Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Ketika Urusan Makan Jadi Ribet karena Mempertimbangkan Rating Suatu Restoran

Seto Wicaksono oleh Seto Wicaksono
18 Desember 2019
A A
Ketika Urusan Makan Jadi Ribet karena Mempertimbangkan Rating Suatu Restoran
Share on FacebookShare on Twitter

Sebelumnya, saya pikir aktivitas makan akan menjadi sulit dan lama (dalam memilih menu makanan) ketika seseorang dihadapkan dengan pertanyaan, “Kamu mau pesan apa?” Bukan hanya sekali-dua kali saya dihadapkan dengan situasi tersebut. Entah kenapa, seseorang akan menjadi kebingungan ketika diajukan pertanyaan tersebut—bahkan untuk memilih menu makan sekalipun. Mungkin ada baiknya tidak perlu ditanya sama sekali sampai bisa memilih sendiri.

Apalagi yang diperkenalkan dan disarankan orang lain belum tentu cocok juga, kan? Walaupun sudah dijelaskan baik-buruknya. Eh, gimana?

Zaman sudah mengalami banyak perubahan—berkembang dan terus maju. Kebiasaan, gaya, dan durasi seseorang dalam memilih menu pun mengalami perubahan. Jika sebelumnya akan lama dan kebingungan memilih menu saat ditanya ingin memesan apa, kini banyak orang akan semakin lama memilih menu saat dihadapkan dengan beberapa promo di beberapa aplikasi—baik aplikasi pemesanan makanan maupun aplikasi pembayaran digital.

Maklum, promo antara satu aplikasi dengan aplikasi yang lain persaingannya terbilang cukup ketat dan menguntungkan konsumen. Oleh karena itu, selain dalam memilih menu, menentukan tempat makan yang memiliki promo paling menguntungkan pun patut dipertimbangkan. Apalagi sarat akan potensi untuk menghemat neraca keuangan hingga akhir bulan.

Sebelum berkembangnya era digital seperti sekarang, rasa-rasanya memilih tempat atau menu makanan dapat ditentukan dengan mudah. Antara suka-tidak suka dengan rasa makanannya (menyesuaikan selera), atau harganya sesuai dengan budget (kondisi keuangan terkini) atau tidak. Namun, saat ini tidak sesederhana itu, perlu banyak pertimbangan dari para konsumen—selain promo pastinya. Karena permasalahan jarak atau lokasi sudah diselesaikan oleh kehadiran Go-Food dan Grab-Food yang siap mengantar kapan pun dan di mana pun.

Hal itu terjadi bukannya tanpa alasan, mengingat saat ini ada aplikasi untuk mengulas banyak tempat makan, lengkap dengan rating dan juga testimoni secara menyeluruh. Saya cukup yakin, tujuan adanya ulasan dan testimoni dari aplikasi tersebut sangat baik, untuk memberi gambaran bagaimana lokasi juga rasa makanan pada suatu tempat makan. Di samping agar bisa melihat menu apa saja yang ada di tempat tersebut.

Hal tidak terduga dari adanya rating dan berbagai ulasan banyak para konsumen adalah ribetnya memilih tempat atau menu makanan. Banyak orang menjadi lebih selektif atas dasar rating yang tertera di aplikasi atau internet. Padahal, bagi saya pribadi, pemberian rating terkadang tidak objektif alias menyesuaikan selera—tergantung setiap orang dan tidak bisa disamaratakan. Jadi, untuk apa sih sampai harus berpatokan pada rating tersebut?

Masalahnya lagi, urusan sederhana tentang pemilihan makan apa dan mau makan di mana menjadi lebih sulit dibanding biasanya karena mempertimbangkan rating. Jika rating tinggi, langsung memesan tanpa ragu. Begitu pula sebaliknya, jika rating rendah maka bisa tidak selera atau tidak jadi membeli. Padahal, sekali lagi, soal makanan bisa jadi menyangkut selera masing-masing orang.

Baca Juga:

5 Alasan Pesan Makan Online Masih Lebih Logis daripada Beli Langsung di Warung meski Zaman Promo Sudah Berlalu

Jangan Terkecoh! Saya Jelaskan Kenapa Makan di Restoran All You Can Eat Itu Nggak Logis, Cuma Bikin Dompet Nangis

Beberapa kali saya juga pernah terjebak di situasi yang serupa. Saat sedang memilih tempat makan via aplikasi dengan teman, dia membuat standar sendiri, “Yang ratingnya kecil nggak usah dicobain, lah, berarti kan nggak enak. Makanya dikasih rating kecil.” Padahal, sadar atau tidak, rating memiliki dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, karena kepuasan dan penilaian yang baik dari para pelanggan, rating akan tinggi dan secara otomatis akan menjadi tempat yang direkomendasikan. Di sisi lain, rating buruk yang didapat tidak melulu soal layak dan bagusnya suatu tempat atau enaknya suatu masakan, bisa jadi karena tidak suka atau ada sentimen lain.

