Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Kesetaraan Gender Bukan Mimpi Lagi di Hadapan Teknologi

Aprilia Kumala oleh Aprilia Kumala
8 Maret 2021
A A
melissa siska juminto coo tokopedia najwa shihab founder narasi tv kesetaraan gender teknologi hari perempuan sedunia 2021 mojok.co

melissa siska juminto coo tokopedia najwa shihab founder narasi tv kesetaraan gender teknologi hari perempuan sedunia 2021 mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Pernah terpikir tidak bahwa perdebatan kontroversial “siapa-yang-bayarin-makan-di-kencan-pertama” sesungguhnya adalah kritik sosial terhadap belum terwujudnya kesetaraan gender di Indonesia?

Gini, gini. Coba ingat-ingat apa yang jadi topik utama dalam diskusi tersebut. Beberapa orang merasa yakin bahwa seharusnya laki-lakilah yang membayar makan malam di kencan pertama sebagai bentuk kesopanan. Sebaliknya, tak sedikit yang percaya bahwa siapa yang ngajak duluan, dialah yang harus membayar. Kayak lirik lagu: Kau yang memulai, kau yang mengakhiri. Kau yang ngajak, kau yang bayarin.

ADVERTISEMENT

Namun, yang luput dari perhatian orang-orang, ada kemungkinan lain yang mendukung terjadinya kontroversi ini. Mula-mula, mari kita simak data dari Badan Pusat Statistik (BPS).

Disebutkan dalam data resmi, di dunia kerja, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) per Agustus 2020 untuk pegawai perempuan adalah 53,13 persen, sedangkan laki-laki mencapai 82,41. Angka ini mengajak kita semua untuk melihat data yang lain, yaitu data pendapatan. Ternyata, dari segi gaji, jaraknya juga jauh. Kalau per Februari 2020 rata-rata upah buruh laki-laki adalah 2,98 juta rupiah, buruh perempuan hanya dapat 2,35 juta rupiah.

Dari data ini, saya jadi curiga bahwa jarak antara pendapatan pegawai laki-laki dan perempuanlah yang menjadi salah satu penyebab diskusi sengit soal “siapa-yang-bayarin-makan-di-kencan-pertama”. Selagi beberapa orang berfokus pada aspek kesopanan dan kesetaraan, beberapa lainnya mungkin baru saja mengalami kesenjangan yang menyebalkan di slip gaji.

Itu baru satu hal yang bisa kita amati dari PR kesetaraan gender. Di luar nominal pendapatan, ada banyak alasan yang melatarbelakangi rendahnya partisipasi pegawai perempuan dan besarnya jarak antara keberadaan kedua gender. Salah satunya adalah fakta bahwa perempuan—sayangnya—lebih jarang dapat promosi jabatan.

Secara umum, ada lebih banyak pekerja laki-laki di posisi senior manajemen perusahaan, sedangkan pekerja perempuan kebanyakan berada di posisi yang lebih rendah. Sebuah studi menyebutkan bahwa hanya 5 persen perempuan yang berhasil sampai ke level CEO di perusahaan. Bahkan meski ia punya pendidikan lebih tinggi dan pengalaman yang mumpuni, perempuan tak selalu mendapat promosi jabatan yang setimpal jika dibandingkan laki-laki.

Lantas, apakah hal ini akan terjadi selamanya? Eits, tunggu dulu.

Baca Juga:

Nasib perempuan usia 20 tahunan di desa, dianggap sudah tua dan dipaksa menikah 

Anak pertama perempuan, peran yang paling melelahkan di dunia setelah jadi ibu

Kesenjangan gender dan perbedaan angka Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja laki-laki dan perempuan tentu bukan PR yang bisa diselesaikan dalam semalam. Namun, berkat transformasi digital yang berjalan terus-terusan, kesempatan dan peluang kerja bagi gender mana pun sekarang sudah terbuka lebih lebar.

Beberapa tahun belakangan, tokoh-tokoh pemimpin perempuan mulai bermunculan. Fenomena ini seolah memperlihatkan bahwa apa yang dulu tampak terlalu maskulin kini menjadi sesuatu yang bisa dimasuki siapa saja secara adil. Ada banyak nama yang bisa kita amati, mulai dari Prima Sulistya sebagai Redaktur Pelaksana Mojok.co (cieee), Najwa Shihab yang mendirikan Narasi TV, Maya Juwita sebagai Direktur Eksekutif di Indonesia Business Coalition for Women Empowerment, hingga Melissa Siska Juminto sebagai COO Tokopedia dan Priscilla Anais sebagai AVP Product di perusahaan yang sama.

