Stadion Karapan Sapi R.P. Moch Noer di Bangkalan Madura perlu segera diperbaiki.
Dahulu, ketika saya mendengar Alun-alun Bangkalan akan dibangun ulang, saya merasa senang. Sebab, tampilan alun-alun kabupaten yang sekarang memang lekas membuat pengunjung bosan. Sampahnya berserakan, kolamnya kotor, warna catnya hilang, nggak ada pembaruan, pokoknya tidak menarik.
Akan tetapi, rasa senang itu berubah setelah kemarin saya melihat desain awal proyek ini. Bagi saya, overall, konsepnya sama saja dengan yang sekarang. Kalau bahasa saya sih, ini lebih cocok kita sebut “merenovasi”, nggak usah sok-sok dibilang “merevitalisasi”.
Di sisi lain, memperhatikan kondisi lapangan karapan sapi di Bangkalan Madura, yakni Stadion R.P. Moch Noer, agaknya gedung inilah yang sebetulnya lebih perlu untuk diperbaiki daripada alun-alun Bangkalan Madura.
Jujur saja, saya sebagai warlok malu mau bilang bangga pada karapan sapi sebagai budaya dari Madura ketika melihat lapangan pertandingannya!
Gedung karapan sapi Bangkalan Madura tidak terawat
Stadion R.P. Moch Noer merupakan lapangan karapan sapi utama di Bangkalan Madura. Sapi dari seluruh penjuru Madura kerap ditandingkan di lapangan ini saat ada event besar, misalnya Piala Presiden. Saat ini pun, Piala AHY juga sedang dilaksanakan di lapangan tersebut.
Walau stadion ini adalah yang utama dan disebut-sebut paling bagus, jujur di hari-hari biasa gedung ini terlihat seperti tidak terurus. Rumput liarnya memenuhi halaman stadion, bahkan menjalar ke atas temboknya. Cat pagarnya pun memudar, besi penghalangnya juga mulai berkarat seperti tidak ada yang memperhatikan.
Nah, bayangkan kalian menceritakan budaya karapan sapi pada orang luar, tapi pas berkunjung stadionnya seperti bangunan terbengkalai. Malu, kan!
Pengunjung butuh tribun agar tak cuma lihat punggung
Idealnya sebuah lapangan pertandingan, tribun menjadi fasilitas nomor wahid agar pengunjung bisa menonton dengan nyaman. Tanpa adanya tribun, pengunjung akan berdesak-desakan untuk berdiri paling depan.
Nahasnya, mereka yang tak bisa mendapat posisi paling depan hanya akan nonton punggung pengunjung lain. Kasihan, kan?
Demikianlah yang terjadi di stadion karapan sapi R.P. Moch Noer. Banyak pengunjung yang merasa kecewa saat menonton karapan sapi di stadion ini. Bahkan, wisatawan luar kerap menyesal, sebab sudah berencana jauh-jauh hari buat nonton karapan sapi, panas-panasan, desak-desakan, eh ternyata nggak kebagian nonton sama sekali.
Akan tetapi, ketahuilah, di sudut lain sebetulnya disediakan kok tribun yang bisa dipakai. Namun, tidak semua orang bisa menempatinya, hanya para pejabat saja yang bisa.
Ini sebenarnya siapa sih yang bayar pajak? Kok demi nonton karapan sapi saja rakyatnya malah desak-desakan, sementara pejabatnya enak duduk santai
Nah, itu mengapa, menurut saya sebaiknya dibuat full tribun saja. Masa para pejabat di tribun sana nggak malu dilihat rakyatnya?
Bisa menjadi ruang terbuka hijau bagi warga
Jujur saja, di mata saya, Alun-alun Bangkalan Madura itu hanya butuh renovasi saja, dipercantik bagian yang rusak. Bagi saya, alun-alun kita itu tidak bagus bukan karena termakan usia, tapi memang kurang terurus saja.
Jadi cobalah warna yang pudar dicat ulang, besi yang rusak dan berkarat diganti yang baru, dan yang tak kalah penting edukasi masyarakat tentang sampah secara maksimal. Jangan cuma bikin proker kerja bakti sehari habis itu ditinggalkan.
Alun-alun kita itu jelek sebetulnya terutama karena sampahnya saja berserakan. Betul kan?
Nah, maka dari itu, anggaran untuk membangun ulang alun-alun digeser saja untuk membangun Stadion R.P. Moch Noer.
Selain alasan yang saya jelaskan di atas, stadion ini nantinya bisa jadi pilihan Ruang Terbuka Hijau (RTH) bagi warga Bangkalan. Kita jadi bisa punya alternatif lain kalau mau bersantai, olah raga, latihan, bikin perkumpulan, atau lain sebagainya. Kalau sekarang kan, RTH paling cocok kalau nggak alun-alun paling stadion sepak bola. Itu pun harus rebutan sesama warga!
Jadi bukti kalau karapan sapi benar-benar diprioritaskan
Kalau ditanya pada orang Bangkalan Madura secara keseluruhan, mana sih yang lebih penting antara alun-alun dan stadion R.P. Moch Noer, saya yakin hanya segelintir orang yang bilang alun-alun. Itu pun kebanyakan hanya warga kota saja. Sementara kami yang di desa-desa ini, tak begitu membutuhkan alun-alun. Sebab aksesnya jauh!
Nah, stadion R.P Moch Noer berbeda dengan alun-alun. Di stadion karapan sapi ini, warga dari seluruh Bangkalan Madura setiap tahun berkumpul untuk menyaksikan pertandingan. Nggak yang di kota, nggak yang dari desa, semuanya nonton. Bahkan, para turis mancanegara juga kerap berseliweran di stadion ini saat ada event besar.
Maka dari itu, maklum jika saya berpendapat bahwa stadion ini perlu direnovasi agar lebih layak lagi. Lagian, karapan sapi kan emang ikon budaya Madura, masa fasilitas yang disediakan cuma seadanya. Hadeh!
Yah, ini semua hanya saran dari saya sebagai rakyatnya. Pemerintah nggak wajib melaksanakan kok, cuma tetap wajib mempertimbangkannya. Jika dirasa benar, tak perlu malu mengatakan dan mengeksekusinya. Jika pun salah, monggo direspon suara dari orang biasa ini. Hehehe. Sekian!
Penulis: Abdur Rohman
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 3 hal langka di Madura, tapi umum di Jogja, sudah seharusnya Madura belajar pada Jogja!
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.











