Minggu lalu saya baru saja servis dan ganti oli di AHASS langganan. Saya habis sekitar 1,2 juta rupiah untuk reparasi shockbreaker, aki, dan lain-lain. Motor Honda saya adalah Vario 160 dan shockbreaker saya mati setelah 4 tahun penggunaan.
Dua hari kemudian, saya terjebak dalam obrolan bapak-bapak yang suka sekali adu nasib. Salah satu bapak 1 bilang baru saja servis motor Honda dia dan habis 200 ribu. Kata dia, itu udah mahal. Bapak 2 nggak mau kalah. Dia habis 350 ribu untuk beberapa penggantian komponen.
Nah, bapak 3, yaitu saya sendiri tentu nggak mau kalah. Apalagi saya habis paling banyak. “Saya habis 1,2 buat ganti shockbreaker sama aki.”
Kedua bapak tertawa dan bilang saya “kena tipu”. Keduanya kompak banget kalau meledek orang. Katanya lagi, jangan pernah servis di AHASS. Pasti disuruh ganti macem-macem. Saya hanya membatin. Kalau memang udah aus atau rusak, ya masak nggak diganti. Kan itu terkait keselamatan juga.
Takut bawa motor Honda ke AHASS
Sebetulnya saya sudah mendengar isu sejak lama. Bahwa ada beberapa pemilik motor Honda yang malas membawa motor mereka servis ke AHASS. Sebagai pemilik motor Honda yang langganan servis di AHASS, saya penasaran untuk mencari tahu lebih lanjut.
Inilah cerita yang saya dapat dari wawancara 2 bapak-bapak yang suka membandingkan dan adu nasib.
Malas antri panjang kalau di AHASS
Saya langsung malas sebetulnya kalau mempermasalahkan soal antrean. Ya semata ini gampang diatasi. Pertama, datang pagi. Banyak bengkel resmi motor Honda sudah siap pukul 7:30. Ya datanng aja 7:15. Beres.
Kedua, pakai booking servis. Datang ke sana dan minta nomor hape untuk booking. Pesan aja satu hari sebelum kamu servis. Gampang,
Servis ringan motor Honda tapi kena harga mahal
“Kok bisa, Pak? Tapi kan aman kalau di AHASS. Ada garansi juga.”
Itu saya bertanya ke bapak 1 tadi. Jadi, katanya, kalau bawa ke bengkel resmi itu nggak bisa nawar. Harganya tinggi pula.
Saya nggak bisa dan nggak mau menyalahkan si bapak ini. Harga suku cadang motor Honda kan sudah tetap ada bisa dicari tahu. Kalau memang nggak mau ganti, saya biasanya bilang aja nggak usah ganti. Kamu bisa cari alternatif di bengkel lain. Gampang.
Mekanik Honda itu nggak akan langsung ganti suku cadang tanpa izin pemilik. Ya kalau ada yang kayak gitu, mending komplain aja dan pindah AHASS lain.
Mekanik sering minta ganti
Ini saya bingung rada bingung karena jarang mengalaminya. Misalnya, dari 5 kali servis, mungkin hanya 1 kali mekanik menyarankan untuk ganti suku cadang.
Ketika menyarankan, si mekanik akan memanggil saya, menunjukkan suku cadang yang sudah tidak bagus, dan akibatnya kepada kendaraan. Semua dia jelaskan sampai clear. Dan, tidak memaksa kalau pemilik motor Honda nggak mau ganti.
Sementara itu, bapak 2 menyanggah saya dengan bilang gini: “Kalau di bengkel lain itu bisa diakali. Jadi nggak perlu ganti.”
Ya bener, sih. Itu bisa bikin ngirit juga. Namun, kalau memang udah aus dan jelek, kan bisa bahaya. Mengakali komponen yang udah rusak itu tidak mengubah fakta bahwa kerusakan itu ada. Kan gitu. Dan jadi bahaya buat pengendara.
Pengalaman buruk ketika membawa motor Honda servis di AHASS
Saya tidak akan membantah ketika si bapak 1 dan 2 bilang bahwa ada “mekanik nakal”. Oknum, orang jahat, atau apa aja deh istilahya, ada di mana saja. Saya pernah kok mengalaminya sendiri dan akhirnya pindah bengkel resmi. Orang jahat kayak gitu bikin kapok dan akhirnya terbentuk stigma negatif.
Jadi, ya balik aja ke diri sendiri. Kalau udah nemu oknum, pilihannya cuma dua. Laporkan dan pindah aja. Banyak bengkel resmi yang bagus dan jujur, kok.
Kalau langganan saya ada di AHASS Jalan Kusumanegara Jogja. Yang dekat apotek K24. Sudah hampir 4 tahun saya servis di sana dan selalu dapat mekanik yang andal.
Ini bukan bermaksud iklan atau mempromosikan bengkel resmi. Cuma memberi alternatif saja bahwa masih ada AHASS yang baik dan care sama motor Honda kesayangan kamu. Begitu.
Penulis: Yamadipati Seno
Editor: Yamadipati Seno
ACA JUGA 4 Hal yang Tak Ingin Kalian Dengar Saat Servis di Bengkel AHASS, Bikin Senam Jantung!
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
