Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

Bukan karena Rasanya Enak, Biskuit Khong Guan Dibeli karena Bisa Memberi Status Sosial

Ahmad Dani Fauzan oleh Ahmad Dani Fauzan
13 Oktober 2025
A A
Bukan karena Rasanya Enak, Biskuit Khong Guan Dibeli karena Bisa Memberi Status Sosial

Bukan karena Rasanya Enak, Biskuit Khong Guan Dibeli karena Bisa Memberi Status Sosial

Share on FacebookShare on Twitter

Siapa yang nggak kenal sama Biskuit Khong Guan? Jajanan satu ini menjadi suguhan wajib di ruang tamu saat acara-acara besar keluarga, terlebih ketika lebaran. Khong Guan menjadi lebih terkenal karena ikonnya yang memampang gambar sebuah keluarga tanpa kehadiran seorang ayah.

Dari pengalaman saya tahun ke tahun menjumpai biskuit ini di ruang tamu, saya punya kesimpulan bahwa Khong Guan banyak digemari karena status sosialnya, bukan karena rasanya yang enak. Lucunya, orang-orang di sekitar saya juga mengakui bahwa nggak semua biskuit dalam kaleng Khong Guan itu disukai.

Dari sekian banyak jenisnya, yang jadi bahan rebutan cuma satu-dua: kalau nggak wafer bungkusan, ya, biskuit yang ada selainya. Yang lain? Ya, hanya buat pelengkap saja, dan bakal dilirik kalau cuma semua jajanan di ruang tamu sudah habis. Itu pun, yang ngabisin tuan rumah sendiri, bukan tamu.

Khong Guan dibeli karena gengsinya, bukan biskuitnya

Pernah suatu ketika bapak saya menyuruh agar saya membelikan biskuit “Kaleng Merah” ini untuk jadi penganan lebaran. Namun, karena saya sadar bahwa biskuit ini seringnya nggak selaku penganan lain ketika di ruang tamu, saya menyarankan untuk membeli biskuit merek lain saja.

Di samping itu, harganya yang cukup mencekik untuk biskuit yang cuma “itu-itu aja” juga menjadi bahan pertimbangan saya. Kan lebih baik beli jajan yang lebih murah tapi juga jadi rebutan saat di ruang tamu.

Apa kata bapak saya? “Malu ke tamu kalo nggak ada Biskuit Khong Guan. Masak mau disuguhin biskuit yang biasa aja?”

Hmmm, saya nggak habis pikir, kenapa cuma masalah biskuit aja sampai turut melibatkan gengsi. Padahal, yang namanya makanan itu yang dicari, ya, enaknya. Emang, siapa, sih, yang pertama kali membuat aturan kalau jajanan di ruang tamu bukan Khong Guan berarti malu-maluin?

Perlu dicatat, ya, harga Biskuit Khong Guan di daerah saya, Bondowoso, bisa sampai melebihi 100-ribuan. Daripada dibuat beli biskuit yang cuma jadi pajangan doang, mending beli jajanan yang banyak disukai orang, kan. Ingat, disukai rasanya, bukan gengsinya.

Baca Juga:

Nostalgia Masa Kejayaan Bata, Sepatu Jadul yang Membuat Saya Sombong saat Lebaran

Serbuan Plat Luar Jogja di Kala Musim Liburan, Ujian Kesabaran dan Fenomena yang Bikin Dilema Warga Jogja

Kebutuhan pada penerimaan sosial

Kita sering mengira keputusan membeli sesuatu itu didasari logika. Kalau jajanan, ya, rasanya harus enak, harga masuk akal, dan kualitasnya bagus. Tapi, dalam kasus Khong Guan, yang bekerja bukan lagi logika, melainkan naluri sosial.

Manusia itu, seaneh-anehnya, tetap makhluk yang pengin diakui oleh sesamanya. Dalam konteks lebaran atau hari besar, misalnya, suguhan di meja tamu jadi semacam “ujian tidak tertulis” buat nunjukin seberapa layak seseorang di mata orang lain.

Nah, itu mengapa beli Khong Guan bukan cuma soal makan biskuit, tapi juga soal menjaga citra. Kebiasaan ini makin kuat dari tahun ke tahun, karena orang nggak mau kelihatan beda. Akhirnya, meski harga naik dan rasa tetap gitu-gitu aja, Khong Guan tetap dibeli juga. Karena, nggak ada orang yang mau kelihatan aneh secara sosial, kan?

Udah saatnya kita berhenti berpura-pura

Tradisi beli Biskuit Khong Guan saat lebaran atau hari-hari besar itu bukan lagi soal menjaga warisan keluarga. Akan tetapi soal membiarkan diri terjebak dalam gengsi yang nggak seharusnya dipelihara.

