Kata Siapa Tinggal di Gang Buntu Itu Aman dan Nyaman? Rasakan Sensasinya Ketika Gang Buntu itu Ditumbuhi Kos-kosan

Kata Siapa Tinggal di Gang Buntu Itu Aman dan Nyaman? Rasakan Sensasinya Ketika Gang Buntu itu Ditumbuhi Kos-kosan

Kata Siapa Tinggal di Gang Buntu Itu Aman dan Nyaman? Rasakan Sensasinya Ketika Gang Buntu itu Ditumbuhi Kos-kosan

Dulu, gang buntu adalah definisi paling sederhana dari ketenangan. Tidak ada orang lewat kalau tidak punya tujuan. Tidak ada suara yang tiba-tiba muncul tanpa asal-usul. Dan yang paling penting, tidak ada alasan untuk curiga pada siapa pun yang melintas, karena hampir semua wajah sudah kami hafal di luar kepala.

Saya tumbuh dengan keyakinan itu. Bahwa tinggal di gang buntu adalah semacam privilege kecil yang tidak semua orang punya. Semacam “kemewahan sunyi” di tengah dunia yang semakin ramai. Tapi rupanya, saya terlalu naif. Atau mungkin, saya hidup di waktu yang salah. Karena sekarang, gang buntu itu masih ada. Secara bentuk, iya. Tapi secara rasa, sudah lama hilang.

Semua berubah pelan-pelan. Tidak langsung jadi chaos seperti sekarang. Awalnya cuma satu kos. Kos putri. Kata orang-orang, aman. Lebih tertib. Tidak macam-macam. Tidak berisik. Saya percaya. Lalu satu lagi muncul. Lalu satu lagi. Dan tiba-tiba, saya hidup di lingkungan yang dikelilingi kampus dari UNISA (Universitas Aisyiyah), UMY (Universitas Muhammadiyah), UTY (Universitas Teknologi Yogyakarta), sampai STPN (Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional) yang entah bagaimana membuat gang sempit ini jadi jalur hidup yang tidak pernah benar-benar istirahat.

Kos putri, katanya anteng. Lucu juga. Karena yang saya dengar setiap malam justru bukan keheningan, tapi tawa yang pecah tanpa rem. Bukan obrolan biasa, tapi sesi curhat yang volumenya seperti sedang siaran radio komunitas. Kadang sampai ada yang teriak, entah karena ketawa terlalu keras atau karena drama hidup yang memang tidak bisa ditahan lagi.

Mereka punya hak, tapi, saya juga

Saya tidak sedang menyalahkan mereka. Serius. Semua orang butuh tempat untuk jadi diri sendiri. Semua orang berhak tertawa, berbagi cerita, bahkan sedikit lebay kalau memang itu cara mereka bertahan hidup. Tapi masalahnya saya juga tinggal di sini. Dan rumah, setidaknya buat saya, seharusnya jadi tempat untuk berhenti dari kebisingan dunia luar. Bukan malah jadi cabang kecil dari itu.

Belum selesai soal suara, ada babak lain yang tidak kalah menarik yakni kendaraan. Motor keluar masuk seperti ini jalan raya. Gas ditarik seolah-olah sedang adu cepat di sirkuit Mandalika. Padahal ini gang. Buntu lagi. Tidak ada yang dikejar selain mungkin waktu, atau ego. Setiap kali ada suara motor meraung di depan rumah, saya selalu punya dua pilihan antara kaget, atau kesal. Dan seringnya, saya memilih dua-duanya.

Belum lagi kurir dan ojol. Ini bukan keluhan, ini fakta hidup modern. Saya juga sering pakai jasa mereka. Tapi ketika dalam satu jam ada beberapa motor keluar masuk dengan ritme yang tidak ada jeda, rasanya seperti tinggal di titik kecil dari ekosistem yang tidak pernah berhenti bergerak.

Gang buntu saya tidak lagi buntu. Ia berubah jadi jalur transit. Orang datang, orang pergi. Tidak ada yang benar-benar tinggal, kecuali kami yang sudah dari dulu di sini. Yang bikin rumit, ini bukan sekadar soal berisik. Kalau cuma berisik, mungkin bisa selesai dengan satu-dua teguran. Tapi ini lebih dari itu. Ini soal rasa memiliki yang pelan-pelan menguap.

Harus ke siapa?

Dulu, kalau ada yang ribut di gang buntu ini, kita tahu harus ngomong ke siapa. Sekarang? Mau negur siapa? Penghuni kos yang besok bisa saja pindah? Atau pemilik kos yang mungkin bahkan tidak tinggal di situ? Semua jadi serba tidak jelas. Dan di tengah ketidakjelasan itu, ada satu hal yang terus kami pelihara yakni rasa pekewuh.

Kami tahu kami bisa protes. Kami tahu kami bisa pasang polisi tidur kecil biar motor tidak ugal-ugalan dan bisa ngomong baik-baik ke pemilik kos. Tapi selalu ada suara kecil di kepala “nanti tidak enak.” Dan jujur saja, kadang yang paling melelahkan bukan suara dari luar. Tapi suara dari dalam kepala sendiri yang terus menyuruh diam.

Saya tidak anti kos-kosan. Saya paham betul, tanpa mereka, mungkin banyak mahasiswa kesulitan cari tempat tinggal. Warung-warung di sekitar sini juga hidup karena mereka. Ekonomi kecil bergerak karena ada orang-orang yang datang dan pergi. Saya tidak menutup mata soal itu. Tapi apakah berarti kami yang sudah lebih dulu tinggal di sini harus mengorbankan rasa aman dan nyaman begitu saja? Apakah “ramai” harus selalu jadi harga yang dibayar untuk “berkembang”? Atau jangan-jangan, kita semua cuma belum pernah benar-benar duduk dan sepakat batasnya di mana?

BACA JUGA: Menelusuri Kotagede Jogja: Nemu Banyak Hal Kalcer, Memantik Kesadaran agar Sastra Lebih Membumi

Hilangnya ketenangan di gang buntu

Yang saya rasakan sekarang bukan sekadar kehilangan ketenangan. Tapi kehilangan kepastian. Dulu, malam itu bisa ditebak. Sekarang, malam itu penuh kemungkinan. Bisa sunyi, bisa juga seperti pasar malam versi minimalis. Tidak ada pola, tidak ada ritme. Semua tergantung siapa yang lagi punya cerita, siapa yang lagi pesan makan, siapa yang lagi buru-buru. Dan anehnya, gang ini tetap disebut gang buntu. Padahal yang buntu mungkin bukan jalannya, tapi komunikasi kita semua.

Saya tidak menulis ini untuk menyalahkan siapa pun. Tidak juga untuk mengusir siapa pun. Saya hanya ingin mengatakan satu hal yang mungkin selama ini terlalu sering kami telan sendiri bahwa kami juga ada di sini. Bahwa rumah bagi kami bukan sekadar tempat singgah, tapi tempat pulang. Tempat istirahat. Tempat diam. Dan diam, di zaman sekarang, ternyata sudah jadi barang mewah.

Jadi, kalau masih ada yang bilang tinggal di gang buntu itu pasti aman dan nyaman, saya cuma bisa senyum tipis. Iya, dulu. Sebelum kos-kosan putri yang katanya anteng itu datang dan mengubah semuanya jadi lebih hidup, tapi juga lebih melelahkan. Dan untuk para pemilik kos-kosan di sekitar rumah saya, bacalah tulisan kekanak-kanakan ini.

Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 3 Alasan Mengapa Notoprajan Jogja Jadi Kawasan Paling Menyebalkan Bagi Driver Ojol

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version