Wingko babat ini memang menyedihkan nasibnya. Asli Lamongan, tapi diakui Semarang, dan kini malah dicaplok Jogja
Sebagai bagian dari klan pecel lele Lamongan, saya memang selalu gusar dengan kemampuan branding warga Lamongan. Khususnya soal betapa cueknya mempertahankan identitas Wingko Babat sebagai makanan khas Lamongan.
Ketika berburu oleh-oleh di kawasan Malioboro, Yogyakarta, saya beberapa kali menjumpai wingko Babat dengan embel-embel, “Oleh-Oleh Khas Jogja”. Tentu saja saya langsung misuh, “Duh, sejak kapan wingko babat hijrah dan ganti kewarganegaraan jadi oleh-oleh khas Jogja?”
Btw, kegusaran saya ini bukan ditujukan kepada para pedagang Malioboro yang sedang mencari sesuap nasi. Saya justru gusar dan gemas dengan diri kami sendiri: wong Lamongan.
Bagi saya, Lamongan adalah daerah penghasil makanan yang tingkat enaknya di atas rata-rata, tapi selalu gagal mendapatkan panggung kehormatan karena kita tidak pernah peduli dengan yang namanya branding. Kemampuan komersialisasi identitas daerah kita ini, jujur saja, memang cukup meresahkan.
Tragedi 1946: wingko babat dijajah Semarang karena faktor hijrah
Sebelum dicaplok secara sepihak oleh lapak oleh-oleh di Jogja, wingko babat sebenarnya sudah lebih dulu awet diakui sebagai kuliner khas Semarang. Bahkan kalau dibaca-baca dalam catatan sejarah kuliner, pengakuan kepemilikan oleh Semarang ini sudah terjadi sejak 1946. Wadaw sekaleee memang.
Alasan kenapa wingko babat bisa bertransformasi menjadi maskot kuliner ibu kota Jawa Tengah itu sebenarnya sederhana. Dulu, ada salah satu pionir penjual wingko yang awalnya memproduksi kue kelapa ini di tempat asalnya: Kecamatan Babat, sebuah daerah persimpangan ramai di Lamongan. Karena satu dan lain hal, si penjual memutuskan hijrah dan mengadu nasib ke Semarang.
Nah, kebetulan di tempat perantauan baru inilah dagangan wingko tersebut meledak dan jauh lebih diminati. Ditambah lagi, Semarang statusnya adalah kota besar yang selalu ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai penjuru. Walhasil, terbentuklah opini publik massal selama puluhan tahun bahwa wingko ya berasal dari Semarang.
Nama “Babat” di belakangnya digeser maknanya, dari yang tadinya merujuk pada nama kecamatan di Lamongan, diyakini orang luar sebagai jenis teknik memasak atau babat sapi. Sebuah miskonsepsi yang bikin elus dada.
Pasrahnya klan pecel lele dan pentingnya sebuah “perlawanan”
Hal yang paling menjengkelkan dari rentetan pembajakan kuliner ini adalah respons dari internal warga Lamongan sendiri. Kita itu kayak B aja, gitu. Nampak sangat santai, tidak ada riak, dan sama sekali tidak ada upaya “perlawanan” kultural untuk merebut kembali takhta wingko babat ke pangkuan bumi kemiri. Ya Allah.
Mungkin karena mentalitas dasar wong Lamongan itu terlampau ikhlas. Keikhlasan tingkat dewa ini bagus untuk ketenangan akhirat, tapi tentu saja buruk untuk eksistensi geopolitik kuliner di dunia yang fana ini.
Kita harus sadar bahwa urusan branding wingko babat ini perlu dan harus segera diupayakan. Sebagai klan terbesar penghasil pecel lele dan soto yang jaringannya sudah menguasai hampir setiap jengkal trotoar di Indonesia, menyelamatkan identitas wingko adalah tugas suci kita bersama.
Kita harus mulai bergerak secara masif agar orang-orang di luar sana tidak menganggap Lamongan itu daerah yang miskin variasi dan cuma sekadar urusan lele goreng atau kuah koya belaka. Kita punya produk camilan legendaris berbasis kelapa muda yang rasanya sangat premium.
Sudah saatnya kita melakukan serangan balik. Minimal, kalau ada teman luar kota yang memamerkan wingko babat bungkus kertas motif kereta api khas Semarang, segera tepuk pundaknya lalu bisikkan pelan-pelan kalau wingko Babat itu asalnya dari Lamongan.
Jangan biarkan keluguan kita terus-menerus dimanfaatkan oleh industri pariwisata kota tetangga! Iya, kali ini saya tidak akan diam. Saya akan lawan!
Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Wingko Babat Kok Jadi Makanan Khas Semarang?
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
