Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Kedai Kopi: Tongkrongan Bebas yang Bisa Bikin Orang Murtad

Rohmatul Izad oleh Rohmatul Izad
22 Agustus 2019
A A
Hal yang Seharusnya Tidak Dilakukan Istri Ketika Suami Ngopi-ngopi terminal mojok.co

Hal yang Seharusnya Tidak Dilakukan Istri Ketika Suami Ngopi-ngopi terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Saya juga heran ya, kenapa ada banyak obrolan-obrolan aneh di seputar tempat tongkrongan semacam kedai kopi. Di kota-kota besar seperti Yogyakarta, kedai kopi sudah menjadi tempat favorit untuk bertukar pendapat ketimbang di dalam kampus yang agaknya terlalu kaku dalam membahas isu-isu yang kadang berlebih-lebihan dan tidak penting.

Dalam sepuluh tahun terakhir, kedai kopi sudah menjadi seperti arena baru atau bahkan mazhab baru dalam pemikiran. Paling tidak, meski tidak bisa dipetakan secara serius seperti aliran-aliran dalam ilmu sosial atau agama, arena baru pemikiran di kedai kopi sudah membentuk karakter tersendiri sebagai rumah bersama para aktivis mahasiswa atau pemikir pemula yang tugas akhirnya tak kunjung selesai.

Bahkan, yang tidak suka kopi pun ikut-ikutan ke kedai, demi apa? Ya demi nongkrong, demi perbincangan aneh seputar isu sana sini yang bahkan lebih kritis dan mengakar dari pada obrolan para pakar di TV itu, dan yang paling menggoda tentu saja isu seputar agama dan relevansinya bagi kebermaknaan hidup hari ini.

Kenapa perbincangan agama begitu menggoda? Tentu saja tidak ada obrolan yang lebih menantang daripada memikirkan kembali dan mempertanyakan kesadaran objektif dari kebenaran agama. Tidak melulu serius sih, tapi kadang-kadang ide-ide aneh sering muncul dalam obrolan santai dan penyelaman pemikiran itu terjadi karena ada pengalaman-pengalaman individual yang secara berani menantang otoritarianisme agama.

Banyak para aktifis dan mahasiswa pada umumnya mencurahkan isi hati dan pikiran di kedai-kedai bukan sekedar melampiaskan kajian-kajian mereka di dalam kelas atau sekedar diskusi-diskusi kecil yang tampaknya terlalu serius dan elitis di tengah pengalaman hidup yang penuh lelucon hangat dan popularisme yang mengembirakan.

Bukankah ini lebih menarik daripada memperbincangkan soal-soal kebenaran yang harus diterima secara taken for granted, jangan terlalu seriuslah, ini bukan soal hak paten pemakai kebenaran. Sudah terbukti kok, sikap militansi yang terlalu kaku banyak menimbulkan masalah dan berakibat pada hilangnya toleransi lintas iman. Bagaimana mana mungkin suara agama yang begitu agung bisa dibeli oleh oknum-oknum politis yang sangat pragmatis.

Pemurtadan, jika ini dipahami sebagai berpindah dari satu keyakinan ke keyakinan yang lain dalam sudut internal agama, termasuk berpindah dan yakin menjadi ateis, maka fenomena ini banyak terjadi di kedai-kedai. Sebagai pengalaman individual secara langsung, saya sering bertemu dengan teman-teman dan tentu banyak juga yang tidak kenal, menyaksikan betapa bebasnya wacana pemikiran diobrolkan di kedai kopi.

Biasanya, ini terjadi pada para aktivis organisasi atau mahasiswa teologi yang konsen dalam mengkaji isu-isu agama, tidak semua sih, hanya pada orang-orang tertentu saja yang punya nalar progresif dan pembaru, sering juga nakal. Tapi, pemurtadan ini jangan dipahami secara formal sebagai berpindah keyakinan, tentu saja mereka tidak berani karena punya ayah ibu yang sangat konservatif, dan masih salat jika pulang kampung.

Baca Juga:

4 Alasan Saya Lebih Memilih Ice Americano Buatan Minimarket ketimbang Racikan Barista Coffee Shop

Enaknya Jadi Fresh Graduate di Jogja: Nggak Takut Dicap Pengangguran karena Sibuk Ikut Forum Diskusi

Perilaku dan memahami agama itu punya batasan, persis seperti keterbatasan rasio kita dalam memahami hal-hal abstrak. Tentu saja, kedai kopi bukanlah oknum yang menggiring nalar liar seorang pemikir muda ini, tapi kedai kopi mewadahi dan memberi jalan bagi liberalisme dan cara berpikir bebas.

Anda harus percaya bahwa watak pemilik kedai itu sangat komersil, mereka tidak tertarik dengan isu agama. Tapi jika kedai mereka dipakai untuk berdialektika oleh banyak konsumen yang duduk bersama dan semakin banyak perbincangan ini itu, maka pemiliknya semakin senang. Tentu saja ini prestasi tersendiri bagi mereka bukan hanya sekedar mengumpulkan selembar kertas berharga, tapi juga punya otoritas penuh atas kebebasan konsumen dalam berpikir di wilayah kekuasaannya.

