Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

Kenapa sih Sekolah Negeri Terobsesi dengan Kampus Negeri? Emang Kampus Swasta itu Jelek?  

Dyan Arfiana Ayu Puspita oleh Dyan Arfiana Ayu Puspita
21 Juni 2025
A A
Kenapa sih Sekolah Negeri Terobsesi dengan Kampus Negeri? Emang Kampus Swasta itu Jelek?  

Kenapa sih Sekolah Negeri Terobsesi dengan Kampus Negeri? Emang Kampus Swasta itu Jelek?  

Share on FacebookShare on Twitter

Menurut tulisan Mas Andi yang ini, sekolah hanya bangga dengan muridnya yang diterima di kampus negeri. Sisanya hanya dianggap remah-remah, bahkan dianggap ada pun tidak. Awalnya, saya ingin membantah. Dengan semangat membara saya ingin bilang, “Nggak kok, nggak gitu. Sekolah bangga dengan semua pencapaian muridnya. Mau masuk kampus negeri ataupun swasta, semuanya istimewa~”

Terlebih, saya lihat sendiri akun resmi SMA di Tegal memajang semua foto murid-muridnya yang diterima di kampus negeri maupun swasta. Namun, setelah saya iseng mengintip akun IG SMA lain di daerah berbeda—ya ampun, halah jebul iya. Yang dipajang hanya mereka yang diterima di kampus negeri. Nama dan logo kampusnya dibikin gede banget pula! Pokoknya, gimana caranya biar orang langsung ‘ngeh’, bahwa ada anak didik sekolah situ yang masuk kampus negeri.

Setelah saya ingat-ingat lagi, soal sekolah di Tegal yang tadi saya banggakan… Ya benar sih mereka memajang foto semua muridnya. Tapi, kalau dilihat lebih jeli lagi, yang swasta-swasta ini selalu ditaruh di slide akhir. Kampus negeri? Selalu di slide awal.

Alamak. Ini sih tulisan Mas Andi bukan sekadar opini, tapi laporan fakta! Kira-kira, kenapa ya sekolah bisa seobsesif itu dengan kampus negeri?

PTN dianggap cerminan mutu didik sekolah

Walau tidak adil, harus kita akui bahwa masyarakat kita kerap menilai mutu suatu SMA dari seberapa banyak lulusan mereka yang masuk PTN. Rumusnya sederhana saja: Semakin banyak murid sekolah tersebut masuk ke kampus negeri, semakin bagus mutunya.

Banyak loh orang tua yang menjadikan keterserapan alumni di kampus negeri sebagai pertimbangan sekolah anak mereka. Jika persentase keterserapannya tinggi, orang tua merasa lebih yakin menyekolahkan anak mereka di sekolah tersebut. Dalam keyakinan mereka, peluang anaknya untuk masuk PTN juga ikut membesar karena anaknya duduk di bangku yang sama dengan para pendahulunya.

Itu sebabnya, jangan heran kalau guru-guru jadi seperti agen SBMPTN. Mulai semester 5, anak-anak lebih sering diajari strategi UTBK daripada diajari cara menyusun CV, menghadapi interview kerja, apalagi berwirausaha. Sekolah jadi semacam lembaga pelatihan masuk PTN, lengkap dengan simulasi, try out, dan afirmasi motivasi.

Kampus negeri gampang untuk dipamerkan

Selain kerap dijadikan sebagai standar mutu pendidikan, fakta bahwa kampus negeri lebih gampang untuk dipamerkan juga jadi salah satu alasan kenapa sekolah terobsesi dengan kampus negeri.

Baca Juga:

Andai dapat rezeki nomplok Rp100 miliar, saya akan bangun sekolah yang kesejahteraan gurunya terjamin

Alasan orang tua tetap menyekolahkan anaknya di SD negeri di tengah pamor SD swasta yang kian moncer

Jadi begini. Setiap tahun, sekolah harus membuat laporan kinerja. Dan dari sekian banyak indikator, angka kelulusan ke kampus negeri adalah metrik paling gampang untuk dijadikan highlight. Kalau kalian bertanya gunanya untuk apa? Ya banyak!

