Kisi-kisi Menjadi Muda-mudi Overthinking Edisi Pandemi

Artikel

Prabu Yudianto

Dalam masa new normal, muda-mudi Nusantara dipertemukan pada sebuah kehampaan. Tongkrongan banyak yang tutup, buka pun paling sampai jam sepuluh plus injury time. Belum lagi kegiatan belajar dan bekerja lebih banyak di rumah. Beberapa orang memilih untuk berniaga online. Sisanya mendalami seni tari TikTok. Tapi, Anda tidak harus ikut-ikutan mereka. Apalagi untuk Anda yang sangat insecure dalam membuat story dagangan atau tarian manjamu. Nah, lebih baik Anda habiskan waktu saat pandemi ini dengan overthinking

Overthinking sering disalahartikan sebagai galau pada hal remeh. Padahal, kegiatan ini lebih mulia dari itu sekadar kegalauan. Kegiatan ini setara meditasi para pertapa. Bedanya adalah di isi otak. Meditasi mengajak kita untuk mengosongkan pikiran. Overthinking adalah Yin bagi Yang dalam meditasi. Ia mengajak kita menjejalkan seluruh informasi dalam pikiran. Informasi ini akan kita pilah seturut ketertarikan kita. Dan informasi yang paling menarik akan kita benturkan dengan berbagai faktor dan informasi lain. Lakukan itu terus-menerus.

Terdengar gampang, tapi tidak gampang untuk dilakukan. Terdengar rumit, tapi seakrab tarikan napas. Nah, saya peduli pada kalian yang terketuk untuk memulai gaya hidup overthinking. Sebagai (secara sepihak memproklamirkan diri) ahli dalam bidang ini, saya akan membagikan sedikit kisi-kisi agar menjadi muda-mudi yang sukses dalam overthinking

Fokus pada satu tema

Tujuannya adalah memikirkan satu tema dengan lebih dalam. Temanya sangat bebas dan luas. Bisa urusan pribadi seperti: bentuk tubuh, nilai IPK, status sosial, pekerjaan, hobi, bahkan tentang isi dompet yang jauh dari kata cukup. Jika cukup berani, Anda bisa mengambil tema lebih jauh seperti: otak di balik penyiraman air keras, alokasi Dana Keistimewaan Jogja, berapa banyak sepeda Brompton yang bisa dibeli Jeff Bezos, dan masih banyak lagi. Tapi ingat! Hanya fokus dalam satu tema. Jangan memikirkan IPK lalu tiba-tiba memikirkan konspirasi Covid-19. Bisa-bisa Anda pengen jadi drummer.

Baca Juga:  Gara-gara Nonton FTV Saya Jadi Sering Berimajinasi

Tembok kamar adalah sahabat

Mengapa tembok kamar? Umumnya, kamar adalah benteng terakhir privasi manusia. Apa yang terjadi di kamar akan tetap ada di kamar. Dan overthinking akan butuh itu. banyak tema overthinking yang mungkin tidak dapat diterima sosial budaya setempat. Belum lagi efek samping ketika kegiatan ini. Saya ingatkan, berpikir mendalam dapat menyebabkan tangis, teriakan, muka cemberut, dan kelainan dalam merespons lingkungan. Jadi, tembok kamar memang teman terbaikmu. Cobalah berbaring. Lalu ambil napas panjang. Setelah itu, hadaplah tembok dengan posisi tidur menyamping. Voila! Anda sudah dalam posisi meditasi overthinking terbaik!

Overthinking di tempat nongkrong? Bisa juga

Mungkin tanpa Anda rencanakan, keinginan overthinking muncul saat Anda menyesap segelas minuman hangat. Saya tidak menyarankan untuk melakukannya di tempat umum. Tapi jika terpaksa, lakukan dengan manis. Simpat segala ekspresimu dari lingkungan. Tekan keinginan fisikmu agar tetap dalam kalbu. Karena, dilihat banyak orang ketika menangis di tongkrongan bisa menimbulkan tema overthinking yang tak akan pernah usai.

Sediakan logistik, persiapkan fisik

Pastikan kamu sudah buang hajat, baik besar maupun kecil. Karena keinginan buang hajat akan membuyarkan prosesi overthinking-mu. Jangan berdalih bahwa overthinking bisa di kamar mandi. Selain waktunya singkat, tenagamu akan terbagi untuk overthinking dan mengedan. Pastikan juga ada cukup logistik untuk bertahan hidup. Air minum, cemilan, pewangi ruangan, kipas angin, dan lain-lain. jangan sampai ada berita “Seorang pemuda tewas di kamar dengan keadaan mata basah menatap tembok.”

Jangan lupa waktu, apalagi lupa diri

Saya sarankan, lakukan prosesi ini saat malam sampai pagi. Waktu terbaik adalah pukul 1 malam sampai pukul 4 pagi. Jangan sampai kamu masih overthingking sampai di atas pukul 6 pagi. Dan jangan coba-coba untuk overthinking dari pukul 6 pagi sampai pukul 9 malam. Bukan karena membahayakan kesehatan fisik dan mental. Tapi cobalah sedikit produktif. Apalagi kalau Anda adalah seorang mahasiswa atau pekerja yang punya jam kerja dari pagi sampai senja. Overthinking sih bagus, tapi jangan jadikan alasan untuk bermalas-malasan juga. Pakai alasan lain misal sakit perut atau sedang sibuk melawan dunia yang zalim.

Baca Juga:  Jokowi Marah Bersama Rakyat Indonesia: Sebuah Kolaborasi Mantap, Meskipun Terlambat

Demikianlah kisi-kisi menjadi muda-mudi yang overthinking. Saya harap, kalian yang ingin mulai terjun dalam dunia ini bisa segera mengambil manfaat dari tulisan ini. Sampai jumpa dalam momen terdalam dalam jiwamu, yang meronta memikirkan satu hal terus-menerus. Teruslah overthinking karena pikiran yang baik-baik saja hanya untuk amatiran. Dan overthinking bisa bikin kamu kreatif dalam membuat story di Instagram.

BACA JUGA Insecure dan Overthinking di Usia 20an dan tulisan Dimas Prabu Yudianto lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
11


Komentar

Comments are closed.