Sudah tidak terhitung penulis menyaksikan pernyataan seorang teman dan temannya teman, tentang kondisi-kondisi spiritual mereka, gugatan mereka terhadap betapa sudah tidak relevan beragama hari ini, ateisme dan agnostik teis begitu membanjiri pergolakan pemikiran mereka, dan ini tidak akan terjadi di ruang-ruang formal, hanya kedai kopi sebagai tempat yang paling strategis. Bukan karena mereka takut, tapi hanya kedai kopilah yang paling layak untuk menerima dan menyaksikan ide-ide nakal ini.

Ini fenomena baru, dan tidak akan terjadi di mana-mana, kecuali tentu saja ruang permenungan mereka yang begitu intim dan penuh gejolak. Ini bukan sesuatu yang negatif, entah kita mau melihat dari sudut pandang bagaimana, proses berpikir dan belajar itu merupakan jalan terbaik bagi pendewasaan. Seperti kata Habermas, teruslah mencari dan mencari, betapapun tidak ketemu, paling tidak kita bisa lebih dekat dengan kebenaran.

Ruang kebebasan harus dibuka selebar-lebarnya karena hanya dengan itu otonomi individual dapat dicapai. Kebenaran, jika ia penting, bukan hanya miliki orang-orang yang secara kolektif membentuk kebenaran secara institusional, kebenaran adalah milik bersama, milik murid-murid kebenaran yang sedang mencarinya, dan tentu saja orang yang bahkan tidak percaya dengan kebenaran berhak memilikinya. (*)

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) yang dibikin untuk mewadahi sobat julid dan (((insan kreatif))) untuk menulis tentang apa pun. Jadi, kalau kamu punya ide yang mengendap di kepala, cerita unik yang ingin disampaikan kepada publik, nyinyiran yang menuntut untuk dighibahkan bersama khalayak, segera kirim naskah tulisanmu pakai cara ini.

Terakhir diperbarui pada 31 Januari 2022 oleh

Tags: agnostikateismedialektikadiskusiKedai Kopikopi yogyakarta
Rohmatul Izad

Rohmatul Izad

Dosen Filsafat di IAIN Ponorogo.

ArtikelTerkait

Pokoknya Saya Lebih Suka Ngopi di Starbucks daripada di Angkringan terminal mojok.co

Pokoknya Saya Lebih Suka Ngopi di Starbucks daripada di Angkringan

12 Januari 2022
Membaca 6 Kepribadian Berdasarkan Minuman yang Dipesan di Kedai Kopi terminal mojok.co

4 Tipe Mahasiswa di Kedai Kopi yang Patut Dihujat

21 Mei 2023
kedai kopi ramai tapi penjualan sepi kafe coffee shop mojok.co

Kedai Kopi Ramai tapi Penjualannya Minim, Kok Bisa? Ya Bisa dong

30 Juli 2020
5 Menu Red Flag Starbucks. Jangan Dipesan kalau Nggak Mau Kecewa

5 Menu Red Flag Starbucks. Jangan Dipesan kalau Nggak Mau Kecewa

9 Agustus 2023
Filsuf Kedai Kopi, Hobi Berdebat Filsafat Layaknya Dinosaurus Peradaban yang Harusnya Punah terminal mojok.co

4 Alasan Orang Dateng ke Kedai Kopi tapi Nggak Pesen

10 September 2020
kedai kopi

Tips Untuk Kamu Yang Baru Berkunjung Ke Kedai Kopi

28 Mei 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Membuka Kebohongan Purwokerto Lewat Kacamata Warlok (Unsplash)

Membuka Kebohongan Tentang Purwokerto dari Kacamata Orang Lokal yang Jarang Dibahas dalam Konten para Influencer

4 April 2026
Hidup di Desa Nggak Selamanya Murah, Social Cost di Desa Bisa Lebih Mahal daripada Biaya Hidup Sehari-hari karena Orang Desa Gemar Bikin Hajatan

Pindah ke Desa Bukan Solusi Instan Saat Muak Hidup di Kota Besar, apalagi bagi Kaum Introvert, Bisa-bisa Kena Mental

5 April 2026
Becak Motor Malioboro Jogja Memang Unik, tapi Ogah kalau Harus Naik Lagi Mojok.co

Becak Motor Malioboro Jogja Memang Unik, tapi Ogah kalau Harus Naik Lagi 

8 April 2026
Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal Mojok.co

Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal

5 April 2026
Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta (Unsplash)

Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta

3 April 2026

Di Jajaran Mobil Bekas, Kia Picanto Sebenarnya Lebih Mending daripada Suzuki Karimun yang Banyak Dipuja-Puja Orang

8 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • PNS Lebih Pilih Tetap Pergi ke Kantor saat WFH, Takut Tergiur “Godaan” Kelayapan Malah Berujung Gagal Hemat BBM
  • Sumbangan Pernikahan di Desa Menjebak dan Bikin Menderita: Maksa Utang demi Tak Dihina, Jika Tak Ikuti Dicap “Ora Njawani”
  • Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu untuk Impact Tak Sejelas kalau Magang
  • Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi
  • Kerja Tahunan Cuma Bisa Beli Honda Supra X 125 Kepala Geter di Umur 30, Dihina Anak Gagal tapi Jadi Motor Tangguh Simbol Keluarga Bahagia
  • Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.