Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Kesaksian Suporter: Malam Mencekam di Kanjuruhan dan Saya yang Gagal Menjadi Manusia

Devandra Abi Prasetyo oleh Devandra Abi Prasetyo
3 Oktober 2022
A A
Kesaksian Suporter Malam Mencekam di Kanjuruhan dan Saya yang Gagal Menjadi Manusia Terminal Mojok

Kesaksian Suporter Malam Mencekam di Kanjuruhan dan Saya yang Gagal Menjadi Manusia (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Setidaknya butuh waktu satu hari untuk saya berani menulis cerita ini. Trauma atas pertandingan malam itu di Stadion Kanjuruhan masih membekas. Siapa pun tak mengira bahwa selain mengorbankan uang dan waktu, saya dan ribuan suporter Arema lain juga harus siap jika nantinya pulang hanya dengan nama.

Lebih dari setengah umur telah saya habiskan untuk sepak bola, baik itu sebagai pemain atau menjadi suporter. Oleh karena itu saya yakin betul bahwa sepak bola adalah olahraga yang menyenangkan dan layak dinikmati semua kalangan. Rasa tegang karena tim yang saya dukung tak kunjung mencetak gol, panik karena tertinggal, bahkan sorak-sorai ketika bola berhasil menembus jala lawan merupakan perasaan roller coaster yang bisa saya rasakan selama pertandingan berjalan.

Apa yang saya yakini di atas ternyata salah. Malam mencekam 1 Oktober 2022 di Stadion Kanjuruhan, membuat saya sadar bahwa sepak bola bisa menjadi bencana dan dengan mudahnya merenggut nyawa siapa saja. Saya menjadi salah satu dari sekitar 42 ribu penonton yang malam itu hadir di Stadion Kanjuruhan.

Awalnya niat kami semua sama: mendukung Arema FC untuk bisa mengalahkan Persebaya Surabaya. Setidaknya, selama 90 menit plus 7 menit tambahan waktu, kami masih satu suara. Hingga sang pengadil lapangan meniupkan peluit panjang, barulah perbedaan keinginan dari kami mulai muncul.

Aremania jelas kecewa, beberapa dari mereka mengumpat. Ada yang memilih keluar stadion lebih dulu, tak sedikit pula yang meluapkannya dengan mengkritik pemain langsung dengan masuk ke dalam lapangan.

Stadion Kanjuruhan seperti medan perang

Saya tak perlu menjelaskan lagi bagaimana chaos-nya di dalam stadion, semua bisa kalian saksikan di berbagai media sosial. Kita harus mengakui bahwa masuk ke dalam lapangan adalah tindakan yang tidak dibenarkan. Pada poin ini, saya yakin Aremania akan satu suara mengatakan bahwa mereka telah melanggar aturan.

Di lapangan, ratusan orang berlari tak karuan. Mereka kejar-kejaran dengan para aparat yang memaksa mereka untuk mundur dan kembali ke tribun. Adanya pukulan, tendangan, bahkan injakan pun saya rasa masih hal yang “lumrah”, toh selama ini kekerasan selalu menjadi bagian ketika terjadi kerusuhan di sepak bola Indonesia, kan? Sudah, jangan denial.

Satu yang disesali oleh Aremania dan bahkan seluruh suporter Indonesia, adanya tembakan gas air mata yang diarahkan ke tribun penonton. Sialnya, Aremania yang berada di tribun adalah mereka yang tidak ikut turun ke lapangan dan mungkin juga sedang antre untuk keluar dari stadion.

Baca Juga:

UT, Kampus Terbaik Tempat Mahasiswa Tangguh yang Diam-diam Berjuang dan Bertahan Demi Masa Depan

Kapok Naik KA Bengawan, Sudah Booking Tiket Jauh Hari Malah Duduk Nggak Sesuai Kursi

Hal ini membuat para Aremania kalang-kabut. Bagaimanapun mereka hanya manusia biasa, insting untuk bertahan hidup mulai berjalan di sini. Laki-laki, perempuan, bahkan anak kecil, berdesak-desakan. Mereka dorong-dorongan dan bahkan terinjak-injak hanya untuk bisa keluar melalui pintu yang kecil itu (Aremania jelas tahu sekecil apa pintu di gate 3 dan 2).

“Ndek njeroh rusuh, Mas, ditembaki gas air mata (Di dalam rusuh, Mas, ditembakin gas air mata),” ujar salah satu dari mereka yang berhasil keluar.

“Woiii, iki arek cilik disikno, ojok surung-surungan, saaken iki. Ayo, seng wedok ambek arek cilik metu sek! (Ini anak kecil didahulukan, jangan dorong-dorongan, kasihan ini. Ayo, yang perempuan sama anak kecil keluar duluan).”

Saya melihat ini dengan mata kepala saya sendiri, beruntung bagi mereka yang “kuat” karena masih bisa berjalan menjauh dari kerumunan. Bagi yang sudah tidak kuat, mereka langsung terkapar sesaat setelah berhasil keluar dari dalam stadion.

