Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Kebahagiaan Bekerja Sesuai Passion Adalah Sebuah Omong Kosong

M. Afiqul Adib oleh M. Afiqul Adib
25 Januari 2021
A A
Kebahagiaan Bekerja Sesuai Passion Adalah Sebuah Omong Kosong terminal mojok.co

Kebahagiaan Bekerja Sesuai Passion Adalah Sebuah Omong Kosong terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Don’t Follow your passion, It’s a trap. Kalimat tersebut merupakan sebuah judul buku karangan Cal Newport. Buku yang terletak di sudut rak toko tersebut benar-benar menarik, setidaknya bagi saya. Bicara soal bekerja sesuai passion adalah hal yang rumit. Lama sekali saya memandang buku tersebut dan mulai membayangkan isi di dalamnya. Iya, saya hanya bisa membayangkannya saja, selain karena buku tersebut diamankan oleh segel plastik, pada saat itu tanggal tua sehingga dompet saya kurang bisa diajak bekerja sama.

Saking seriusnya saya membayangkan, muncul pertanyaan liar seputar passion dan keharusan untuk mengikuti jejak passion agar bahagia.

Masa muda adalah masa pencarian. Dan dalam perjalanan tersebut, kita akan mencari role model yang sesuai dengan kita. Sayangnya kebanyakan role model tidak benar-benar cocok atau baik. Mereka kadang lebih suka melakukan hegemoni terhadap perjalanan hidupnya untuk menarik perhatian publik.

Kita tentu saja sangat sering mendengar kalau bekerja sesuai passion adalah suatu cara agar membuatmu bahagia. Kalimat tersebut sering sekali digaungkan oleh content creator dan para motivator. Dibayar untuk mengerjakan passion tentu saja memang terdengar menyenangkan. Dan hasilnya, banyak sekali yang menerapkannya. Kalimat tersebut benar-benar dipegang erat oleh banyak orang.

Beberapa kali saya mendengar ada orang yang keluar dari pekerjaannya untuk mengejar passion. Meski saya tidak tahu apakah dia keluar memang mengejar passion atau hanya sebatas bosan. Lah, gimana, kebanyakan cerita tentang orang yang keluar dari pekerjaan tersebut adalah yang baru bekerja dalam waktu singkat.

Bahkan teman saya sendiri pernah curhat kalau ia ingin resign dari pekerjaannya karena baginya tidak sesuai dengan passion yang dimiliki. Ia benar-benar mengatakan kalau ingin mengembangkan passion. Saya tidak ada masalah dengan keinginannya, apalagi ia adalah teman saya, pasti sangat saya dukung. Tapi, setahu saya, ia baru bekerja selama dua bulan.

 

Dalam waktu dua bulan tersebut, saya kira teman saya belum mendapat banyak pengalaman atau ilmu baru. Bisa saja masalahnya sebatas proses adaptasi yang kurang maksimal. Tentu saja ketika teman saya cerita, saya langsung merespons dengan misuh.

Baca Juga:

Gen Z Ogah Naik Jabatan, Mending Jadi Pekerja Biasa Aja, tapi Punya Hidup Lebih Tenang

Loker Management Trainee Membuat Orang Biasa Susah Masuk Perusahaan Impian: Nggak Semua Orang Ingin Jadi Manajer!

Setelah puas misuh, sebagai teman yang baik, saya menambahi dengan kutipan dari seseorang yang saya lupa namanya, “Jika ingin mengejar sesuatu yang kamu nikmati, itu mungkin lebih merupakan tanda kemalasan daripada passion sejati”. Untung saja saya sering menghafal kutipan bagus dari berbagai tokoh sehingga bisa digunakan di berbagai hal. Wahahaha.

Bekerja sesuai passion adalah hal yang sah dilakukan, saya sangat menghargai pemikiran tersebut. Yang bermasalah adalah kesalahan dalam penerapannya. Meminjam kalimat dari Cal Newport, “Passion itu akan muncul setelah kamu bekerja keras dalam melakukan suatu hal hingga akhirnya kamu menjadi ahli di bidang tersebut, bukan sebaliknya.”