Contohnya, laporan yang cantik akan lebih mudah “naik” ke dinas, enak juga untuk dijadikan bahan presentasi di berbagai kegiatan, dan kalau beruntung bisa jadi batu loncatan promosi jabatan. Misal mau dipamerkan di medsos sekolah juga kepenak. Ya kali orang-orang nggak kenal nama-nama beken macam UI, ITB, UGM, dkk? Lain cerita kalau kampus swasta yang mungkin orang harus searching dulu namanya di Google.

Budaya kompetisi antarsekolah

Obsesi terhadap kampus negeri ini semakin mengakar dengan adanya budaya kompetisi antarsekolah.

Sudah bukan rahasia lagi jika setiap kepala sekolah pasti ingin meninggalkan warisan. Dan bagi sebagian dari mereka, warisan terbaik adalah lulusan yang masuk PTN sebanyak mungkin. Itulah yang dimaksud dengan budaya kompetisi antarsekolah.

“Sekolah sebelah aja bisa ngirim 15 anak ke kampus itu, masa kita cuma 7?”

Kalimat seperti ini tentu tidak ada di banner sekolah. Tapi, muncul lantang di sesi rapat bulanan. Muncul pula saat jam pembinaan wali kelas. Siswanya yang dengar mungkin diam, tapi hati mereka jadi termotivasi. Eh. Motivasi atau tekanan, ya? Itulah pokoknya.

Akhirnya, perkara masuk kampus negeri melebar jadi gengsi kolektif. Sekolah jadi berlomba-lomba masukkan muridnya ke kampus negeri. Yang kalah diam, yang menang upload story. Semakin banyak anak panah yang tepat sasaran, semakin banggalah sekolahnya. Siswa dianggap bukan sekadar lulus, tapi sudah ditempatkan secara strategis di peta nasional.

Kampus negeri adalah bahan jualan terbaik saat SPMB

Dan kalian tahu? Sederet alasan di atas sejatinya bermuara pada satu tujuan, yaitu mendapat murid sebanyak-banyaknya saat Seleksi Penerimaan Murid baru (SPMB).

Brosur sekolah bisa saja memuat program ekstrakurikuler, kegiatan literasi, atau jadwal parenting class. Tapi konten yang paling dilirik calon murid dan orang tua tetap sama: jumlah siswa yang lolos ke PTN tahun lalu.

Sekolah tahu betul hal itu. Itu sebabnya, banyak sekolah yang menjadikan angka SNBT tahun sebelumnya sebagai bahan jualan yang utama. Dengan kata lain, murid bisa diganti tiap tahun, tapi reputasi masuk PTN harus abadi.

Jadi…

Kalau kembali ke judul awal tulisan ini, maka jawaban kenapa sekolah begitu terobsesi dengan kampus negeri, sudah jelas jawabannya. Tetapi, kalau pertanyaannya apakah kampus swasta itu otomatis jelek? Ya tentu tidak.

Di dunia pendidikan hari ini, batas antara “bagus” dan “jelek” sering kali ditentukan oleh variabel-variabel fana: akreditasi, ranking, branding, atau keterserapan kerja alumni. Padahal, semua itu bisa dibentuk, dibeli, dimanipulasi.

Tidak ada kampus yang benar-benar baik, pun tidak ada yang sepenuhnya buruk, baik negeri maupun swasta. Semuanya bergerak dalam logika yang sama, yaitu logika pasar. Dan di mata kapitalisme, nilai bukan soal mutu, tapi daya jual.

