Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Kemasan Rokok Polos Bukti Pemerintah Tidak Mengenal Rakyatnya. Pasti Gagal, dan yang Untung Justru Rokok Ilegal!

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
26 September 2024
A A
Kemasan Rokok Polos Bukti Pemerintah Tidak Mengenal Rakyatnya. Pasti Gagal, dan yang Untung Justru Rokok Ilegal!

Kemasan Rokok Polos Bukti Pemerintah Tidak Mengenal Rakyatnya. Pasti Gagal, dan yang Untung Justru Rokok Ilegal!

Share on FacebookShare on Twitter

Anda tahu susahnya tinggal di Indonesia? Betul, pemerintahnya suka mengeluarkan peraturan yang tidak menapak tanah. Salah satunya adalah wacana peraturan kemasan rokok polos, buah dari Permenkes nomor 28 tahun 2013. Dari awal wacana ini muncul saja, saya sudah garuk-garuk kepala. “Pemerintah kita ini paham tidak sih karakter rakyatnya sendiri?”

Saya yakin bahwa peraturan Kemasan Rokok Polos ini akan berakhir sebagai kegagalan. Sialnya, peraturan ini nantinya malah lebih merusak banyak hal daripada mengontrol konsumsi rokok. Mungkin peraturan serupa terlihat menjanjikan di negara lain. Kalau Indonesia, yakin berhasil?

Wacana peraturan ini adalah bukti nyata pemerintah tidak menapak tanah. Ide lahir tanpa melihat realitas di lapangan. Sialnya, dampak merusak dari kemasan rokok polos bukan perkara sepele. Bukannya mengurangi konsumsi, malah mengacaukan industri yang rajin menyumbang negara.

Rekomendasi yang tidak membumi

Penggunaan kemasan rokok polos bukanlah hal baru di dunia ini. Kajiannya saja sudah dilakukan sejak lama. Beberapa peneliti berpendapat bahwa ada korelasi antara kemasan rokok dengan keinginan merokok. Kemasan rokok dianggap memiliki nilai jual yang mampu memengaruhi perokok. Terutama, perokok muda.

Australia adalah pelopor penggunaan kemasan rokok polos. Dimulai dari 2012, kebijakan ini juga direkomendasikan oleh WHO. Akhirnya beberapa negara lain seperti Inggris dan Irlandia mengikuti jejak yang sama.

Penggunaan kemasan rokok polos ini dipandang berhasil menekan konsumsi rokok. Terutama pada segmen anak muda. Meskipun ada laporan peningkatan konsumsi rokok ilegal di Australia, tapi peraturan ini masih menjadi pilihan dalam kontrol konsumsi tembakau.

Kini peraturan yang sama akan diterapkan di Indonesia. Jika melihat negara pendahulu, peraturan kemasan rokok polos terlihat menjanjikan. Namun apakah akan sama hasilnya di Indonesia?

Kemasan rokok bukan alasan untuk merokok

Mari kita pahami bagaimana masyarakat Indonesia memandang rokok. Memang, rokok sering menjadi simbol strata sosial. Konsumen rokok seperti Marlboro pasti dipandang lebih berada daripada konsumen rokok Djeruk. Tapi bukan berarti perokok di Indonesia mementingkan perkara sosial ini.

Baca Juga:

Tulungagung, Kota yang Siap Bersaing dan Menggeser Kudus sebagai Pemilik Takhta Kota Kretek

Kabupaten Jember Belum Pantas Disebut Kota Tembakau kalau Peredaran Rokok Ilegal Masih Beredar Bebas

Mau sekaya apa pun Anda, rokok yang dikonsumsi belum tentu menyesuaikan. Misal, penikmat SKM seperti Surya akan ogah pindah ke SPM seperti Marlboro atau Camel. Meskipun ia bisa membeli 10 slop rokok 40 ribuan setiap bulan. Bahkan pindah ke Surya Exclusive saja belum tentu mau. Padahal Surya Exclusive jelas lebih mahal dengan kemasan lebih mewah.

Belum lagi para perokok lintingan. Mereka sudah terbiasa membawa tembakau dengan tas kresek. Syukur-syukur pakai kontainer plastik. Kemasan rokok (atau tembakau) polos jelas tidak memengaruhi selera mereka.

Konsumen rokok ilegal lebih gila lagi. Rokok yang mereka konsumsi saja pakai nama dan desain yang lebih jelek daripada spanduk pemda. Tapi apa mereka peduli meskipun merk rokok mereka adalah “L300” atau “Mama Baru”? Selama doyan, tetap saja disikat.

Dari kondisi di atas, kemasan rokok bukanlah penentu utama. Jenis dan rasa rokok lebih penting daripada desain kemasan. Justru kemasan rokok polos akan membawa potensi masalah baru. Masalah yang tidak pernah diselesaikan dengan serius oleh pemerintah.

Kemasan rokok jadi polos, industri rokok ilegal bersuka cita

Saya sudah menyinggung perkara rokok ilegal. Mereka bebas membuat desain dan merk seenak jidat. Wajar, toh mereka memang ilegal. Persetan dengan plagiarisme apalagi norma. Industri rokok ilegal ini yang akan diuntungkan oleh kemasan rokok polos.

Industri rokok ilegal tidak lagi sibuk meniru desain rokok legal yang populer. Toh tidak ada lagi identitas yang harus dicuri ketika semua kemasan rokok jadi polos. Bahkan tampilan rokok ilegal dan legal akan makin mirip, tanpa ada pembeda berarti yang membuat konsumen berpikir ulang sebelum membeli.

