Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

Kenapa Tidak Ada yang Protes Harga Indomie Naik? Apakah Cinta Kita pada Mi Instan Sudah Kelewat Buta?

Taupik Rahman oleh Taupik Rahman
24 November 2024
A A
4 Varian Indomie yang Rasanya Gagal

4 Varian Indomie yang Rasanya Gagal (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

“Bang, Indomie naik ya sekarang?”

“Iya dek, lima ratus.”

“Yaudah deh, Bang, yang penting masih ada.”

Percakapan di atas mungkin terdengar sepele. Tapi coba bandingkan dengan reaksi orang pas harga telor naik, demo di mana-mana. Pas kopi sachet naik, Twitter rusuh. Pas bensin naik, jalanan macet karena convoy motor. Lah ini? Indomie naik kok pada adem ayem aja?

Mungkin karena kita udah terlanjur jadi pengikut setia ya. Pengikut apa? Ya pengikut Indomie lah. Sampai-sampai ada yang bikin meme “Agama Indomie”. Dan lucunya, kita semua paham konteksnya.

Di Afrika, sebungkus Indomie bisa dihargai setara Rp15.000. Dan orang-orang tetep beli. Mungkin “agama” ini benar-benar tak terbatas negara. Ia melampaui batas fisik, menghilangkan garis-garis yang dulu ada.

Ketika Indomie lebih dari sekadar mi instan

Kalau kata data World Instant Noodles Association (ya, organisasi ini beneran ada), Indonesia adalah konsumen mi instan terbesar kedua di dunia setelah China. Pada 2022 aja, kita ngabisin 13,27 miliar bungkus mi instan. Bayangin, itu setara dengan satu orang Indonesia makan 49 bungkus mi instan dalam setahun. Tapi ya gitu, yang namanya statistik kan rata-rata. Anak kosan mah bisa ngabisin segitu dalam sebulan.

“Yang penting Indomie ada stok bang, kalo nggak bisa rusuh anak kosan,” kata Mas Burjo yang warungnya persis di depan kosan gue. Dan dia nggak main-main. Pernah sekali stok Indomie dia abis, dan beneran ada yang rela jalan ke minimarket sebelah yang jaraknya 2 kilometer demi sebungkus mi goreng.

Data dari berbagai sumber menunjukkan, harga Indomie udah naik beberapa kali dalam 5 tahun terakhir. Dari yang tadinya Rp 2.500 per bungkus, sekarang udah tembus Rp3.500. Kenaikan 40% dalam 5 tahun. Tapi yang protes, hampir nggak ada. Mungkin ada, tapi riaknya begitu kecil untuk membuat ombak yang besar.

Bandingkan sama pas harga kopi sachet naik Rp500, Twitter langsung ramai dengan tweet “Ini rezim anti rakyat kecil!” atau “Masa kopi aja udah ga terjangkau?!” Lah Indomie? Paling mentok Cuma: “Mending nggak makan daging setahun daripada nggak makan Indomie sehari.” Dan yang bikin tweet begitu pun kayaknya setengah bercanda setengah serius.

Dari comfort food ke ‘agama’

Fenomena “Agama Indomie” ini sebenernya berawal dari meme di internet. Tapi lama-lama jadi kultur tersendiri. Ada grup Facebook namanya “Indomie adalah Berkah” yang isinya 200 ribu lebih member. Mereka share resep modifikasi, foto Indomie di berbagai negara (yang harganya bisa 5 kali lipat), sampe diskusi serius soal kombinasi Indomie yang paling “memberkahi”.

Baca Juga:

Orang yang Bilang Indomie Warkop Lebih Enak Itu Aneh, Beneran

Kenapa Ya, Makan Mie Instan Menjelang Tengah Malam Terasa Lebih Nikmat?

“Zakat fitrah pakai Indomie harusnya valid sih, kan ada nilai kalorinya,” tulis salah satu member. Yang komen di bawahnya malah nambahin: “Sekalian aja mas kawin pakai Indomie satu dus.”

Ada yang bilang, ini fenomena brand loyalty yang kebablasan. Tapi kalau dipikir-pikir, wajar sih. Mi instan udah jadi comfort food yang nggak cuma mengenyangkan perut, tapi juga menghangatkan hati. Pas tanggal tua, pas galau, pas lembur, pas hujan… Indomie selalu ada. Kayak yang dibilang temen gue: “Lo boleh putus sama pacar, tapi jangan putus sama Indomie.”