Aihhh, bisa nulis serius juga ternyata saya~

Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Biaya Perguruan Tinggi Negeri yang Mahal: Katanya Pendidikan Adalah Hak untuk Setiap Warga, tapi Kenapa Biayanya Nggak Masuk Akal?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 21 Juni 2025 oleh

Tags: kampus negerireputasiSekolahSPMButbk
Dyan Arfiana Ayu Puspita

Dyan Arfiana Ayu Puspita

Alumnus Universitas Terbuka yang bekerja sebagai guru SMK di Tegal. Menulis, teater, dan public speaking adalah dunianya.

ArtikelTerkait

7 Tahun Kuliah di UNY Berakhir Jadi Tertawaan dan Beban (Unsplash)

Saya Sempat Menyesal dan Malu setelah 7 Tahun Kuliah di UNY, Berakhir Jadi Beban Keluarga dan Ditertawakan Banyak Orang

25 April 2025
Jangan Ngaku Mahasiswa UNNES Semarang kalau Masih Asing dengan 3 Gang Ini Mojok.co

Jangan Ngaku Mahasiswa UNNES Semarang kalau Asing dengan Gang-gang Ini

1 Oktober 2025
Sisi Gelap Kuliah di Universitas Trunojoyo Madura, Kampus Murah yang Nggak Semua Orang Bisa Betah

Sisi Gelap Kuliah di Universitas Trunojoyo Madura, Kampus Murah yang Nggak Semua Orang Bisa Betah

18 Oktober 2025
Kontroversi Depok: Membangun Masjid tapi Menggusur Sekolah, Logikanya Gimana Sih?

Kontroversi Depok: Membangun Masjid tapi Menggusur Sekolah, Logikanya Gimana Sih?

15 Desember 2022
jurusan madesu, lulus kuliah

Gimana sih Rasanya Kuliah dan Lulus dari Jurusan yang Katanya “Madesu”?

19 Juni 2020
Perjuangan Jadi Sarjana Pertama di Keluarga: Gagal SNBT dan UTBK, Masuk Jalur Mandiri, hingga Kebingungan Bayar Kuliah Mojok.co

Perjuangan Jadi Sarjana Pertama di Keluarga: Gagal SNBT dan UTBK, Masuk Jalur Mandiri, hingga Kebingungan Bayar Kuliah

4 Juni 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Anak pertama perempuan, peran yang paling melelahkan di dunia setelah jadi ibu Mojok.co

Anak pertama perempuan, peran yang paling melelahkan di dunia setelah jadi ibu

2 Agustus 2026
3 lomba agustusan yang sebaiknya ditiadakan karena lebih banyak mudarat daripada manfaatnya Mojok.co

3 lomba agustusan yang sebaiknya ditiadakan karena lebih banyak mudarat daripada manfaatnya

6 Agustus 2026
Dear Indosiar, terima kasih sudah menghibur ibu saya lewat acara dangdut D’Academy Mojok.co

Dear Indosiar, terima kasih sudah menghibur ibu saya lewat acara Dangdut Academy

5 Agustus 2026
Pengalaman cabut gigi gratis dengan dokter koas: memang nggak keluar biaya, tapi dibayar dengan cuti dan jadwal yang tak tentu

Pengalaman cabut gigi gratis oleh dokter koas: memang nggak keluar biaya, tapi dibayar dengan cuti dan jadwal yang tak tentu

4 Agustus 2026
Bridesmaid dan groomsmen nggak guna di nikahan desa, tetap saja sinoman dan ibu-ibu dapur yang kerja Mojok.co

Bridesmaid dan groomsmen nggak guna di hajatan desa, tetap saja muda-mudi sinoman dan ibu-ibu dapur yang kerja

5 Agustus 2026
Culture shock anak pesisir pantura lihat pantai di Maluku: ternyata pantai bisa bersih, putih, dan tanpa bau amis

Culture shock anak pesisir pantura lihat pantai di Maluku: ternyata pantai bisa bersih, putih, dan tanpa bau amis

5 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.