Jadi, kita tidak bisa mencintai sebuah pekerjaan sebelum kita menjalani pekerjaan tersebut dengan serius dan trengginas. Ketika kita menjadi ahli dalam sebuah bidang, kecintaan terhadap pekerjaan tersebut secara otomatis akan hadir.

Mirip dengan pepatah jawa “witing tresno jalaran soko kulino” atau cinta karena terbiasa. Kecintaan dalam bekerja juga demikian. Sebab, semua pekerjaan itu melelahkan. Iya, semua pekerjaan memang menguras tenaga dan membuat Anda kelelahan. Meski pekerjaan tersebut sesuai dengan minat atau hobi Anda, bahkan sesuai dengan passion.

Hobi yang dibayar memang menyenangkan, tapi kalau menjadikan hobi sebagai pekerjaan itu lain lagi. Hobi dan pekerjaan adalah dua hal yang berbeda. Ketika hobi dijadikan pekerjaan, ya jadinya bukan hobi lagi, tapi pekerjaan. Yang membedakan antara hobi dan pekerjaan adalah tuntutan. Dalam pekerjaan Anda akan dituntut untuk begini-begitu, sedangkan hobi tidak demikian.

Dalam hobi Anda bisa saja mulai kapan saja dan berhenti saat itu juga, tapi pekerjaan tidak. Ketika ingin memulai atau berhenti, selalu ada prosedur yang harus dilalui. Begitu juga dalam proses melakukannya, bekerja itu sesuai dengan prosedur. Anda tidak bisa bekerja seenak perut. Ketika hobi dijadikan pekerjaan, bersiaplah mencari hobi baru lagi untuk kesenangan duniawi.

Namun, pekerjaan itu seperti ajang pencarian bakat, Anda akan menemukan bakat atau potensi yang baru Anda temukan ketika bekerja. Alasannya sederhana, Anda akan berkembang jika dituntut. Ketika tidak ada tuntutan, Anda akan malas untuk melakukan hal baru. Itu adalah sisi positif dalam pekerjaan.

***

Mengejar passion adalah pekerjaan yang membutuhkan waktu panjang. Lebih panjang dari PDKT Anda ke gebetan yang sering Anda jemput di gang. Passion juga bisa berubah. Ya, saya pernah membaca artikel kalau ternyata passion bisa berubah sesuai dengan kondisi. Jadi mengejar passion adalah kesia-siaan.

Hal lain yang diyakini oleh pemuja passion adalah bekerja sesuai passion membuatmu lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan pekerjaan. Ini sama sekali tidak ada hubungannya. Mudah bergaul itu merupakan skill sosial. Ketika merasa sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan pekerjaan, ya berarti kemampuan sosial Anda yang kurang, jangan salahkan faktor lainnya, dong!

Hal yang paling menggelitik bagi saya adalah mereka (pemuja passion) malah cenderung fokus pada kesenangan dalam bekerja, bukan pada kesuksesannya. Yang ingin dicapai adalah bagaimana agar bekerja dengan bahagia dan tidak merasa bekerja. Bukan peningkatan keterampilan dalam bekerja.

Masalahnya, Anda ini pengin sukses atau hanya ingin tidak ngapa-ngapain dan dianggap bekerja? Saya menduga orang seperti itu adalah member MLM, melakukan tindakan biasa, tapi bermimpi menjadi orang sukses. Eits, canda MLM.

Jadi, mencari pekerjaan dengan fokus pada passion menjadi hal yang agak aneh. Seakan hal tersebut menjadi tameng saja ketika bosan atau ketika tidak mampu beradaptasi di lingkungan kerja.

Passion bukan patokan dalam pekerjaan. Apa pun pekerjaanmu sekarang, kerjakanlah dengan berkualitas, asah terus sampai menghasilkan karya terbaik tanpa bertanya-tanya apakah pekerjaan ini sebuah passion atau bukan. Sebab, apa pun yang kita lakukan selalu memiliki potensi untuk menjadi passion di masa yang akan datang.

BACA JUGA Pentingkah Mengejar Passion? dan tulisan M. Afiqul Adib lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 25 Januari 2021 oleh

Tags: dunia kerjaLowongan KerjaPassion
M. Afiqul Adib

M. Afiqul Adib

Seorang tenaga pendidik lulusan UIN Malang dan UIN Jogja. Saat ini tinggal di Lamongan. Mulai suka menulis sejak pandemi, dan entah kenapa lebih mudah menghapal kondisi suatu jalan ketimbang rute perjalanan.

