Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Kenapa Orang Padang Ada Dimana-Mana?

Suci Fitrah Syari oleh Suci Fitrah Syari
11 Juni 2019
A A
orang padang

orang padang

Share on FacebookShare on Twitter

Tidak hanya makanan Padang aja yang ada dimana-mana, tapi orangnya juga. Saya mulai merasakannya ketika sebagian besar orang yang kutemui dalam perjalanan ku saat mengunjungi beberapa kota di Jawa, selalu dipertemukan dengan mereka. Kejadian itu bermula sejak saya berangkat dari pulau Sulawesi ke pulau Jawa. Perjalanan pertamaku dimulai di kota Kediri. Saya menyewa tempat tinggal sekitar beberapa bulan di sana. Awal mula saya bertemu orang Padang tidak lain karena ia adalah tetanggaku sendiri. Saat itu kami sama-sama mengambil kursus Bahasa Inggris. Saya merasa biasa-biasa saja saat bertemu orang Padang kala itu.

Setelah dari Kediri saya melanjutkan perjalanan ke kota Malang. Ketika tiba di Malang, saya memesan ojek online untuk membawa saya ke tempat tujuan. Dalam perjalanan, untuk memecah keheningan saya bersama bapak ojol saling bercengkrama. Hingga pada topik kami menanyakan kampung asal. Dan dia mengatakan, “Saya asli Padang, Mbak. Merantau ke Malang sejak tahun 2002.”

Pada pertemuan itu saya masih merasa biasa-biasa saja ketika bertemu dengan orang Padang (lagi). Tidak cukup sebulan di Malang, saya melanjutkan perjalanan ke kota Yogyakarta. Saat ingin ke stasiun Kota Baru Malang, saya tentu tidak jalan kaki, tapi memesan ojol pastinya. Seperti biasa, dalam perjalanan selalu saja ada topik yang bisa dibahas. “Asalnya dari mana, Mbak?” tanya bapak ojol. “Saya dari Sulawesi, Pak.” jawabku. “Kalau Bapak?” aku balik bertanya.

“Saya dari Padang. Di sini sejak tahun 2008. Anak saya juga sekolah di sini. Kelas 2 SMA sekarang.” Luar biasa, saya tiba dan pergi dari Malang diantar oleh dua orang yang berbeda, namun satu kampung yang sama, Padang bukan Malang.

Singkat cerita saya tiba di stasiun dan mencari kursi sesuai yang tertera di tiket kereta api. Tidak berselang lama, ada seorang pria yang duduk di kursi tepat di depanku. Merasa tak nyaman diem-dieman, lalu saya mulai membuka bicara, “mau kemana, Mas?” dan di jawab yang kedengarannya seperti aksen sunda, “Mau ke Bandung.” Oh orang Bandung—pikirku dalam hati. Tapi tunggu dulu, dia belum selesai berbicara, “tapi saya aslinya Padang, merantau sejak kuliah di Malang, lalu buka startup di Bandung.”

Wah ada apakah gerangan. Kenapa perjalananku dipenuhi dengan orang Padang. Hingga akhirnya saya tiba di kota Yogyakarta. Baru beberapa hari saya di sini. Belum ada tanda-tanda bahwa saya akan bertemu dengan orang Padang. Baik dari ojol, tetangga kos hingga pemilik kos sudah kutanyai asal-muasalnya. Tidak ingin terus memikirkan hal ini, saya berusaha fokus menjalankan ibadah Ramadan. Apalagi saat itu menjelang hari-hari akhir malam lailatul qodar. Saya ingat waktu itu sedang asyik mendengar ceramah dari seorang bapak tentang najis, “ada hal yang jarang dibahas di masyarakat. Yakni membersihkan diri saat buang air kecil dan besar sesuai sunah. Saya tidak tahu kalau di sini, cuma kami di Padang sana punya cara membersihkan diri dari hadas kecil juga besar seperti sunah.”

Tunggu, tunggu, bapak itu bilang apa tadi? Padang—artinya bapak penceramah ini orang Padang?

Saya mulai merenung, memikirkan kenapa orang Padang ada dimana-mana? Selama perjalanan kenapa mereka tak pernah absen. Pertanda apakah ini? Apakah saya yang terlalu berlebihan memikirkannya? Ataukah ini hanyalah kebetulan? Atau mungkin pertanda jodohku orang Padang? Dari pada pertanyaanku makin melambung jauh entah kemana, saya memberanikan diri bertanya langsung pada orang Padang. Saya tidak mencantumkan nama, bukan karena rahasia, tapi saya lupa namanya hehe. Mohon dimaklumi, karena pertemuan kami yang singkat namun begitu membekas. Jangan cie..cie dulu. Coba simak

Baca Juga:

Nasi Uduk Itu Nostalgia, Nasi Padang Itu Strategi Bertahan Hidup

4 Ciri Nasi Padang Redflag yang Bikin Nggak Nafsu Makan

“Bang, kok nggak mudik ke Padang?” tanyaku penasaran

“Saya tidak mau pulang kalau belum membawa sesuatu,” jawabnya lantang

“Oh oleh-oleh maksudnya, Bang?” tanyaku polos

“Bukan hanya oleh-oleh. Tapi sesuatu yang bisa memberi manfaat. Saat pulang, minimal keluarga dan masyarakat kampung merasakan manfaat dari kepulangan kita. Entah mau bangun rumah orangtua atau masjid, paling tidak kamu tidak pulang untuk dirimu sendiri. Tapi bermanfaat untuk orang-orang di kampungmu. Kalau saya sudah punya itu, maka saya akan pulang,” jawabnya penuh karisma.

