Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Kota Tua Jakarta: Telah Direvitalisasi, Kini Kembali ke Setelan Pabrik

Muhammad Arifuddin Tanjung oleh Muhammad Arifuddin Tanjung
9 September 2024
A A
Kota Tua Jakarta: Telah Direvitalisasi, Kini Kembali ke Setelan Pabrik

Kota Tua Jakarta: Telah Direvitalisasi, Kini Kembali ke Setelan Pabrik

Share on FacebookShare on Twitter

Kota Tua merupakan salah satu destinasi wisata historis yang terkenal di Jakarta. Tempat yang disebut sebagai titik nol Kota Jakarta ini menyimpan sejarah yang begitu panjang. Ratusan tahun berlalu, bangunan-bangunan kuno peninggalan zaman kolonial masih berdiri kokoh dan terus dilestarikan dengan menjadikannya sebagai bangunan cagar budaya. Beberapa bangunan juga menjadi museum yang tak boleh dilewatkan untuk dikunjungi, seperti Museum Bank Indonesia, Museum Mandiri, Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah, dan Museum Seni Rupa dan Keramik.

Oleh karena bernilai historis serta menjadi destinasi wisata itulah, Kota Tua Jakarta sudah seharusnya menjadi tempat yang nyaman dan aman bagi wisatawan. Hal yang dapat dilakukan untuk mewujudkan kedua tujuan tersebut ialah revitalisasi.

Revitalisasi Kota Tua sebenarnya telah dilakukan sejak zaman Gubernur Ali Sadikin (Bang Ali) pada tahun 1970-an. Revitalisasi kemudian berlanjut seiring bergantinya gubernur. Terakhir dilakukan oleh Gubernur Anies Baswedan di penghujung masa jabatannya, yakni pada tahun 2022. Revitalisasi yang selesai pada bulan Agustus 2022 ini mengubah tampilan Kota Tua menjadi lebih rapi dan nyaman bagi wisatawan.

Kota Tua yang lebih baik

Ada berbagai perubahan positif yang saya lihat setelah Kota Tua Jakarta direvitalisasi. Pertama, trotoar menjadi sangat lebar, dilengkapi dengan guiding block serta jalur sepeda di sepanjang trotoar yang memutari kawasan Kota Tua. Kedua, tingkat polusi udara bisa berkurang dengan adanya penerapan low emission zone (Zona Emisi Rendah).

Untuk mendukung penerapan Zona Emisi Rendah ini, jalan beraspal yang dahulu dilalui oleh kendaraan bermotor di depan Stasiun Jakarta Kota, yakni Jalan Lada dan Jalan Ketumbar, diubah sepenuhnya menjadi kawasan pedestrian yang apik sehingga jumlah kendaraan bermotor yang berlalu lalang dapat berkurang. Diharapkan hanya transportasi umum seperti bus Transjakarta ditambah sepeda atau sepeda listrik yang boleh beroperasi di Kota Tua.

Ketiga, pemandangan Kota Tua jauh lebih nyaman dan rapi dengan pemindahan sejumlah PKL (Pedagang Kaki Lima) ke berbagai lokasi binaan (lokbin) di sekitaran Kota Tua. Terakhir alias keempat, integrasi transportasi umum antara Transjakarta, KRL, dan MRT (yang saat ini masih dalam tahap pembangunan) dapat terwujudkan berkat revitalisasi yang dilakukan.

Ketika saya mengunjungi Kota Tua Jakarta pada Agustus dan Oktober 2022, situasi Kota Tua yang baru selesai revitalisasi masih terlihat rapi. Situasi ini bertahan hingga saya datang kembali pada bulan Juli 2023. Namun, ketika saya mengunjungi Kota Tua (lagi) baru-baru ini, yakni pada Agustus 2024 lalu, pemandangan Kota Tua hasil revitalisasi yang tadinya rapi, nyaman, asri, dan sedap dipandang mata itu kini telah hilang. Yang sebelumnya terlihat kemajuan, sekarang malah terlihat kemunduran.

