Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Kebebasan Memilih Panggilan Orang Tua Adalah Privilese

Paula Gianita Primasari oleh Paula Gianita Primasari
8 Juli 2023
A A
Kebebasan Memilih Panggilan Orang Tua Adalah Privilese

Kebebasan Memilih Panggilan Orang Tua Adalah Privilese (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kalau dipikir-pikir, manusia itu makhluk yang hobi cari keribetan. Bagaimana tidak, perkara kelak hendak dipanggil dengan sebutan apa oleh anak tercinta saja dibuat topik kegalauan tak berkesudahan. Buktinya, dalam sebuah unggahan di platform media sosial Instagram, akun dengan username @syifamaharanii_ mengategorikan sederet nama panggilan kepada orang tua berdasarkan kesan yang ditampilkan oleh masing-masing julukan.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by 𝓢𝔂𝓲𝓯𝓪 𝓜𝓪𝓱𝓪𝓻𝓪𝓷𝓲 (@syifamaharanii_)

Hal tersebut terang-terangan diamini pula oleh warganet yang lain. Salah seorang netizen yang mencurahkan isi hatinya pada kolom komentar unggahan tersebut mengakui bahwa sejatinya ia ingin dipanggil dengan sapaan “mami”. Apa daya, hati kecilnya merasa ia jauh dari kata pantas guna menyandang predikat tersebut.

Alasannya sudah dapat kita tebak. Apalagi kalau bukan berhubungan dengan kemampuan finansial. Warganet tersebut merasa bahwa sepanjang ia hanya sanggup mengendarai Honda Beat, panggilan “mami” tersebut tak layak untuknya. Lain cerita bila sehari-hari ia sudah menunggangi Honda CRV.

Fenomena di atas memang bukan lagi sesuatu yang baru di Indonesia. Perihal stigma status sosial dan ekonomi yang dicerminkan melalui nama panggilan orang tua telah mengakar kuat cukup lama. Beberapa dasawarsa yang lalu, tak banyak orang berani melabeli dirinya dengan sebutan “mama-papa” atau “mami-papi”. Pasalnya, panggilan tersebut dianggap hanya cocok ditujukan kepada golongan berpunya.

Baca Juga:

30 Kosakata Parenting yang Njelimet, tapi Sebaiknya Dipahami Orang Tua Zaman Sekarang

Dear Bu Risma Mensos, Anak yang Menitipkan Orang Tua ke Panti Jompo Nggak Melulu Durhaka

Faktor Modernisasi

Jujur saja, persoalan yang kedengarannya sepele ini mampu membuat calon orang tua menjadi overthinking sebagaimana yang diilustrasikan oleh @syifamaharanii_ dalam akun Instagram miliknya. Tidak dapat dimungkiri, kemajuan zaman turut serta mendorong pergeseran perilaku sosial masyarakat.

Generasi milenial perempuan, contohnya. Mayoritas dari mereka akan menolak mentah-mentah menyandang julukan “simbok”, “enyak”, “emak”, atau bahkan “ibu” yang dianggap kuno untuk sekarang ini. Nggak merefleksikan figur orang tua modern, katanya.

Sebagai generasi yang masih ingin dibilang sebagai orang tua muda nan gaul serta melek teknologi, kebanyakan milenial cenderung bermain aman dengan mengambil pilihan sapaan yang digunakan sejuta umat, “mama-papa”. Tidak ketinggalan zaman, tapi juga jauh dari kesan sok elite. Ya, modernisasi telah mereduksi derajat “mama-papa” sebagai panggilan ningrat menjadi predikat yang boleh dilekatkan pada jelata tanpa pangkat.

Di samping faktor modernisasi, ada penyebab lain yang menjadikan sejumlah panggilan terhadap orang tua dihindari pemakaiannya oleh sebagian individu. Meminjam terminologi dari disiplin ilmu marketing, setiap panggilan kepada orang tua, nyatanya memiliki positioning tersendiri di benak masyarakat Indonesia. Ada pandangan khusus yang ingin ditampilkan secara sengaja oleh mereka yang menggunakan nama panggilan tertentu.