Wah membekaskan. Akhirnya saya tahu jawabannya. Kenapa orang Padang ada di mana-mana—karena mereka memang memiliki jiwa perantau. Punya prinsip Minang yang mungkin pernah kita dengar ‘Alam takambang jadi guru’. Artinya bahwa mereka percaya alam dan pengalaman adalah guru terbaik. Dengan keluar kampung dan pergi merantau meraka akan mendapatkan banyak pelajaran untuk meraih sukses.

Jadi gitu Marimar—jangan baper dulu kalau sering ketemu orang Padang dengan mengaitkannya dengan berbagai hal. Memang sudah dari sononya mereka punya jiwa perantau—khususnya bagi para kaum Adam. Dan nggak sedikit juga yang sukses dan mampu menaklukkan tanah rantauanya—hingga akhirnya bertemu belahan jiwa dan membentuk keluarga. Makanya tuh, kita nggak hanya ketemu orang Padang di Warung Padang aja tapi di jalan, di dekat rumah dan di masjid juga ada. Akhirnya saya tahu deh jawabannya. Kalau kamu, seringnya ketemu orang apa? Asal jangan orang yang hobi PHP-an aja yhaaa~

Terakhir diperbarui pada 17 Januari 2022 oleh

Tags: Budaya IndonesiaNasi PadangOrang Padang
Suci Fitrah Syari

Suci Fitrah Syari

ArtikelTerkait

3 Alasan Banyak Orang Tegal Malah Jualan Nasi Padang (Unsplash)

3 Alasan Mengapa Sekarang Banyak Orang Tegal Nggak Mau Lagi Buka Warteg, Malah Jualan Nasi Padang

22 September 2024
Makan Nasi Padang Pakai Sendok Itu Kurang Kerjaan terminal mojok.co

“Padang Murah” the Unsung Hero

12 Juni 2020
yogyakarta

6 Event Seni Yogyakarta yang Haram Dilewatkan

11 September 2019
simbah

Yang Keliling Bocah-Bocah, yang Lebih Capek Malah Simbah-Simbah

6 Juni 2019
Duta Minang Jalan Kaliurang, Pilihan bagi Kalian yang Ingin Sahur Masakan Asli Padang yang Nendang Mojok.co

Duta Minang Jalan Kaliurang, Pilihan bagi Kalian yang Ingin Sahur Masakan Asli Padang yang Nendang

26 Maret 2024
5 Hal yang Bikin Pelanggan Kesal Saat Beli Nasi Padang

Dear Zee JKT48, Kamu Nggak Salah kok Makan Nasi Padang Pakai Sendok

8 Januari 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

12 Istilah Hujan yang Aneh dalam Bahasa Jawa, Ada “Tlenik-Tlenik” hingga “Kethek Ngilo” Mojok

12 Istilah Hujan yang Terdengar Aneh dalam Bahasa Jawa, Ada “Tlenik-Tlenik” hingga “Kethek Ngilo”

30 April 2026
Kalau Mau Ketemu Orang Baik, Coba Naik Trans Jogja (Unsplash)

Kalau Mau Ketemu Orang Baik, Coba Naik Trans Jogja

27 April 2026
4 Hal Menjengkelkan yang Saya Alami Saat Kuliah di UPN Veteran Jakarta Kampus Pondok Labu

Kuliah di Jakarta: Sebuah Anomali di Tengah Pemujaan Berlebihan terhadap Jogja dan Malang

26 April 2026
Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah Mojok.co

Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah

28 April 2026
Bandung Setelah Lebaran Jadi Surga Wisatawan, tapi Mimpi Buruk Warlok Mojok.co semarang

4 Hal yang Lumrah di Bandung tapi Tampak Aneh di Mata Orang Semarang

30 April 2026
Orang Wonogiri Layak Dinobatkan sebagai Orang Paling Bakoh Se-Jawa Tengah Mojok.co jogja

Saya Orang Wonogiri, Kerja di Jogja. Kalau Bisa Memilih Hidup di Mana, Tanpa Pikir Panjang Saya Akan Pilih Jogja

24 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh 
  • Solusi atas Jeritan Hati Para Pelaku UMKM yang Menderita karena Kenaikan Ekstrem Harga Plastik
  • Nikah di Desa Meresahkan, Perkara Undangan Cetak atau Digital Saja Jadi Masalah tapi Kemudian Sadar Nggak Semua Orang Melek Teknologi
  • Latihan Lawan Pria dan Mentalitas Tak Kenal Puas Jadi Resep Rahasia Tim Putri Ubaya Dominasi Campus League 2026 Regional Surabaya
  • Kos Dekat Kampus: Akal-akalan Mahasiswa “Malas” agar Tak Perlu Bangun Pagi dan Bisa Berangkat Mepet
  • Lulusan S2 di Jepang, Pilih Kerja sebagai Koki di Australia daripada Jadi Dosen di Indonesia karena Terlalu Senioritas

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.