Kondisi di luar stadion justru lebih parah

Malam itu saya menonton di utara, atau lebih tepatnya masuk lewat gate 3. Sesaat setelah peluit berakhir, saya memutuskan untuk keluar lewat gate 2 karena pintu di mana saya masuk sudah penuh sesak dengan suporter lain yang juga hendak keluar.

Saya pikir setelah keluar, semunya telah usai dan kericuhan hanya terjadi di dalam. Ternyata saya salah, kondisi di luar jauh lebih menyeramkan dan cukup untuk membuat saya ketakutan.

“Tuhan, saya tidak mau mati hari ini!”

Gate 3 cukup dekat dengan tribun VIP, yang membuat di sini banyak Aremania yang sudah menunggu para pemain Persebaya yang siap-siap untuk keluar dari Kanjuruhan. Mobil rantis yang berisi para pemain Bajul Ijo pun menjadi sasaran amukan mereka yang telah menunggu.

Saya pun cukup lama berdiam di gate 3, hingga akhirnya kami kembali ditembaki gas air mata. Hal ini membuat saya dan puluhan suporter lain berlindung di kios salah satu pedagang di Kanjuruhan dan menutup pintu kios supaya gas tidak masuk ke dalam.

Setelah dipikir semua sudah aman, kios pun kembali dibuka dan banyak dari kami yang sebelumnya berlindung, mulai menjauh dan mencari tempat yang aman. Belum sempat saya menjauh, kami kembali ditembaki, bukan dengan gas air mata, melainkan dengan mercon. Jika kalian tahu kembang api yang biasa dipakai di acara tahun baru yang bisa meledak ketika sampai atas, ya seperti itulah yang saya hadapi.

Saya pun kembali masuk ke kios yang sama, tentu bersama orang-orang lain. Di dalam, kami “buta” terhadap apa-apa saja yang terjadi di luar. Hanya suara teriakan dan ledakan mercon yang datang ke telinga kami. Hingga akhirnya, suara gedoran dari luar itu membuat hati saya tersayat. Bukan gedorannya, melainkan apa yang diucapkan oleh laki-laki itu.

“Tolong bukakno, Mas! Tolong, Mas, iki anakku. Tolong, Mas, iso mati iki areke! (Tolong bukakan, Mas! Tolong, ini anakku. Tolong, Mas, bisa mati nanti dia!)”

Hingga akhirnya pintu dibuka, mereka masuk bersamaan dengan sisa-sisa gas air mata yang ada di luar. Saya sedikit meneteskan air mata karena melihat anak kecil yang kurang lebih berusia 6 atau 7 tahun harus berjuang melawan gas air mata. Matanya merah, napasnya tak teratur, bahkan air matanya sudah kering karena terus-terusan menangis.

Saya merasa gagal menjadi manusia

Hingga akhirnya kami keluar dari kios itu sesaat setelah merasa semuanya sudah aman terkendali. Kali ini saya tak menyia-nyiakan waktu, saya langsung berjalan ke area yang lebih bebas dan tentu jauh lebih aman.

Selama perjalanan mencari tempat itu, saya melihat beberapa orang yang sudah berjatuhan, entah kecapekan, panik, atau sesak karena gas air mata. Bahkan—maaf sekali—saya sulit membedakan, apakah mereka pingsan atau sudah “pergi”.

Pun dengan seorang ibu yang menangis dan panik sambil menggendong balitanya bersama tiga orang TNI, berlari mencari pertolongan. Saya melihat sang anak sudah tak bergerak, tak ada respons atau tangisan. Saya tak mau berasumsi, hanya bisa mendoakan yang terbaik.

Ketika saya rasa sudah sampai di tempat yang aman, saya mendengar kepanikan dari Aremania karena salah satu temannya lemas tak berdaya. Tiga orang itu naik sepeda motor, memaksa membelah kemacetan agar teman mereka bisa sampai ke rumah sakit dengan cepat.

“Mas, amit, Mas. Koncoku gak ambekan. Tolong dalan e bukakno, Mas! (Mas, permisi. Temanku nggak bernapas. Tolong jalannya dibukakan, Mas!)”

Kurang lebih seperti ini yang saya ingat. Mereka panik karena salah satu temannya lemas tak berdaya dan harus segera mendapatkan pertolongan medis. Tak hanya satu kejadian, seingat saya ada tiga momen serupa. Kepanikan itu membuat nyali saya menciut, “Bagaimana jika itu adalah teman saya?”

Di pintu masuk dan keluar area Stadion Kanjuruhan pun sepertinya sudah diblokade. Dari tempat saya berdiri terlihat api yang membara, dan selang beberapa menit terjadi ledakan yang luar biasa dari salah satu truk pihak kepolisian. Kobaran api setinggi kurang lebih 10 atau 15 meter itu membuat para suporter berlari tunggang-langgang. Malam itu, Kanjuruhan semakin mencekam.

