Naik bus Harapan Jaya itu menderita.
Naik kendaraan umum adalah salah satu bentuk nyata mengurangi kemacetan di jalanan. Dengan kesadaran itu saya memutuskan untuk naik bus Harapan Jaya jalur Surabaya-Blitar ketika hendak pergi ke Kediri. Selain mengurangi kemacetan jalanan, niat hati ini ingin bepergian dengan nyaman, tanpa banyak mikir dan energi. Tinggal duduk manis, tiba-tiba saya sudah sampai tujuan.
Ternyata saya keliru. Naik bus Harapan Jaya justru jadi pengalaman perjalanan yang paling nggak nyaman dan menguras energi. Rasanya kapok kalau harus mengulanginya lagi.
PO Harapan Jaya terlalu maruk mengambil penumpang
Ceritanya begini. Setelah menunggu cukup lama di Terminal Bungurasih, saya menghampiri salah satu petugas terminal. Saya bertanya jadwal bus yang menuju atau melewati Kediri. Untung saja saya bertanya karena ketika itu masuk bus Harapan Jaya. Walau masih di luar antrean, kursi penumpang terlihat penuh penumpang.
Sebelumnya, petugas yang saya tanyai memang sudah mengatakan, “Sampeyan kalo nunggu di sini nggak kebagian kursi pasti, Mas. Langsung ke tempatnya saja,” ujar petugas sembari mengarahkan saya ke lokasinya. Saya ucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada mas petugas. Karena, kalau tidak diberitahu, mungkin saya sudah ketinggalan, atau berdesak-desakan dengan beberapa orang yang juga nggak kebagian tempat duduk.
Sejak awal saya sudah merasa kurang nyaman. Ini karena bus sudah melebihi kapasitas yang semestinya. Akibatnya penumpang yang berdesakan karena tak mendapat tempat duduk justru mengganggu penumpang yang mendapatkan tempat duduk. Percayalah, kawan, disenggol sana-sini saat berada di kendaraan umum itu bukan sesuatu yang menyenangkan.
Semula saya berpikir bahwa PO Harapan Jaya mau berbuat baik dengan cara mengumpulkan penumpang banyak-banyak. Ya, tentunya semua penumpang kendaraan umum ingin sampai di tempat tujuan tepat waktu. Dan, PO Harapan Jaya ingin mewujudkannya, kendati berdesak-desakan.
Akan tetapi, pikiran saya segera berubah saat bus sudah berangkat dan tetap menjaring penumpang sebanyak-banyaknya. Padahal, kondisi di dalam bus sudah nggak memungkinkan untuk mendapat tambahan penumpang.
Penumpang jadi nggak nyaman
Saya tahu, mendapat penumpang banyak itu memang pekerjaan PO dengan merek apa saja. Tetapi, mbok ya jangan lupa bahwa kenyamanan itu juga hak milik penumpang. Kami bayar loh!
Bagi pihak perusahaan otobus, mendapat penumpang tambahan tentu saja merupakan sebuah rejeki tambahan, kendati harus menciptakan suasana berdesak-desakan. Sementara bagi penumpang yang dibolehkan naik meski berdesak-desakan, berhentinya bis untuk mengangkutnya adalah sebuah anugerah. Mereka tak perlu lagi menunggu lebih lama lagi.
Hanya saja, jangan lupakan mereka yang sudah duduk manis di bangku penumpang dong. Merekalah yang jadi korban karena penumpang jadi berdesak-desakan. Padahal, hak mereka mendapat perjalanan yang nyaman. Mereka juga bayar lho.
Saran saya kepada pihak bus Harapan Jaya, hal-hal yang kerap dianggap sebelah mata ini sebaiknya disoroti lebih serius. Memang, kami tidak membayar sebesar moda transportasi lain, atau kelas bus yang lebih tinggi. Namun, bukan berarti kami tidak berhak dapat pengalaman perjalanan yang nyaman kan? Tidak apa-apa menaikkan penumpang walau sudah penuh, asal tidak melebihi kapasitas seperti yang saya alami beberapa waktu lalu.
Penulis: Ahmad Dani Fauzan
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