Sekarang malah balik setelan pabrik

Hal yang paling mencolok adalah kembalinya para PKL yang menempati trotoar di depan Stasiun Jakarta Kota hingga Kali Besar Barat seperti masa sebelum revitalisasi di tahun 2022. Kota Tua pun terlihat semrawut. Seluruh badan trotoar yang luas itu nyaris ditempati oleh PKL. Mau berjalan pun susah rasanya. Lebih parah lagi, jalur sepeda pun turut ditutupi oleh gerobak hingga lapak dagangan mereka. Ruang yang tersisa dari trotoar hanyalah bagian guiding block saja, itu pun beberapa bagiannya sudah ada yang terlepas.

Baca Juga:

Warkop Bulungan: Satu Lagi Tempat Viral di Blok M yang Bikin Kecewa dan Cukup Dikunjungi Sekali Saja

Rute KRL dari Stasiun Duri ke Sudirman Adalah Rute KRL Paling Berkesan, Rute Ini Mengingatkan Saya akan Arti Sebuah Perjuangan dan Harapan

Kemunduran ini membuat saya mengajukan dua pertanyaan. Pertama, apakah lokbin yang sebelumnya telah ditentukan tidak digunakan oleh PKL secara optimal? Mungkin saja, terdapat hal yang bikin mereka nggak nyaman ketika dipindahkan, seperti dagangan menjadi sepi, harga sewa yang tinggi, dan lain-lain. Kedua, apakah aparat tidak bertindak tegas atas kembalinya PKL menempati trotoar di Kota Tua Jakarta yang membuat pemandangan menjadi semrawut? Pada kunjungan saya ke Kota Tua yang terkini, sebenarnya di sana terdapat beberapa anggota Satpol PP yang sedang berpatroli. Tapi, mereka hanya sekadar melaksanakan apel, berfoto bersama, dan berputar mengelilingi Kota Tua dengan mengabaikan para PKL itu. Saya yang melihatnya pun hanya bisa terheran-heran.

Kalau kata netizen yang budiman, Kota Tua telah kembali kepada apa yang disebut dengan “Setelan Pabrik”, yakni kembali kepada keadaan aslinya (masa sebelum revitalisasi di tahun 2022). Situasi yang semrawut, tidak rapi, dan tidak nyaman.

Kalah sama Semarang

Selain itu, masih ada lagi kemunduran di Kota Tua yang saya rasakan, seperti sumpek, kotor, dan beberapa fasilitas yang kurang terawat. Jika kondisi Kota Tua sekarang ini dibandingkan dengan Kota Lama Semarang yang saya kunjungi saat KKL di bulan Mei 2024 lalu, maka Kota Lama Semarang jauh lebih rapi dan nyaman dibandingkan Kota Tua Jakarta. Apalagi kalau dibandingkan sama Kota Lama Surabaya, bah, tertinggal jauh!

Maka dari itu, sudah semestinya para pemangku kepentingan sekarang ini untuk peduli terhadap permasalahan di Kota Tua ini. Sayang seribu sayang kalau hasil revitalisasi yang bagus, rapi, dan terkesan modern ini kembali ke arah belakang atau perubahan negatif lainnya. Hendaknya mereka melakukan pencarian solusi yang betul-betul efektif agar masalah ini teratasi dan tak terulang kembali. Saya sebagai orang biasa mengharapkan Kota Tua terbebas dari segala permasalahan yang terjadi. Toh, tempat wisata yang aman dan nyaman merupakan hal yang didambakan, bukan?

Penulis: Muhammad Arifuddin Tanjung
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kota Lama Semarang vs Kota Tua Jakarta, Kawasan Wisata Bersejarah yang Serupa tapi Tak Sama

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 9 September 2024 oleh

Tags: Jakartakota tuarevitalisasi
Muhammad Arifuddin Tanjung

Muhammad Arifuddin Tanjung

Seorang sosialis yang percaya bahwa kemanusiaan hanya bisa tegak jika kita berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah. Pemula yang haus akan ilmu.