ArtikelTerkait

Alasan Romantisasi Passion Tidak Relate bagi Orang-orang Dusun Terminal mojok

Romantisasi Passion Bukan untuk Orang-orang Dusun!

9 Februari 2021
Yang Menjengkelkan dari Rekrutmen Adalah Saat Recruiter-nya Menghilang terminal mojok.co

Ditolak Perusahaan Saat Melamar Kerja Bukan Berarti Tidak Layak

19 September 2020
Ikut Job Fair Beneran Bisa Dapat Kerja Nggak, sih? Bisa dong!

Ikut Job Fair Beneran Bisa Dapat Kerja Nggak, sih? Bisa dong!

11 Agustus 2022
Derita Lulusan S2, Susah-susah Kuliah Ujungnya Jadi Budak Profesor dan Terjebak Pinjol Mojok.co

Kuliah S2 Itu (Amat) Penting, tapi Tidak Semua Orang Membutuhkannya

19 Oktober 2024
Faktanya, Kuliah S2 Bukan Berarti Bakal Lancar Dapat Kerjaan, Dunia Kerja Beneran Nggak Peduli Ijazah! lulusan s2 ugm lulusan ugm

Lulusan S2 UGM atau Tidak, Semua Bakal Kesulitan Bertahan Hidup di Jogja kalau Tidak Punya Strateginya

18 Januari 2025
Derita Fresh Graduate Hari Ini: Lapangan Kerja Kian Sempit dan Syarat Lowongan Kerja Makin Aneh Mojok.co

Derita Fresh Graduate Hari Ini: Lapangan Kerja Kian Sempit dan Syarat Lowongan Kerja Makin Aneh

7 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Honda Spacy: “Produk Gagal” Honda yang Kini Justru Diburu Anak Muda

13 Tahun Bersama Honda Spacy: Motor yang Tak Pernah Rewel, sekaligus Pengingat Momen Bersama Almarhum Bapak

18 Maret 2026
Embek-Embek Makanan Khas Tegal Paling Mencurigakan, Pendatang Sebaiknya Jangan Coba-coba Mojok.co

Embek-Embek Makanan Khas Tegal yang Nama dan Rasanya Sama-sama Aneh, Pendatang Sebaiknya Jangan Coba-coba

12 Maret 2026
5 Kasta Kursi KA Probowangi yang Menentukan Nyaman Tidaknya Perjalanan Mudikmu

5 Kasta Kursi KA Probowangi yang Menentukan Nyaman Tidaknya Perjalanan Mudikmu

15 Maret 2026
Saya Orang Asli Depok dan Tidak Bangga Tinggal di Daerah yang Aneh Ini Mojok.co

Saya Orang Asli Depok dan Tidak Bangga Tinggal di Daerah yang Aneh Ini

19 Maret 2026
Normalisasi Utang Koperasi demi Kucing, Itu Bukan Tindakan Aneh apalagi Anabul Sudah Seperti Keluarga Mojok.co

Normalisasi Utang Koperasi Kantor demi Kucing, Itu Bukan Tindakan Aneh apalagi Anabul Sudah seperti Keluarga

18 Maret 2026
Di Mana Ada Lahan, di Situ Ada Warung Pecel Lele Lamongan nasi muduk

Nasi Muduk, Kuliner Nikmat yang Tak Pernah Masuk Brosur Kuliner Lamongan, padahal Berani Bersaing dengan Soto dan Pecel Lele!

16 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Kerja di Jakarta dengan Gaji Nanggung 8 Juta Adalah “Bunuh Diri” Paling Dicari karena Menetap di Kampung Bakal Tetap Nganggur dan Miskin
  • Getol Kuliah Peternakan Sejak Sarjana hingga S3 di Luar Negeri, Kini Bantu Para Gembala di Kupang Jadi Kaya 
  • 3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan
  • Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?
  • Mudik Gratis BUMN 2026: Hemat Rp600 Ribu dari Jakarta-Solo Tanpa Pusing Dana THR Berkurang
  • Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali 

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.