Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Kawula Sinoman: Menggugat Sistem Rewang Tanpa Organ Tunggal

Jevi Adhi Nugraha oleh Jevi Adhi Nugraha
22 Maret 2022
A A
Kawula Sinoman: Menggugat Sistem Rewang Tanpa Organ Tunggal Terminal Mojok.co

Kawula Sinoman: Menggugat Sistem Rewang Tanpa Organ Tunggal (Shutterstock.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Tradisi rewang di pedesaan tidak hanya membantu orang yang punya hajat, tetapi juga ajang untuk memperkuat tali persaudaraan dengan masyarakat. Untuk itu, tidak jarang para perantauan pulang ke kampung halaman saat keluarga atau tetangga sedang menggelar hajatan. Hal ini dilakukan semata-mata untuk tetap menjalin persaudaraan dengan lingkungan setempat.

Seiring berjalannya waktu, tidak sedikit perubahan yang terjadi pada tradisi rewang. Menurut ayah saya, Supanto (55), dulu perewang tidak nyekeli (memberi amplop) kepada tuan rumah atau pemilik hajatan. Namun, mereka membawa bahan makanan pokok, seperti pisang sak tundun, beras, mi putih, tempe, kambil, dan lainnya, dengan cara dipikul.

ADVERTISEMENT

Saat ini, perewang tidak perlu repot-repot lagi memikul bahan pokok makanan, cukup membawa amplop dengan uang yang disesuaikan. Misalnya, nyumbang saudara dekat minimal Rp300 ribu, saudara jauh cukup Rp200 ribu, dan seterusnya.

Seolah telah menjadi hukum alam, semakin hari masyarakat pedesaan dituntut untuk terus mengikuti perkembangan zaman. Tentu hal ini harus kita terima, sebab tidak semua perubahan yang terjadi di kampung halaman memberi dampak negatif bagi masyarakat. Ada banyak contoh perkembangan yang menurut saya justru memberi efek baik untuk warga, salah satunya adanya hiburan organ tunggal saat pesta hajatan.

Organ tunggal adalah harapan (Shutterstock.com)

Organ tunggal oleh masyarakat sendiri biasa diundang dalam berbagai kegiatan, mulai dari kegiatan penutupan lomba agustusan, khitanan, pernikahan, ulang tahun, perpisahan KKN, dan acara-acara Karang Taruna lainnya. Kelompok musik ini kerap diundang untuk mengisi acara karena dinilai lebih praktis, efisien, dan tidak memakan tempat atau ruang.

Meski hanya menggunakan satu keyboard, ketipung, dan gitar, tetapi suara musik yang dihasilkan tidak kalah dengan orkestra. Penyajian keyboard atau oleh masyarakat sering disebut organ tunggal ini, biasa menampilkan genre musik pop atau dangdut. Namun, bagi masyarakat di kampung saya, musik ini identik dengan musik dangdut atau campurasari.

Dalam acara hajatan, baik pernikahan maupun sunatan, kelompok organ tunggal yang biasanya terdiri dari pemusik, MC, dan penyanyi, ini kehadirannya salalu ditunggu para perewang. Tidak hanya sebagai hiburan semata, adanya orgen tunggal di pesta pernikahan juga dapat menarik para perewang agar semangat dalam menjalankan tugasnya.

Sebagai orang yang lahir dan tumbuh besar di pelosok desa, tentu saya memiliki tanggung jawab sosial untuk membantu warga yang tengah mengadakan acara pernikahan. Biasanya, saya dan teman-teman Karang Taruna ditunjuk sebagai sinoman atau petugas pembawa baki yang di atasnya terdapat minuman.

Baca Juga:

Bridesmaid dan groomsmen nggak guna di hajatan desa, tetap saja muda-mudi sinoman dan ibu-ibu dapur yang kerja

Orang yang Menggelar Hajatan hingga Menutupi Jalan Umum Patut Dibenci, Bikin Susah!

Ada banyak hal yang menyenangkan sebagai seorang sinoman. Tidak hanya selalu dipajang di depan dan memiliki privilese untuk melihat wajah-wajah para tamu undangan, tetapi juga bisa menyaksikan organ tunggal dengan leluasa. Berbeda dengan nasib ibu-ibu yang ada di dapur, tentu tidak akan bisa melihat lenggak-lenggok para biduan.

Organ tunggal dan biduan adalah duet yang asoy untuk sinoman (Muh.Imron/Shutterstock.com)

Organ tunggal atau elektun menjadi salah satu hiburan di pesta hajatan yang selalu ditunggu para sinoman. Bahkan, tidak jarang setiap kali mau rewang, yang ditanyakan pertama kali perihal organ tunggal. Pasalnya, pernah suatu kejadian di mana salah seorang warga di kampung saya yang tidak mengundang organ tunggal. Alhasil, para sinoman banyak yang tidak menghadiri pesta pernikahan atau mutung.

Bagi kami, para sinoman, adanya organ tunggal sangat penting. Terlebih saat para tamu undangan membludak, tentu kami sangat butuh hiburan. Banyaknya tamu undangan yang hadir, tentu berbanding lurus dengan kesibukan yang akan kami rasakan. Semakin banyak tamu yang hadir, maka kami akan semakin repot dalam mengantar dan mengambil minuman.