Di titik ini saya merasa gagal menjadi manusia. Didikan orang tua bahwa sebagai sesama makhluk ciptaan-Nya haruslah saling tolong-menolong ketika salah satu terkena musibah, tak bisa saya lakukan malam itu. Saya ingin sekali membantu mereka mendapatkan jalan yang enak menuju ke rumah sakit, tapi untuk membelah kerumunan ribuan suporter lainnya, kekuatan saya belum sampai untuk itu.

Terlebih beberapa orang mengatakan, “Ojok nang kono (pintu masuk area Kanjuruhan) sek, Mas. Sek kacau ndek kono. Ndek kene sek ae, aman. (Jangan ke sana dulu, Mas. Masih kacau di sana. Di sini dulu saja, aman).”

Ya, mungkin tragedi kemarin akan membuat saya trauma terhadap Arema dan Kanjuruhan. Terhadap klub dan stadion yang saya impi-impikan mulai kaki ini pertama kali menendang bola. Sudah cukup rasanya untuk salah-salahan. Bagi saya, semua elemen sepak bola Indonesia haruslah introspeksi. Para pemegang jabatan harus dengan rela mundur karena mereka telah gagal. Kejadian 1 Oktober 2022 mungkin adalah ledakan dari bom waktu ketidakseriusan mengurus sepak bola negeri ini.

Jika ratusan nyawa melayang tidak lagi membuka mata hati kalian, butuh berapa nyawa lagi untuk melakukan revolusi? Atau adagium bahwa “tak ada nyawa yang sebanding dengan sepak bola” hanya pemanis bibir belaka?

Penulis: Devandra Abi Prasetyo
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Tragedi Kanjuruhan: Mari Dukung Sanksi FIFA!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 4 Oktober 2022 oleh

Tags: aremapersebayapilihan redaksiStadion Kanjuruhantragedi kanjuruhan
Devandra Abi Prasetyo

Devandra Abi Prasetyo

Mas-mas Jawa penggemar sepak bola yang sedang mengadu nasib di belantara Jakarta. Hidup penuh ujian, terutama karena terjebak toxic relationship,

ArtikelTerkait

Kota Bandung Nol Besar Dalam Urusan Transportasi Massal  terminal mojok

Transportasi Massal di Kota Bandung Nilainya Memang Nol Besar, kok

27 September 2021
3 Tempat Wisata yang Wajib Dikunjungi di Ambarawa terminal mojok

3 Tempat Wisata yang Wajib Dikunjungi di Ambarawa

28 November 2021
Menguasai Bahasa Mandarin Lebih Menjanjikan daripada Bahasa Inggris, Peluang Kerja dan Gaji Lebih Besar Mojok.co

Menguasai Bahasa Mandarin Lebih Menjanjikan daripada Bahasa Inggris, Peluang Kerja dan Gaji Lebih Besar

11 Januari 2024
Kasta Tempat Duduk di Stadion Gelora Bung Tomo Surabaya terminal mojok.co

Kasta Tempat Duduk di Stadion Gelora Bung Tomo Surabaya

31 Januari 2022
Telagamurni, Desa Terbaik di Kabupaten Bekasi

Telagamurni, Desa Terbaik di Kabupaten Bekasi

7 Januari 2024
Menolak Arema FC Main di Bantul Itu Sudah Betul (Unsplash)

Menolak Arema FC Main di Bantul Itu Sudah Betul

5 Januari 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Perkampungan Pinggir Kali Code Jogja Nggak Sekumuh yang Dibayangkan Orang-orang meski Nggak Rapi

Perkampungan Pinggir Kali Code Jogja Nggak Sekumuh yang Dibayangkan Orang-orang meski Nggak Rapi

14 Januari 2026
Ilustrasi Purwokerto dan Purwakarta, Bikin Kurir Ekspedisi Kena Mental (Unsplash)

Purwokerto dan Purwakarta: Nama Mirip Beda Provinsi yang Bikin Paket Nyasar, Ongkir Membengkak, dan Kurir Ekspedisi Kena Mental

19 Januari 2026
8 Istilah Bau dalam Bahasa Jawa, dari Prengus sampai Badheg

8 Istilah Bau dalam Bahasa Jawa, dari Prengus sampai Badheg

15 Januari 2026
5 Istilah di Solo yang Biking Orang Jogja seperti Saya Plonga-plongo Mojok.co

5 Istilah di Solo yang Biking Orang Jogja seperti Saya Plonga-plongo

15 Januari 2026
Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus: Teriak Melawan Penindasan di Luar, tapi Seniornya Jadi Aktor Penindas Paling Kejam organisasi mahasiswa eksternal organisasi kampus

Fenomena Alumni Abadi di Organisasi Kampus: Sarjana Pengangguran yang Hobi Mengintervensi Junior demi Merawat Ego yang Remuk di Dunia Kerja

18 Januari 2026
4 Kebohongan Solo yang Nggak Tertulis di Brosur Wisata

4 Kebohongan Solo yang Nggak Tertulis di Brosur Wisata

16 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu
  • Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026
  • Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam
  • Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?
  • Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.