Klaten sejatinya bukan kota, tapi obat mujarab buat wargi Jogja yang stres karena padatnya jalanan

Klaten bukan kota, tapi obat stres warga Jogja (Wikipedia)

Klaten bukan kota, tapi obat stres warga Jogja (Wikipedia)

Kadang saya mikir. Klaten itu bukan kota, tapi obat mujarab untuk mengobati stres warga Jogja yang hidupnya tertekan karena padatnya jalanan.

Ada satu perasaan yang makin sering saya rasakan di Jogja akhir-akhir ini: lelah sebelum sampai tujuan.

Saya orang Jogja. Lahir, sekolah, bekerja, dan mungkin kelak pensiun di kota yang orang-orang sebut paling nyaman di Indonesia. Dulu saya percaya sebutan itu. 

Sekarang, setiap keluar rumah pada jam sibuk, saya menyiapkan mental seperti mau ikut balapan. Luas jalanan tidak bertambah, tapi volume kendaraan semakin gila.

Saya tidak sedang baper. Padatnya jalanan di Jogja sudah menjadi data, bukan sekadar keluhan warganya. 

Akademisi Universitas Janabadra, Nindyo Cahyo Kresnanto, mencatat DIY menampung 2,8 juta sepeda motor dan 433 ribu mobil pada 2024. Sementara itu, pertumbuhan panjang jalan hanya 0,2% per tahun. Sekitar 75% penduduk DIY punya sepeda motor. 

Korlantas Polri menghitung 720 ribu kendaraan bermotor terdaftar di Kota Yogyakarta saja per Desember 2025. Dan 599 ribu di antaranya motor. Jalanan tidak bertambah lebar, kendaraan terus bertambah. Hasilnya bisa kalian tebak sendiri.

Kangen jalanan Klaten yang lengang

Di tengah kelelahan seperti itu saya teringat dengan jalanan Klaten. Dulu, saya cukup sering PP ke Klaten setelah menerima pekerjaan freelance menulis dari sebuah lembaga di Klaten. 

Tugasnya menulis profil, artikel, dan ulasan tentang beberapa produk budaya Jawa. Selama tiga tahun, dua sampai tiga kali seminggu, saya bolak-balik Jogja- Klaten. 

Saya biasanya berangkat sebelum pukul 6 pagi lewat Jalan Solo. Kadang saya pulang menjelang Magrib, dan jalanan Klaten tetap tidak ikut panik. 

Jaraknya sekitar 40 kilometer. Cukup jauh kalau saya menghitungnya dari jok motor, cukup dekat kalau saya menghitungnya dari semangat mencari nafkah. Dan di situlah kejutan itu datang.

Tiga tahun pulang-pergi: dua dunia yang berbeda

Begitu memasuki Klaten, jalanan perlahan terasa lebih lengang. Saya menemukan pengendara yang menyalakan sein sebelum belok, bukan setelah belok. Saya melihat orang-orang yang sabar mengantre di lampu merah tanpa merangsek maju. 

Pagi itu, mata saya menikmati pemandangan sawah. Mengamati gerak pengendara motor dan mobil di sekitar bundaran yang menghiasi jalanan di Klaten.

Orang Klaten menjuluki daerahnya Kabupaten Bersinar, dan media menyebutnya kota seribu umbul. Bag saya, julukannya lebih sederhana: tempat jalanannya masih waras.

Aneh memang. Hanya 40 kilometer dari Jogja, rasanya seperti mendarat di negara lain. Lama-lama saya paham, jalanan yang lengang dan tertib bukan sekadar urusan estetika. Dia bekerja untuk dompet dan kepala kita.

Macet itu mahal dan sains ikut menagih

Bappenas bersama JUTPI II menghitung kerugian akibat kemacetan di Jabodetabek mencapai Rp100 triliun per tahun. Ini setara 4% PDB Jabodetabek atau enam kali biaya pembangunan MRT fase pertama. 

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, mengutip angka itu pada Agustus 2025 dan menyebutnya realita. Bayangkan uang sebesar itu menguap karena orang-orang membuang waktunya di jalan. 

TomTom Traffic Index 2025 menempatkan Jakarta di peringkat 24 kota termacet dunia dengan tingkat kemacetan 59,8%. Perjalanan 10 kilometer butuh waktu 26 menit 19 detik. 

Di jam sibuk, kecepatan rata-rata kendaraan cuma 17,8 kilometer per jam, lebih lambat dari orang bersepeda santai. Bandung bahkan lebih parah: peringkat 16 dunia, termacet se-Indonesia.

Jalanan tertib bekerja sebaliknya. Dia menghemat bensin, waktu, dan umur mesin. Tapi keuntungan terbesarnya justru tidak kasatmata.

Kata psikolog yang bikin Klaten semakin menyenangkan

Para psikolog sudah lama membuktikan macet meracuni kepala. Gary Evans dan Sybil Carrere pada 1991 menemukan paparan lalu lintas padat jangka panjang menaikkan hormon stres kortisol. 

Peneliti Wageningen University pada 2015 membandingkan orang yang berjalan di kawasan urban padat dengan orang yang berjalan di alam. Kadar kortisol kelompok kedua turun, kelompok pertama nyaris tidak berubah. 

The Conversation pada 2019 merangkum berbagai studi internasional dan menyebut warga kota punya risiko 21% lebih tinggi mengalami gangguan kecemasan umum serta 39% lebih tinggi terkena gangguan suasana hati dibanding warga di daerah non-perkotaan. 

Riset di Semarang dalam Jurnal Riset Ekonomi dan Transportasi 2021 menemukan 56% responden mengaku macet bikin stres, dan 52% menyebut produktivitas mereka ikut turun.

Dua ekonom Swiss, Bruno Frey dan Alois Stutzer, merumuskan “commuting paradox”. Komuter dengan perjalanan satu jam butuh kenaikan gaji 40% agar kepuasan hidupnya setara dengan orang yang tidak berkomuter. Stutzer menyebut komutasi sebagai stres yang tidak pernah membayar. 

Maka, ketika menemukan jalanan yang lengang dan teratur di Klaten, rasanya menyegarkan. Khususnya untuk warga Jogja yang sehari-hari stres karena padatnya jalanan.

Klaten, tempat berobat tanpa resep

Tiga tahun di Klaten membuat saya mengalami sendiri teori-teori itu. Sepulang dari sana, bahu saya tidak kaku, dada tidak sesak, dan saya masih punya energi menulis sampai malam. 

Begitu memasuki lagi jalanan Jogja yang padat, tubuh saya kembali tegang tanpa perlu saya minta. Kontrasnya persis seperti penjelasan para peneliti. Tubuh membaca kemacetan sebagai ancaman, dan membaca ketertiban sebagai istirahat.

Sekarang proyek itu sudah lama sekali selesai. Tapi sesekali saya masih tetap mengingat betapa welcome Klaten kepada siapa saja yang ingin berjuang.

Selama saya aku mengira saya datang ke Klaten untuk bekerja. Belakangan saya sadar, sebenarnya aku datang untuk berobat.

Jogja mengajari saya bahwa macet adalah takdir. Klaten mengingatkan saya bahwa takdir selalu bisa berubah kalau tata kotanya waras.

Penulis: Yamadipati Seno

Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Jelajah kuliner Pasar Gedhe Klaten: pengalaman menikmati segarnya dawet uyup, nikmatnya soto bening, hingga western food kaki lima

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version