Psikolog konsumen bilang, ini contoh ekstrem dari emotional attachment ke sebuah produk. Kita udah nggak mikirin harga karena value yang didapet jauh lebih besar. Singkatnya: nikmatnya Indomie mengalahkan logika harga.

Mungkin ini bukti kalau cinta emang buta, bahkan ke mi instan sekalipun. Atau mungkin kita semua udah kena Stockholm syndrome, disiksa kenaikan harga berkali-kali tapi tetep loyal. Yang jelas, selama masih ada anak kosan, mahasiswa, dan perantau yang butuh asupan ‘berkah’, sepertinya Indomie bakal tetep jaya. Mau harganya naik jadi berapa juga.

Btw, ini artikel disponsori Supermie… bercanda deng. Nggak berani saya, ntar di-bully netizen.

Penulis: Taupik Rahman
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kasta Mie Instan Dobel, Mulai dari yang Paling Recommended sampai yang Paling Flop

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 24 November 2024 oleh

Tags: harga indomieindomiekenaikan
Taupik Rahman

Taupik Rahman

Anak muda yang curhat lewat tulisan.

ArtikelTerkait

Indomie Seleraku, tapi kalau Indomie Rawon Pedas Mercon, Maaf, Nggak Dulu

Indomie Seleraku, tapi kalau Indomie Rawon Pedas Mercon, Maaf, Nggak Dulu

6 Februari 2024
Same Energy: Makan dan Nongkrong di Warung Burjo tapi Nggak Beli Burjo

Bukan Hal Aneh: Makan di Warung Burjo tapi Nggak Beli Burjo

15 Maret 2020
Surat Jawab dari Pemeluk Ajaran Indomie buat Misionaris Mie Sedaap terminal mojok.co

Surat Jawab dari Pemeluk Ajaran Indomie buat Misionaris Mie Sedaap

15 Mei 2020
Makan Indomie Tengah Malam Adalah Budaya yang Harus Dilestarikan terminal mojok

Makan Indomie Tengah Malam Adalah Budaya yang Harus Dilestarikan

9 Juli 2021
7 Indomie Kuah yang Enak Dinikmati ketika Musim Hujan Mojok.co

7 Indomie Kuah yang Enak Dinikmati ketika Musim Hujan

10 Desember 2023
Indomie Goreng Kebab Rendang, Uniknya Perpaduan Rasa Timur Tengah dan Nusantara Terminal Mojok

Indomie Goreng Kebab Rendang: Perpaduan Rasa Daging yang Nendang dan Rempah yang Sopan di Lidah

27 September 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Penebang pohon keliling, profesi yang kerap dianggap sepele, dibayar murah, padahal taruhannya nyawa

Penebang pohon keliling, profesi yang kerap dianggap sepele, dibayar murah, padahal taruhannya nyawa

2 Agustus 2026
Dear Indosiar, terima kasih sudah menghibur ibu saya lewat acara dangdut D’Academy Mojok.co

Dear Indosiar, terima kasih sudah menghibur ibu saya lewat acara Dangdut Academy

5 Agustus 2026
Nonton timnas Indonesia di Youtube Reza Arap memang aneh (Wikimedia Commons)

Nonton timnas Indonesia di Youtube Reza Arap memang aneh, komentator nggak jelas, tapi jangan menghujat dulu

1 Agustus 2026
Kopdes mending jualan jasa aja ketimbang kalah sama Indomaret (Wikimedia Commons)

Kopdes mending jualan jasa aja ketimbang jualan barang entar pasti kalah sama Indomaret

7 Agustus 2026
Jombang memang nggak punya pantai, tapi senja pinggir Sungai Brantas sukses bikin iri warga kabupaten tetangga

Jombang memang nggak punya pantai, tapi senja pinggir Sungai Brantas sukses bikin iri warga kabupaten tetangga

5 Agustus 2026
Stadion karapan sapi di Bangkalan terlalu bapuk, orang sulit percaya ini ikon budaya Madura Mojok.co

Stadion karapan sapi di Bangkalan terlalu bapuk, orang sulit percaya ini ikon budaya Madura

3 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.