“Umi-abi”, misalnya, dianggap hanya sesuai digunakan oleh mereka yang paham terhadap agama oleh kebanyakan orang. Sedangkan panggilan “ayah-bunda” seakan menonjolkan sosok orang tua ideal yang khatam ilmu parenting serta tidak bakal ikutan tantrum manakala si kecil rewel tengah menguji kesabaran orang dewasa. Tidak heran, ada netizen yang menyatakan bahwa sebutan “bunda” tak sesuai dengan dirinya yang memiliki batas toleransi setipis tisu alias mudah naik darah.

Sudah pasti, tidak ada hukum tertulis yang mengatur segala persepsi tersebut. Oleh sebab itu, sejujurnya, sah-sah saja apabila seseorang mengajarkan buah hatinya untuk memanggilnya dengan sebutan apa pun selama masih dalam koridor sopan santun, terlepas dari status sosial maupun ekonomi yang dipangkunya.

Personal Branding

Sayangnya, stereotipe yang menempel pada masing-masing sapaan sudah telanjur mengendap dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan kata lain, ada makna personal branding dengan tujuan membangun pencitraan dalam setiap nama panggilan yang digunakan, di samping fungsinya sebagai penunjuk kasta sosial.

Tidak percaya? Contoh nyatanya adalah manuver yang dilakukan oleh penyanyi Raisa.

Saat masih berstatus single, personal branding yang bercokol di benak masyarakat terkait imej Raisa adalah penyanyi eksklusif dalam artian negatif. Pendapat ini muncul karena tersebar luasnya desas-desus mengenai riders yang diduga milik Raisa di mana ia minta disiapkan air mineral merek ternama untuk keperluan membasuh dirinya. Jelas, kalau itu benar, jumlah botol atau galon air yang diperlukan tidak bisa dibilang sedikit.

Permintaan yang kurang lumrah itu sukses membuat Raisa dicap sebagai artis yang tidak membumi, di luar simpang siur kebenaran kabar burung tersebut. Akan tetapi, opini netizen langsung berubah drastis manakala Raisa mengajarkan anaknya untuk memanggil suaminya, Hamish Daud, dan dirinya sendiri dengan sebutan “bapak-ibu”. Alih-alih menuai cibiran karena memilih panggilan tidak kekinian, mereka malah memanen pujian.

Apa yang dilakukan Raisa dan Hamish dipandang sebagai bentuk kesederhanaan. Padahal, tidak ada yang istimewa dari itu semua hanya karena orang yang memilih panggilan bapak-ibu merupakan sosok yang populer, bergelimangan harta, dan berdarah blasteran. Perubahan citra seseorang yang signifikan ini menjadi contoh kecil bahwa sapaan untuk memanggil orang tua adalah alat mumpuni dalam membentuk penilaian individu di mata publik.

Meskipun benar bahwa nama panggilan apa pun boleh digunakan oleh siapa pun, ada aturan tersirat yang berlaku dalam kehidupan bersama. Seseorang bebas memperkenalkan diri dengan sapaan apapun kepada anak apabila aset yang dipunyai mampu menghidupi tujuh turunan. Sebutan lawas atau kurang estetik, justru menempatkan mereka pada posisi yang menguntungkan karena akan membangun persona positif seperti imej bersahaja.

Sebaliknya, kalau duit pas-pasan, dilarang keras meminta disebut “memsye-pepsye” yang dipakai pasangan Raffi dan Nagita Slavina. Itu kalau tidak mau jadi bahan perbincangan abadi mulut pedas tetangga.

Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Di Desa Saya, Panggilan Orang Tua ‘Bapak-Emak’ atau ‘Papi-Mami’ Adalah Bahan Ghibah yang Gurih.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 Juli 2023 oleh

Tags: Orang Tuapanggilan
Paula Gianita Primasari

Paula Gianita Primasari

Mahasiswa doktoral UNDIP jurusan Manajemen Pemasaran asal Semarang.

