Meski Keras dan Bisa Kejam, Faktanya Jakarta Bisa Bikin Rindu. Tapi Maaf, Saya Memilih Tidak Lagi Merantau dan Pulang ke Surabaya

Jakarta yang Keras di Dalam Ingatan Arek Surabaya (Unsplash)

Jakarta yang Keras di Dalam Ingatan Arek Surabaya (Unsplash)

Bagi arek Surabaya, merantau ke Jakarta di penghujung 2014 adalah sebuah pertaruhan mental yang besar. Bukan karena takut kalah saing soal karier, tapi kami tahu bahwa di ibu kota, kami harus kompromi soal kenikmatan hidup. 

Saya berangkat dengan ekspektasi setinggi Monas. Namun, hanya butuh waktu seminggu setelah mendarat untuk menyadari bahwa Jakarta adalah semesta yang bahasanya berbeda, meskipun sama-sama memakai Bahasa Indonesia. Gegar budaya sebagai orang Surabaya terjadi bukan di kantor mentereng di Jakarta Selatan, melainkan di depan gerobak gorengan pinggir jalan hingga hampir pingsan di KRL.

BACA JUGA: Meninggalkan Surabaya yang Toxic dan Memilih Kehidupan Bebas di Jakarta

Ote-ote yang menyamar jadi bakwan

Pagi itu, sebagai anak kost, perut saya keroncongan minta sarapan. Dengan gaya percaya diri seorang pendatang, saya menghampiri abang gorengan saat lagi jalan kaki menuju kantor. “Bang, ote-ote dua, ya,” kata saya sambil menyiapkan uang pas.

Si Abang terdiam. Matanya menatap saya aneh, seolah saya baru saja memesan makanan Eropa. “Apa, Mbak?” Jawabnya kebingungan. Saya ulangi kalimat saya, namun wajahnya semakin bingung.

Saya gantian bingung. Saya tunjuk benda bulat berisi wortel dan kecambah yang sedang berenang di minyak panas. “Ini, Bang. Ote-ote.”

“Oalaaaah, bakwan!” timpalnya sambil tertawa.

Rupanya di Jakarta, nama menentukan status sosial gorengan. Di Surabaya, bakwan itu ya pentol alias bakso. Kalau tepung goreng isi sayur itu namanya ote-ote. Nyaris saja saya gagal kenyang pagi itu hanya karena perbedaan nomenklatur gorengan.

Ketika kanopi jalan menentukan harga ojek pangkalan di Jakarta

Tahun 2014 saat itu, ojek online belum ada. Kita masih harus bernegosiasi secara manual dan kadang brutal dengan abang ojek pangkalan (opang). 

Suatu siang di akhir pekan, saya janjian dengan kawan sesama perantau Surabaya mau ke halte Sudirman bersama-sama dari Karet Gusuran, tempat kawan saya nge-kost. Karena kaki sedang manja untuk lanjut jalan, saya berniat naik ojek dengan jarak yang tidak sampai lima menit naik motor. Dari Setia Budi Raya menuju Karet Gusuran.

“Pak, ke Karet Gusuran berapa?” tanya saya.

Si Abang mencerna tujuan yang saya maksud dengan santai menyebut, “20 ribu, Mbak.”

Dalam hati, saya ingin mencoba menawar. “Dekat kok, Pak, yang Gang III.”

Dia balik bertanya dengan tatapan seorang analis, “Mbak turunnya sebelum kanopi atau setelah kanopi?”

Saya melongo.

“Kalo turun sebelum kanopi item itu, saya kasih 15 ribu. Kalo setelahnya, ya 20 ribu lah, Mbak. Jauh itu!”

Proposal penawaran harga yang mencengangkan, jarak antara “sebelum” dan “setelah” kanopi itu dekat. Tapi di Jakarta, ukuran kanopi jalan itu punya nilai ekonomi yang spesifik. 

Di Surabaya, patokan harga becak (jarang ada ojek) biasanya cuma “depan perempatan” atau “setelah pertigaan”. Di Jakarta, kanopi jalan orang bisa jadi indikator inflasi transportasi yang lumayan bagi anak rantau.

Anarki meja makan

Penderitaan terbesar arek Surabaya di Jakarta adalah soal makanan. Saya pernah memesan rawon karena rindu rumah, tapi yang datang adalah semangkuk sup daging berwarna coklat yang kluweknya seolah imitasi. Rasanya? Manis. Benar-benar pengkhianatan terhadap pecinta rawon ala Jawa Timur.

Belum reda kekecewaan soal rawon, Jakarta kembali menambah kesedihan indra pengecap lewat kuliner bebek goreng dan rasa sambal. Rasa daging bebeknya itu sangat biasa saja, bumbu ungkepannya tidak setulus bebek Surabaya. 

Belum lagi persambalan, pedasnya ada, tapi tidak membuat ingin tambah nasi. Nggak heran kalau lagi mudik, banyak teman yang suka nitip sambal Bu Rudy, seakan-akan itu benda langka yang berharga.

Tidak cukup sampai di situ, Jakarta kembali memberikan kejutan lewat menu sarapan. Suatu pagi di kantor, teman yang sama-sama datang kepagian nawarin saya apa mau titip “sarapan berat”. Bayangan saya sudah tertuju pada nasi pecel atau bubur ayam. Tapi apa yang saya dengar? Mie Ayam.

Membayangkan mangkuk mie ayam yang uapnya mengepul pagi-pagi, nggak bahaya ta? Di Surabaya, mie ayam adalah menu makan siang atau makan malam. Makan mie ayam pukul tujuh pagi bagi saya adalah sebuah tindakan anarki.