ArtikelTerkait

Merantau ke Jogja Menyadarkan Saya tentang Privilese Hidup di Jakarta

Merantau ke Jogja Menyadarkan Saya tentang Privilese Hidup di Jakarta

22 Juli 2022
5 Alasan Masuk Akal untuk Tidak Tinggal di Jakarta

5 Alasan Masuk Akal untuk Tidak Tinggal di Jakarta

9 Agustus 2022
Saya Pengguna Setia Transjakarta dan Setuju kalau Tarifnya Naik asal 4 Hal Ini Terpenuhi Mojok.co

Saya Pengguna Setia Transjakarta dan Setuju kalau Tarifnya Naik asal 4 Hal Ini Terpenuhi

29 November 2025
bemo

Mengenang Salah Satu Transportasi Jadul: Bemo

28 Agustus 2019
Pasar Buku Bekas Kwitang: Dahulu Berjaya, Kini Nyaris Lenyap

Pasar Buku Bekas Kwitang: Dahulu Berjaya, Kini Nyaris Lenyap

5 Oktober 2023
Pondokgede, Kecamatan yang Sering Disalahpahami: Dikira Jakarta, Padahal Bekasi!

Pondokgede, Kecamatan yang Sering Disalahpahami: Dikira Jakarta, Padahal Bekasi!

3 Maret 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Hal yang Biasa Dijumpai di Temanggung, Daerah Lain Nggak Punya. Salah Satunya Pemandangan Jaran Kepang di Jalan

Hal yang Biasa Dijumpai di Temanggung, Daerah Lain Nggak Punya. Salah Satunya Pemandangan Jaran Kepang di Jalan

19 Januari 2026
Honda PCX 160 Dibuat Ceper, Modifikasi Motor yang Saya Harap Lenyap dari Jalanan Mojok.co

Honda PCX 160 Dibuat Ceper, Modifikasi Motor yang Saya Harap Lenyap dari Jalanan

19 Januari 2026
Bukan Malang, Pengendara dengan Refleks Terbaik Itu Ada di Banyuwangi. Tak Hanya Jalanan Berlubang, Truk Tambang pun Dilawan

Bukan Malang, Pengendara dengan Refleks Terbaik Itu Ada di Banyuwangi. Tak Hanya Jalanan Berlubang, Truk Tambang pun Dilawan

15 Januari 2026
Jujur, Saya sebagai Mahasiswa Kaget Lihat Biaya Publikasi Jurnal Bisa Tembus 500 Ribu, Ditanggung Sendiri Lagi

Dosen Seenaknya Nyuruh Mahasiswa untuk Publikasi Jurnal, padahal Uang Mahasiswa Cuma Dikit dan Nggak Dikasih Subsidi Sama Sekali

17 Januari 2026
Kecamatan Kalitengah Adalah Daerah Paling Ikhlas di Lamongan: Kebanjiran Dua Bulan dan Masih Mau Menyambut Bupatinya

Kecamatan Kalitengah Adalah Daerah Paling Ikhlas di Lamongan: Kebanjiran Dua Bulan dan Masih Mau Menyambut Bupatinya

18 Januari 2026
Belanja Furnitur Mending di IKEA Atau Informa? Ini Dia Jawabannya

Belanja Furnitur Mending di IKEA Atau Informa? Ini Dia Jawabannya

18 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Sumbangan Pernikahan di Desa Tak Meringankan tapi Mencekik: Dituntut Mengembalikan karena Tradisi, Sampai Nangis-nangis Utang Tetangga demi Tak Dihina
  • Menurut Keyakinan Saya, Sate Taichan di Senayan adalah Makanan Paling Nanggung: Tidak Begitu Buruk, tapi Juga Jauh dari Kesan Enak
  • Saat Warga Muria Raya Harus Kembali Akrab dengan Lumpur dan Janji Manis Awal Tahun 2026
  • Lupakan Alphard yang Manja, Mobil Terbaik Emak-Emak Petarung Adalah Daihatsu Sigra: Muat Sekampung, Iritnya Nggak Ngotak, dan Barokah Dunia Akhirat
  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.