ArtikelTerkait

Jurusan PGSD Butuh Mata Kuliah Cara Menghadapi Orang Tua Murid. Ini Penting dan Saya Serius!

Jurusan PGSD Butuh Mata Kuliah Cara Menghadapi Orang Tua Murid. Ini Penting dan Saya Serius!

4 April 2024
Anak Sulung dan Harapan yang Kadang Merepotkan

Anak Sulung dan Harapan yang Kadang Merepotkan

28 Januari 2020
Saat Belanja Bersama Anak Kecil, Orang Tua Perlu Perhatikan Aturan Tidak Tertulis Ini Mojok.co

Saat Belanja Bersama Anak Kecil, Orang Tua Perlu Perhatikan Aturan Tidak Tertulis Ini

5 Januari 2024
joker film review bioskop kekerasan rating R D 17 bawa anak ke bioskop kekerasan joaquin phoenix

Ortu Bebal Rating yang Masih Ngeyel Nonton Joker Bareng Anak Kecil

7 Oktober 2019
Stop Glorifikasi Kemampuan Anak Naik Motor. Nggak Ada Keren-kerennya Tau! terminal mojok

Stop Glorifikasi Kemampuan Anak Naik Motor. Nggak Ada Keren-kerennya Tau!

19 September 2021
keinginan orang tua pisah rumah dari orang tua pengalaman manfaat mojok.co

Menebak Keinginan Orang Tua Lebih Rumit daripada Menolaknya

6 Agustus 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Honda Brio, Korban Pabrikan Honda yang Agak Pelit (Unsplash)

Ketika Honda Pelit, Tidak Ada Pilihan Lain Selain Upgrade Sendiri karena Honda Brio Memang Layak Diperjuangkan Jadi Lebih Nyaman

16 Februari 2026
Al Waqiah, Surah Favorit Bikin Tenang Meski Kehilangan Uang (Unsplash)

Al Waqiah, Surah Favorit yang Membuat Saya Lebih Tenang Meski Kehilangan Uang

20 Februari 2026
Honda Spacy: “Produk Gagal” Honda yang Kini Justru Diburu Anak Muda

Honda Spacy: “Produk Gagal” Honda yang Kini Justru Diburu Anak Muda

19 Februari 2026
Jalur Klemuk Kota Batu, Jalur Alternatif ke Pujon Malang yang Bikin Waswas Wisatawan, Jalur Maut yang Tak Digubris Pemerintah!

Jalur Klemuk Kota Batu, Jalur Alternatif ke Pujon Malang yang Bikin Waswas Wisatawan, Jalur Maut yang Tak Digubris Pemerintah!

21 Februari 2026
Cuan Jualan Takjil Memang Menggiurkan, tapi Cobaannya Nggak Kalah Besar Mojok.co

Cuan Jualan Takjil Memang Menggiurkan, tapi Cobaannya Nggak Kalah Besar

21 Februari 2026
Ilustrasi Bus Bagong Berisi Keresahan, Jawaban dari Derita Penumpang (Unsplashj)

Di Jalur Ambulu-Surabaya, Bus Bagong Mengakhiri Penderitaan Era Bus Berkarat dan Menyedihkan: Ia Jawaban dari Setiap Keresahan

20 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Omong Kosong Menua Tenang di Desa: Menjadi Ortu di Desa Tak Cuma Dituntut Warisan, Harus Pikul Beban Berlipat dan Bertubi-tubi Tanpa Henti
  • WNI Lebih Sejahtera Ekonomi dan Mental di Malaysia tapi Susah Lepas Paspor Indonesia, Sial!
  • 3 Dosa Indomaret yang Membuat Pembeli Kecewa Serta Tak Berdaya, tapi Tak Bisa Berbuat Apa-apa karena Terpaksa
  • Derita Orang Biasa yang Ingin Daftar LPDP: Dipukul Mundur karena Program Salah Sasaran, padahal Sudah Susah Berjuang
  • Sarjana Sastra Indonesia PTN Terbaik Jadi Beban Keluarga: 150 Kali Ditolak Kerja, Ijazah buat Lamar Freelance pun Tak Bisa
  • Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.