhkan pengorbanan tingkat dewa, baik secara finansial maupun mental. Di luar mereka yang beruntung mengantongi beasiswa, sebagian besar mahasiswa pascasarjana harus memeras keringat dari hasil kerja sendiri demi menyetor uang kuliah.

Konsekuensinya, motivasi dan ketahanan mental mereka jauh melampaui mahasiswa yang kuliahnya masih sepenuhnya disponsori oleh orang tua.

Itu mengapa, mereka yang pernah mencicipi sulitnya dapat duit dari dunia kerja mereka jauh lebih menghargai setiap detik waktu di kelas tanpa perlu didikte dosen. Datang kuliah tepat waktu, memaksimalkan jatah SKS, sampai disiplin menghadap pembimbing demi kelancaran tesis.

Mereka juga punya keahlian tingkat tinggi dalam membagi waktu antara pekerjaan, kuliah, dan tanggung jawab lainnya. Bukannya menghabiskan waktu nongkrong di kafe sampai lewat tengah malam berkedok diskusi kelompok lantaran mengerti betul betapa penatnya mengumpulkan lembar rupiah.

Intinya, menunda kembali ke ruang kuliah sampai kepala cukup matang ditempa kerasnya dunia kerja justru membuktikan satu hal. Gelar tinggi paling berharga bukanlah yang diperoleh dari kecepatan lulus saat usia masih belia. Namun, dari ketepatan waktu saat seseorang benar-benar siap menaklukannya tanpa banyak mengeluh atas keputusan yang dipilih sendiri.

Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Kenia Intan

BACA Kuliah S2 Itu Wajib Caper kalau Tidak, Kalian Cuma Buang-buang Uang dan Melewatkan Banyak Kesempatan.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 14 September 2026 oleh .

Paula Gianita Primasari

Kontributor aktif media opini dan satir.

Exit mobile version