Bayangkan kemasan rokok semua sama. Entah putih polos, atau lebih menonjolkan gambar horor yang meneror benak konsumen. Yang membedakan hanya nama dan harga rokok. Tidak ada lagi simbol yang diplesetkan. Atau desain yang dipaksakan mirip.

Selamat, rokok ilegal tidak lagi sibuk mencuri identitas rokok legal! Mereka makin leluasa menjual produk tanpa cukai ini. Tentu harga murah akan jadi satu-satunya pembeda yang berarti antara rokok ilegal dan legal. Rokok ilegal makin mudah didistribusikan. Konsumen juga makin mudah mengakses produk ilegal ini.

Industri rokok legal akan terebut pasarnya. Penerimaan cukai akan makin berkurang. Jumlah perokok mungkin terlihat menurun dari kacamata industri legal. Namun harapan menekan jumlah perokok tidak pula terwujud. Sisanya, sila lihat kondisi hari ini. Toh sudah terjadi sejak cukai rokok naik secara ugal-ugalan.

Kapan Pemerintah mau mengenal rakyatnya?

Pada akhirnya, kita perlu kembali bertanya pada pemerintah. Sebenarnya kalian ini paham tidak sih realitas di sekitar kami? Atau cukup melihat peraturan negara lain dan bilang, “wah sepertinya menarik untuk dicoba!”

Jika harapannya untuk menekan perokok muda, maka pertegas peraturan distribusi rokok. Jika tujuannya untuk menekan konsumsi rokok, pahami bagaimana masyarakat berdinamika. Jangan lupa, masih ada PR besar perkara rokok ilegal.

Kalau sekadar coba-coba ide seperti kemasan rokok polos, jangan harap target kalian berhasil. Pahami kenapa masyarakat merokok. Tapi mungkin memahami ini adalah pekerjaan berat bagi pemerintah. Toh kalau gagal, rakyat lagi yang disalahkan. Entah dianggap bodoh, mental miskin, atau stigma negatif lain hanya karena merokok.

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Komunitas Kretek: Aturan Bungkus Rokok Polos oleh Kemenkes Lahir dari Pola Pikir Kacau dan Tak Hitung Risiko

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 26 September 2024 oleh

Tags: cacat pikirkemasan rokok polospermenkes 28Rokokrokok ilegal
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

ICJ satuan waktu sak ududan perokok anak kecil djarum super mojok mulut asbak

Kalau Kena Abu Rokok Pengendara di Jalanan Jogja, Sebaiknya Nggak Usah Lapor ke ICJ

27 September 2021
Sumber gambar TVC DjarumBlack YouTube

Merindukan Djarum Black Tea, Rokok Enak yang Kini Sudah Tiada

9 September 2021
Mempertanyakan Alasan Santri Suka Ngerokok dan Ngopi Terminal mojok

Mempertanyakan Alasan Santri Suka Ngerokok dan Ngopi

29 Januari 2021
harga rokok naik cukai rokok perokok di kafe buang puntung sembarangan padahal udah ada asbak mojok.co

Nggak Apa-apa Harga Rokok Naik, tapi Nggak Sesering Ini Juga, kali!

20 Juli 2021
Mengenal Tembakau Tambeng, Si Raja Tingwe dari Besuki terminal mojok.co

Mengenal Tembakau Tambeng, Si Raja Tingwe dari Besuki

29 Januari 2021
rokok

Rokok Kapitalis VS Rokok Pergerakan: Analisis Satir Perbedaan Filosofi Tembakau

7 Juni 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Menerima Takdir di Jurusan Keperawatan, Jurusan Paling Realistis bagi Mahasiswa yang Gagal Masuk Kedokteran karena Biaya

Menerima Takdir di Jurusan Keperawatan, Jurusan Paling Realistis bagi Mahasiswa yang Gagal Masuk Kedokteran karena Biaya

14 Januari 2026
Panduan Etika di Grup WhatsApp Wali Murid agar Tidak Dianggap Emak-emak Norak dan Dibenci Admin Sekolah

Panduan Etika di Grup WhatsApp Wali Murid agar Tidak Dianggap Emak-emak Norak dan Dibenci Admin Sekolah

16 Januari 2026
5 Istilah di Solo yang Biking Orang Jogja seperti Saya Plonga-plongo Mojok.co

5 Istilah di Solo yang Biking Orang Jogja seperti Saya Plonga-plongo

15 Januari 2026
6 Alasan Perantauan seperti Saya Begitu Mudah Jatuh Cinta pada Solo Mojok.co

6 Alasan Sederhana yang Membuat Perantau seperti Saya Begitu Mudah Jatuh Cinta pada Solo

12 Januari 2026
Pengendara dengan Refleks Terbaik Itu Ada di Malang, sebab Selalu Dilatih dengan Menghindari Jalanan Berlubang!

Pengendara dengan Refleks Terbaik Itu Ada di Malang, sebab Selalu Dilatih dengan Menghindari Jalanan Berlubang!

11 Januari 2026
Rute KRL Duri-Sudirman, Simbol Perjuangan Pekerja Jakarta (Unsplash)

Rute KRL dari Stasiun Duri ke Sudirman Adalah Rute KRL Paling Berkesan, Rute Ini Mengingatkan Saya akan Arti Sebuah Perjuangan dan Harapan

15 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • 2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup
  • Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi
  • Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan
  • Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM
  • Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna
  • Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.