Kebumen Perlahan “Naik Kelas” dari Kabupaten Termiskin Jadi Daerah Wisata, Warlok yang Tadinya Malu Berubah Bangga

Kebumen Perlahan “Naik Kelas” dari Kabupaten Termiskin Jadi Daerah Wisata, Warlok yang Tadinya Malu Berubah Bangga Mojok.co

Kebumen Perlahan “Naik Kelas” dari Kabupaten Termiskin Jadi Daerah Wisata, Warlok yang Tadinya Malu Berubah Bangga (unsplash.com)

Kemiskinan dan Kebumen bak dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Maklum, kabupaten ini menjadi daerah termiskin di Jawa Tengah selama 7 tahun berturut-turut. Baru pada 2025 lalu, daerah ini akhirnya lepas dari status daerah. 

Kabar gembiranya, selain bebas dari predikat daerah termiskin, perlahan Kebumen membangun citra sebagai daerah wisata Jawa Tengah. Dan, upaya itu mulai membuahkan hasil. 

Selama libur Lebaran 2026, Kebumen tercatat sebagai daerah dengan jumlah kunjungan wisatawan terbanyak di Jawa Tengah. Setidaknya ada 675.348 orang mampir ke Kebumen. Angka yang nggak main-main dan cukup untuk menyalip Kabupaten Klaten dan Kota Semarang yang selama ini dikenal sebagai destinasi wisata favorit di Jawa Tengah. 

Sebagai warga lokal (warlok) bohong kalau tidak bangga dengan capaian ini. Selama bertahun-tahun malu karena menyandang daerah miskin, akhirnya ada citra positif dari daerah ini. 

Apa sih yang menarik dari Kebumen?

Kalian yang belum pernah ke Kebumen mungkin akan bertanya-tanya apa menariknya wisata di kabupaten ini. Kebumen mungkin bukan kota besar seperti Semarang yang bisa menawarkan mal besar maupun fasilitas penunjang yang mumpuni, tapi justru itu daya tariknya. Kebumen menawarkan wisata alam yang indah dan ramah di kantong. 

Lihat saja 3 destinasi yang paling ramai atau banyak dikunjungi: Pantai Mliwis, Pantai Menganti, dan Pantai Setrojenar. Tiga pantai itu punya kesamaan menawarkan pemandangan indah dan terjangkau. Daya tawar itu otomatis membentuk pasarnya sendiri yakni orang-orang yang ingin berlibur tanpa harus berpikir dua kali soal budget. 

Selain mengandalkan wisata pantai, Kebumen juga terlihat siap menyongsong posisi sebagai daerah wisata. Lihat saja penataan Alun-alun Pancasila Kebumen yang makin rapi. Selain itu hadir pula ikon-ikon baru hingga penangan wisata yang terasa lebih serius. Kebumen perlahan berubah dari sekadar “kota singgah” jadi “kota tujuan”. 

Bangga, tapi tetap perlu waspada

Jujur, sebagai warlok saya merasa capaian ini layak dirayakan. Tidak setiap hari daerah yang sering dianggap “biasa saja” bisa berdiri di posisi teratas. Ada kebanggaan di sana. Ada validasi bahwa Kebumen punya sesuatu yang memang layak diperhitungkan. 

Akan tetapi, di balik semua itu, ada satu pertanyaan yang mungkin belum banyak dibahas, apakah Kebumen siap dengan ramainya wisatawan? Karena jumlah pengunjung yang besar selalu datang dengan konsekuensi. Sejauh pengamatan saya, berbagai persoalan yang dulunya tak ada mulai muncul. Misal, parkir liar di area yang tidak dirancang menampung kendaraan hingga kemacetan makin sering terutama di jalur menuju pantai. Apabila persoalan macam ini dibiarkan, bukan tidak mungkin akan berakhir buruk. Saya rasa di titik inilah Kebumen sebagai daerah wisata sedang diuji. 

Kebumen mungkin perlahan mulai “naik kelas”, tapi sebagai warlok saya berharap capaiannya tidak sampai situ saja. Selain mencari solusi atas “pekerjaan rumah” sebagai daerag wisata, perlu juga dipikirkan cara wisatawan ingin kembali, tanpa harus mengorbankan kenyamanan dan warlok. Dan, sayang sekali kalau Kabumen berhasil jadi daerah wisata, tapi mengorbankan banyak hal lain. 

Penulis: Akhmad Alhamdika Nafisarozaq
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA 10 Pantai yang Bikin Kebumen Nggak Pantas Menyandang Status Kabupaten Termiskin, Cocoknya Jadi Kabupaten Wisata.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version