Biasanya, pada waktu sore hari atau menjelang salat magrib, ini menjadi puncak keramaian tamu undangan. Hampir semua divisi rewang, mulai dari devisi jayengan (tempat membuat minuman), craki (pembungkus makanan), pelayangan (wira-wiri), hingga divisi prasmanan, akan sangat sibuk dengan tugasnya di sore hari. Terlebih saat stock makanan menipis, sementara jumlah tamu undangan semakin membludak, tentu hal semacam ini terkadang bikin panik.

Saat-saat situasi riuh dan genting seperti itu, hiburan organ tunggal cukup dibutuhkan oleh perewang, khususnya para sinoman. Musik organ tunggal dianggap mampu mencairkan suasana dan membuat para sinoman lebih tenang dalam mengerjakan tugas-tugasnya. Selain itu, adanya MC dan biduan yang terkadang bertingkah lucu saat membawakan lagu, juga mampu membuat suasana hati menjadi tidak tegang.

Dapur hajatan yang selalu sibuk (Dolan Mbengi/Shutterstock.com)

Untuk itu, sebagai orang yang pernah menjadi koordinator sinoman di kampung halaman, saya menyarankan agar semua warga masyarakat menghadirkan tontonan organ tunggal saat menggelar pesta hajatan. Tidak harus mengundang penyanyi kondang, cukup biduan lokal setempat saja, yang penting kawan-kawan bisa goyang dan nyumbang lagu.

Selain membuat suasana hajatan semakin meriah, menghadirkan organ tunggal juga bisa membuat kawan-kawan sinoman lebih semangat dalam melaksanakan tugas. Terlebih saat lagu kesukaan dinyanyikan biduan, saya bisa jamin, baki-baki berisi wedang yang dibawa tim sinoman akan jauh terasa lebih ringan.

Bekerja sambil mendengarkan lagu-lagu dangdut dan sedikit bergoyang, tentu sangat menyenangkan. Maka dari itu, tidak ada alasan lagi untuk tidak mengundang organ tunggal saat pesta hajatan. Organ tunggal sudah menjadi kebutuhan utama bagi para sinoman. Bukankah lebih baik mengeluarkan uang sedikit untuk membayar kelompok organ tunggal, daripada hajatan sepi tanpa sinoman? Ya kan, Pak?

Penulis: Jevi Adhi Nugraha
Editor: Audian Laili

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 22 Maret 2022 oleh

Tags: Hajatanorgan tunggalsinoman
Jevi Adhi Nugraha

Jevi Adhi Nugraha

Lulusan S1 Ilmu Kesejahteraan Sosial UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang berdomisili di Gunungkidul.

ArtikelTerkait

Tradisi Rewang dan Nasib Orang-orang di Balik Megahnya Pesta Pernikahan terminal mojok.co

Tradisi Rewang dan Nasib Orang-orang di Balik Megahnya Pesta Pernikahan

22 Desember 2020
Biskuit Roma Kelapa, Biskuit Legendaris yang Jadi Oleh-oleh Hajatan di Jawa Tengah

Biskuit Roma Kelapa, Biskuit Legendaris yang Jadi Oleh-oleh Hajatan di Jawa Tengah

19 Oktober 2023
cara menghitung tamu undangan di nganjuk

Begini Cara Warga Nganjuk Menghitung Tamu Hajatan

20 Oktober 2021
Bridesmaid dan groomsmen nggak guna di nikahan desa, tetap saja sinoman dan ibu-ibu dapur yang kerja Mojok.co

Bridesmaid dan groomsmen nggak guna di hajatan desa, tetap saja muda-mudi sinoman dan ibu-ibu dapur yang kerja

5 Agustus 2026
Perbedaan Hajatan Kampung dan Gedung dalam Pandangan Tukang Dekor Terminal mojok

Perbedaan Hajatan Kampung dan Gedung dalam Pandangan Tukang Dekor

21 Februari 2021
Jasa WO di Desa Namanya Sinoman, Layanan Lebih Prima dan Ramah di Kantong Mojok.co

Jasa WO di Desa Namanya Sinoman, Layanan Lebih Prima dan Ramah di Kantong

4 Maret 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cor dak malam hari itu bukan karena tukangnya gabut, tapi ada alasan ilmiah yang valid

Cor dak malam hari itu bukan karena tukangnya gabut, tapi ada alasan ilmiah yang valid

9 Agustus 2026
Larang thrifting boleh saja, asal baju lokal harganya nggak bikin puasa seminggu

Larang thrifting boleh saja, asal baju lokal harganya nggak bikin puasa seminggu

10 Agustus 2026
Iuran wajib Hari Kemerdekaan Indonesia itu penjajahan gaya baru (Unsplash)

Tradisi iuran wajib untuk perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia di kampung itu nggak masuk akal karena nggak semua warga punya uang sisa cuma buat panggung hiburan yang bikin berisik

9 Agustus 2026
Nasib Stasiun Tegalluar, stasiun megah, tapi jauh dari peradaban, kalah ramai dari Padalarang

Nasib Stasiun Tegalluar, stasiun megah, tapi jauh dari peradaban, kalah ramai dari Padalarang

5 Agustus 2026
Kerja sambil kuliah program Ekstensi UI mengubah cara pandang terhadap pekerjaan saya sebagai ASN Kementerian Mojok.co

Kerja sambil kuliah program Ekstensi UI mengubah cara pandang terhadap pekerjaan saya sebagai ASN Kementerian

10 Agustus 2026
Kalau kamu pekerja dengan gaji UMK dua juta rupiah, masa depan cerah itu hanyalah bualan sampah

Kalau kamu pekerja dengan gaji UMK dua juta rupiah, masa depan cerah itu hanyalah bualan sampah

7 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.