Dilansir dari IDN Times, Melissa mulanya menjabat accounting and finance lead di Tokopedia pada tahun 2012. Ketekunannya membawa dirinya melesat dengan karier cemerlang, bahkan sempat meraih The Best Marketing Campaign dengan tajuk “Ciptakan Peluangmu” di Tokopedia. Saat ini, dengan jabatan C-level, Melissa bagaikan Dewi Srikandi yang jadi panutan prajurit perempuan.

Namun, ada satu pertanyaan lain yang mengganjal: Dari hebatnya nama perempuan pemimpin perusahaan di atas, pernah nggak, sih, mereka mengalami perasaan kurang percaya diri atau—seperti yang diucapkan oleh tokoh Neti dalam film Imperfect—merasa insecure?

Priscilla Anais adalah jawaban nyatanya. Di usia yang masih tergolong muda, berkat kegigihannya, perempuan lulusan Harvard Business School ini berhasil menapaki jenjang karier dengan pesat dan kini menjabat sebagai Associate Vice President of Product di Tokopedia. 

Tanggung jawab yang besar inilah yang kadang membuatnya ragu dan insecure: Benar bisa nggak, ya? Baginya, sebuah perusahaan yang menyerahkan kepercayaan begitu besar pada pemimpin muda adalah sesuatu yang luar biasa. Apalagi, tantangannya banyak dan nggak semudah membalikkan tangan. Sebagai manusia biasa, jelas ia harus berbesar hati dan bekerja sambil belajar bersama seluruh anggota tim. Kalau diibaratkan dalam sebuah pantun, mungkin keadaannya begini: Kalau ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi. Kalau ada halangan menghadang, sudah pasti harus tetap dihadapi.

Dengan posisi setara dan mengikisnya diskriminasi gender berkat transformasi digital, semakin dekat pula kita pada “ramalan” riset McKinsey tahun 2018 lalu. Disebutkan, kesetaraan gender ini punya potensi meningkatkan perekonomian Indonesia sampai ke angka 135 miliar dolar AS di tahun 2025 nanti. Loh, kok bisa?

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati—yang juga menjadi sosok perempuan pemimpin paling menginspirasi—menyebutkan bahwa ketidaksetaraan gender memang berdampak buruk pada produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Akibat kesenjangan gender tadi, kita terancam kehilangan 12 triliun dolar atau setara dengan 16,5% dari total PDB di seluruh dunia.

Untuk itulah, lanjut Sri Mulyani, berbagai kebijakan dikeluarkan untuk mencapai tujuan kesetaraan gender, salah satunya berupa kesempatan bagi para perempuan untuk bekerja di rumah. Dalam hal ini, ia merujuk pada bidang perdagangan online atau e-commerce.

Lagi-lagi, ini soal perkembangan teknologi digital. Selain melahirkan pemimpin, ia bahkan membuka peluang lebih besar untuk perempuan mana saja, di level apa saja. Bukankah ini seperti mimpi yang jadi kenyataan? Mimpi yang menegaskan bahwa kita, sebagai perempuan, bisa menjadi manusia setara dengan laki-laki, dengan peluang yang sama, potensi yang berhak dikembangkan, dan tujuan yang jadi terasa lebih dekat.

Kini, perempuan mana saja yang tengah berusaha sudah pasti punya kemungkinan yang sama untuk berhasil, untuk bangkit dan memimpin apa yang diupayakan sekuat hati. Seperti Sri Mulyani. Atau Najwa Shihab. Atau Melissa Siska.

Atau seperti kamu, yang berusaha tak padam-padam.

Foto dari Instagram Melissa Siska Juminto.

BACA JUGA Mana yang Lebih Baik Mengatasi Pandemi, Pemimpin Perempuan atau Laki-laki? dan tulisan Aprilia Kumala lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 8 Maret 2021 oleh

Tags: hari perempuan seduniaKesetaraan Genderpemimpin perempuanPerempuanteknologi
Aprilia Kumala

Aprilia Kumala

Editor lepas. Copywriter. Kata Pottermore, dia lulusan Hufflepuff. Saat ini menjadi seorang freelancer paruh waktu yang operasional hidupnya didorong oleh dedikasi penuh pada semesta Harry Potter.