Kita sering bangga ngomong soal hidup hemat, tapi tiap lebaran rela mengucurkan uang buat simbol sosial yang nggak lagi punya makna. Itu bukan tradisi, tapi kebiasaan konsumtif yang dipoles dengan nostalgia murahan.

Nggak ada salahnya berhenti. Nggak ada dosa juga kalau tahun depan meja tamu nggak dihiasi kaleng Khong Guan. Toh, tamu datang mestinya buat silaturahmi, bukan menilai status sosial seseorang.

Pada akhirnya, yang harus kita jaga itu bukan persoalan kaleng doang, tapi akal sehat. Dan akal sehat itu, seharusnya, nggak bisa dibeli seharga seratus ribu di toko kelontong.

Penulis: Ahmad Dani Fauzan
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Wawancara Singkat Bersama Rengginang: Menggugat Guyonan Basi “Kaleng Khong Guan Isi Rengginang”

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 Oktober 2025 oleh

Tags: biskuit khong guancemilan khas lebarankaleng khong guanLebaran
Ahmad Dani Fauzan

Ahmad Dani Fauzan

Pemuda asal Kota Tape Bondowoso. Tertarik memotret dan merenungi isu sosial. Bercita-cita punya Baitul Hikmah pribadi.

ArtikelTerkait

malam lebaran

Kebahagiaan Anak-Anak Desa di Malam Lebaran

4 Juni 2019
hujan di bulan juni

Bulan Juni Kali Ini Tidak Hanya Soal Hujan Ala Pak Sapardi

2 Juni 2019
mohon maaf lahir batin

Ingat! Mohon Maaf Lahir Batin Jangan Hanya Saat Lebaran

6 Juni 2019
takmir masjid

Surat Terbuka Untuk Takmir Masjid Jelang Berakhirnya Bulan Ramadan

4 Juni 2019
baju baru

Pamer Baju Baru dan Menyalakan Petasan Bukan Budaya Kita

4 Juni 2019
Penting tapi Kadang Dilupakan: Kursi Tunggu di Tempat Belanja terminal mojok.co

Belanja Lebaran Bareng Om Baudrillard

4 Juni 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mobil Innova Reborn, Mobil yang Bisa Dianggap sebagai Investasi Terbaik sekaligus Mesin Penghasil Uang innova reborn diesel

Saya Akhirnya Tahu Kenapa Innova Reborn Diesel Dipuja Banyak Orang, Beneran Sebagus Itu!

7 Januari 2026
Pengalaman Tertipu Beli Durian di Wonosalam, Pusatnya “Raja Buah” di Jombang Mojok.co

Pengalaman Tertipu Beli Durian di Wonosalam, Pusatnya “Raja Buah” di Jombang

7 Januari 2026
Seharusnya Suzuki Melakukan 3 Hal Ini Supaya Motornya Diminati Banyak Orang

Seharusnya Suzuki Melakukan 3 Hal Ini Supaya Motornya Diminati Banyak Orang

10 Januari 2026
Buat Anak Organisasi Mahasiswa, Berhenti Bolos Masuk Kelas, Kegiatanmu Tidak Sepenting Itu!

Wajar Banget kalau Mahasiswa Sekarang Mikir 2 Kali Sebelum Masuk Organisasi Mahasiswa

7 Januari 2026
5 Hal yang Tidak Orang Katakan Soal Beasiswa LPDP Mojok.co

5 Hal yang Orang-orang Jarang Katakan Soal Beasiswa LPDP

10 Januari 2026
7 Aturan Tak Tertulis Tinggal di Kebumen (Unsplash)

7 Aturan Tak Tertulis ketika Menetap di Kebumen yang Harus Kamu Tahu Biar Nggak Kaget

4 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Lalu-lalang Bus Pariwisata Jadi “Beban” bagi Sumbu Filosofi Jogja, Harus Benar-benar Ditata
  • Sensasi Pakai MY LAWSON: Aplikasi Membership Lawson yang Beri Ragam Keuntungan Ekslusif buat Pelanggan
  • Super Flu yang Muncul di Jogja Memang Lebih Berat dari Flu Biasa, tapi Beda dengan Covid-19
  • Derita Anak Bungsu Saat Kakak Gagal Penuhi Harapan Orang tua dan Tak Lagi Peduli dengan Kondisi Rumah
  • Nasib Sarjana Kini: Masuk 14 Juta Pekerja Bergaji di Bawah UMP, Jadi Korban Kesenjangan Dunia Kerja
  • Mengajari Siswa Down Syndrome Cara Marah, karena Dunia Tidak Selalu Ramah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.