Rupanya di Jakarta, mie ayam adalah sarapan yang lumrah. Melihat orang-orang berbaju rapi siap ke kantor menyeruput mie di pinggir jalan sepagi itu membuat saya sadar. 

Jakarta tidak punya waktu untuk menunggu siang hanya untuk menikmati semangkuk mie ayam. Segalanya harus cepat, bahkan jika itu berarti harus memaksa lambung bekerja keras sebelum jam kantor dimulai.

Ritme pejalan kaki di Jakarta

Adaptasi lain adalah soal jalan kaki. Entah itu saat menaiki jembatan halte busway, turun tangga, perpindahan koridor, atau sekadar menyusuri trotoar Sudirman. Semuanya terasa cepat, seolah-olah trotoar di Jakarta adalah lintasan lari estafet.

Awalnya, saya sering ngos-ngosan saat mencoba mengikuti ritme orang-orang sekitar. Di Surabaya, jalan kaki itu aktivitas opsional yang dilakukan dengan santai sambil mencari warung penyetan terdekat. Di Jakarta, jalan kaki adalah hal yang kompetitif.

Misalnya, kamu melambat sedikit saja untuk sekadar membetulkan tali sepatu di jembatan penyeberangan. Nah, kamu akan merasa berdosa karena menghambat arus “atlet” di belakangmu yang wajahnya tampak mendesak seolah sedang mengejar setoran negara.

Namun, lama-kelamaan saya mahir juga. Saya mulai paham kapan harus mengambil jalur kanan untuk mendahului dan kapan harus bertahan di jalur kiri. Menariknya, di balik kegesitan itu, Jakarta mengajarkan saya satu hal yang jarang saya temui di Surabaya: ketertiban antre. 

Mulai dari naik TransJakarta, toilet mal, hingga masuk lift kantor, semuanya tertata. Rupanya orang Jakarta boleh saja terburu-buru, tapi mereka tahu batas untuk tidak menyerobot hak orang lain.

Tragedi KRL Bogor: Ketika emak-emak menjelma malaikat bagi perantau Surabaya

Satu lagi ujian saya sebagai perantau, ketika saya dan kawan sesama arek Surabaya ngide untuk ke Bogor di akhir pekan. Kami naik KRL dari Stasiun Manggarai kalau tidak salah. Bodohnya, saya percaya diri berangkat tanpa sarapan.

Berhubung hari itu weekend, gerbong KRL arah Bogor cukup penuh. Jangankan dapat kursi, untuk sekadar berdiri tegak tanpa menyenggol bahu orang lain saja sulit. 

Di tengah pengapnya AC yang kalah oleh hawa tubuh penumpang, kepala saya mulai berputar. Pandangan saya berkunang-kunang, wajah pucat, dan kaki lemas. Akhirnya saya menyerah dan memilih jongkok di lantai gerbong karena mau ambruk. 

Di saat itulah keajaiban muncul dari serombongan “ibu-ibu” dari Jakarta. Seorang ibu sigap mengeluarkan Freshcare dari tasnya. Tanpa dikomando, ibu-ibu lain ikut membantu. 

Ada yang mengipasi saya, yang lain menawarkan wafer Nissin, dan ada yang meminta seorang wanita muda yang duduk untuk mengalah. Namun, respons di wanita muda itu cukup dingin: “Maaf Bu, saya juga ke Bogor, sama-sama jauh.”

Mendengar itu, taring emak-emak pun keluar. “Ya Allah, Mbak, kayak nggak pernah sakit aja! Orang hampir pingsan begini kok!” semprot salah satu ibu dengan nada yang bikin ciut.

Akhirnya, seorang ibu muda yang sedang memangku anak batita justru yang berdiri. “Sini aja, Mbak, saya sudah mau turun satu stasiun lagi,” katanya lembut.

Masyaallah, hari itu saya sadar bahwa semua stigma negatif tentang “emak-emak” itu salah besar. Mereka mungkin makhluk mengerikan saat di jalan raya, tapi di dalam KRL yang sesak, mereka adalah pelindung paling tulus bagi anak rantau dari Surabaya yang nyaris tumbang seperti saya.

BACA JUGA: Setelah Berkeliling Indonesia dan Tinggal di Kota-Kota Besarnya, Saya Bersyukur Pernah Tinggal di Surabaya

Jakarta itu memang keras 

Satu dekade telah berlalu, namun memori merantau ke ibu kota tetap melekat dalam ingatan. Istilah “Jakarta itu keras” rupanya bukan sekadar hiperbola, melainkan fakta yang terpampang setiap sudut jalanan. 

Namun, di balik wajahnya yang keras, dingin, dan menuntut ritme serba cepat, selalu ada “kehangatan” yang terselip. Baik itu di balik uap mangkuk mie ayam, maupun di tengah omelan ibu-ibu KRL yang galak tapi hatinya seluas samudera.

Mungkin yang saya lupakan dulu adalah fakta bahwa kota yang merasa bukan Jawa ini juga berisikan banyak perantau lain. Mereka adalah orang-orang yang rela menanggalkan kenyamanan tempat asal demi mengadu nasib mencari sesuap nasi. Jakarta memang tidak selalu ramah, tapi ia adalah bagian penting dari Ibu Pertiwi yang menempa mental siapa saja yang singgah di sana.

Jakarta selalu punya magnet yang bikin rindu, sekadar untuk bernostalgia. Namun, apakah mau menetap di sana selamanya? Mohon maaf, saya pilih pulang ke Surabaya saja.

Penulis: Pratita Saraswati

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Penyesalan Orang Surabaya yang Mengadu Nasib ke Jakarta, Tak Sesuai Ekspektasi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version