Itu sebabnya, saya memilih untuk tidak langsung percaya kepada rating suatu tempat makan yang tertera pada aplikasi atau web. Saya merasa, harus mencobanya lebih dulu baru bisa memberi penilaian. Tapi, kembali lagi, penilaian soal cita rasa bisa jadi akan subjektif. Paling tidak, hal itu lebih baik dibanding berprasangka atau menolak (hanya karena rating terlihat rendah) sebelum mencoba. Kan nggak lucu berkomentar banyak seakan tahu segalanya, tapi setelah ditanya tahu dari mana, jawabnya malah, “Dari rating sama komentar orang di internet.” Hadeeeh.

Tapi, setelah diingat lagi, sekarang memang lagi tren seperti itu, kan? Sok tahu aja dulu walaupun belum merasakan secara langsung. Kalau ditanya sumbernya dari mana, ya dari internet, lah!

BACA JUGA Diet Plastik Memang Baik, Tapi Godaan Promo GoFood dan GrabFood Susah Dilawan! atau tulisan Seto Wicaksono lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 18 Desember 2019 oleh

Tags: gofoodgrabfoodmakanrating restoran
Seto Wicaksono

Seto Wicaksono

Kelahiran 20 Juli. Fans Liverpool FC. Lulusan Psikologi Universitas Gunadarma. Seorang Suami, Ayah, dan Recruiter di suatu perusahaan.

ArtikelTerkait

4 Aturan Tidak Tertulis Saat Makan di Rumah Makan yang Terpaksa Harus Saya Tulis

4 Aturan Tidak Tertulis Saat Makan di Rumah Makan yang Terpaksa Harus Saya Tulis

17 Februari 2024
5 Dosa Makan Martabak dari Perspektif Penjualnya Terminal Mojok.co

5 Dosa Saat Makan Martabak dari Perspektif Penjualnya

4 April 2022
Jangan Makan Indomie Tanpa 6 Bahan Tambahan Ini terminal mojok

Jangan Makan Indomie Tanpa 6 Bahan Tambahan Ini

12 Desember 2021
Nggak Doyan Makan Ikan Itu Bukannya Belagu, Cuma Nggak Suka Ribet Aja! Terminal Mojok

Nggak Doyan Makan Ikan Itu Bukannya Belagu, Cuma Nggak Suka Ribet Aja!

1 Maret 2021
Panduan Makan Nikmat buat Penderita Covid-19 terminal mojok

Panduan Makan Nikmat buat Penderita Covid-19

7 Juli 2021
Jangan Terkecoh! Saya Jelaskan Kenapa Makan di Restoran All You Can Eat Itu Nggak Logis, Cuma Bikin Dompet Nangis

Jangan Terkecoh! Saya Jelaskan Kenapa Makan di Restoran All You Can Eat Itu Nggak Logis, Cuma Bikin Dompet Nangis

15 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ponorogo Cuma Reognya Aja yang Terkenal, Kotanya sih Nggak Terkenal Sama Sekali

Ponorogo Cuma Reognya Aja yang Terkenal, Kotanya sih Nggak Terkenal Sama Sekali

2 Februari 2026
Lawson X Jujutsu Kaisen: Bawa Kerusuhan Klenik Shibuya di Jajananmu

Lawson X Jujutsu Kaisen: Bawa Kerusuhan Klenik Shibuya di Jajananmu

31 Januari 2026
Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat Mojok.co

Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat

5 Februari 2026
Jurusan Ekonomi Menyelamatkan Saya dari Jurusan Kedokteran yang seperti Robot Mojok.co

Jurusan Ekonomi Menyelamatkan Saya dari Jurusan Kedokteran yang seperti Robot

30 Januari 2026
8 Dosa Penjual Kue Pukis yang Mengecewakan Pembeli (Danangtrihartanto - Wikimedia Commons)

8 Dosa Penjual Kue Pukis yang Sering Disepelekan Penjual dan Mengecewakan Pembeli

30 Januari 2026
Di Sumenep, Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

Di Sumenep Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

4 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign
  • Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia
  • Film “Surat untuk Masa Mudaku”: Realitas Kehidupan Anak Panti dan Lansia yang Kesepian tapi Saling Mengasihi
  • Lulusan Sarjana Nekat Jadi Pengasuh Anak karena Susah Dapat Kerja, Kini Malah Dapat Upah 450 Ribu per Jam
  • Krian Sidoarjo Dicap Bobrok Padahal Nyaman Ditinggali: Ijazah SMK Berguna, Hidup Seimbang di Desa, Banyak Sisi Jarang Dilihat

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.