ArtikelTerkait

Yang Terjadi Ketika Perempuan Stop Bilang 'Terserah' terminal mojok.co

Embel-embel Kewajiban Perempuan Membuat Saya Malas Beres-beres Rumah

21 November 2020
Nasib Penjual Mp3 yang Setia dan Bertahan Selama 11 Tahun terminal mojok.co

Nasib Penjual Mp3 yang Setia dan Bertahan Selama 11 Tahun

25 Oktober 2020
Penyebutan Perempuan dalam Masyarakat Jawa dan Makna Filosofis di Baliknya

Penyebutan Perempuan dalam Masyarakat Jawa dan Makna Filosofis di Baliknya

27 April 2020
5 Hal Ngeselin yang Dihadapi Cewek Bertubuh Mungil terminal mojok

5 Hal Ngeselin yang Dihadapi Cewek Bertubuh Mungil

15 Juni 2021
Anak pertama perempuan, peran yang paling melelahkan di dunia setelah jadi ibu Mojok.co

Anak pertama perempuan, peran yang paling melelahkan di dunia setelah jadi ibu

2 Agustus 2026
Lebaran Tahun Ini: Meski Raga Tak Bersama, Silaturahmi Tetap Harus Terjaga Berlutut dan Pakai Bahasa Jawa Kromo Adalah The Real Sungkeman saat Lebaran Selain Hati, Alam Juga Harus Kembali Fitrah di Hari yang Fitri Nanti Starter Pack Kue dan Jajanan saat Lebaran di Meja Tamu Mengenang Keseruan Silaturahmi Lebaran demi Mendapat Selembar Uang Baru Pasta Gigi Siwak: Antara Sunnah Nabi Atau Komoditas Agama (Lagi) Dilema Perempuan Ketika Menentukan Target Khataman Alquran di Bulan Ramadan Suka Duka Menjalani Ramadan Tersepi yang Jatuh di Tahun Ini Melewati Ramadan dengan Jadi Anak Satu-satunya di Rumah Saat Pandemi Memang Berat Belajar Gaya Hidup Eco-Ramadan dan Menghitung Pengeluaran yang Dibutuhkan Anak-anak yang Rame di Masjid Saat Tarawih Itu Nggak Nakal, Cuma Lagi Perform Aja Fenomena Pindah-pindah Masjid Saat Buka Puasa dan Salat Tarawih Berjamaah 5 Aktivitas yang Bisa Jadi Ramadan Goals Kamu (Selain Tidur) Nanti Kita Cerita tentang Pesantren Kilat Hari Ini Sejak Kapan sih Istilah Ngabuburit Jadi Tren Ketika Ramadan? Kata Siapa Nggak Ada Pasar Ramadan Tahun Ini? Buat yang Ngotot Tarawih Rame-rame di Masjid, Apa Susahnya sih Salat di Rumah? Hukum Prank dalam Islam Sudah Sering Dijelaskan, Mungkin Mereka Lupa Buat Apa Sahur on the Road kalau Malah Nyusahin Orang? Bagi-bagi Takjil tapi Minim Plastik? Bisa Banget, kok! Nikah di Usia 12 Tahun demi Cegah Zina Itu Ramashok! Mending Puasa Aja! Mengenang Kembali Teror Komik Siksa Neraka yang Bikin Trauma Keluh Kesah Siklus Menstruasi “Buka Tutup” Ketika Ramadan Angsle: Menu Takjil yang Nggak Kalah Enak dari Kolak Nanjak Ambeng: Tradisi Buka Bersama ala Desa Pesisir Utara Lamongan

Dilema Perempuan Ketika Menentukan Target Khataman Alquran di Bulan Ramadan

17 Mei 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengalaman cabut gigi gratis dengan dokter koas: memang nggak keluar biaya, tapi dibayar dengan cuti dan jadwal yang tak tentu

Pengalaman cabut gigi gratis oleh dokter koas: memang nggak keluar biaya, tapi dibayar dengan cuti dan jadwal yang tak tentu

4 Agustus 2026
Kalau kamu pekerja dengan gaji UMK dua juta rupiah, masa depan cerah itu hanyalah bualan sampah

Kalau kamu pekerja dengan gaji UMK dua juta rupiah, masa depan cerah itu hanyalah bualan sampah

7 Agustus 2026
Bridesmaid dan groomsmen nggak guna di nikahan desa, tetap saja sinoman dan ibu-ibu dapur yang kerja Mojok.co

Bridesmaid dan groomsmen nggak guna di hajatan desa, tetap saja muda-mudi sinoman dan ibu-ibu dapur yang kerja

5 Agustus 2026
Jalan Nasional Purworejo vs Kulon Progo Ketimpangannya Begitu Terasa: Dalam Hitungan Meter, Dunia Begitu Berbeda

Purworejo, kota yang menyambutmu bukan dengan gapura selamat datang, tapi dengan jalan berlubang

5 Agustus 2026
Sebagai orang Sunda, jujur saya iri banget sama orang Jawa (Unsplash)

Sebagai orang Sunda, jujur saya iri banget sama orang Jawa

10 Agustus 2026
Jombang memang nggak punya pantai, tapi senja pinggir Sungai Brantas sukses bikin iri warga kabupaten tetangga

Jombang memang nggak punya pantai, tapi senja pinggir Sungai Brantas sukses bikin iri warga kabupaten tetangga

5 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.