Kalau Suka Riset, Mungkin Kamu Bisa Jadi UX Researcher

Artikel

Untuk mempermudah hajat hidup manusia, maka lahirlah berbagai macam perusahaan teknologi. Kelahiran berbagai macam perusahaan teknologi secara tidak langsung juga dapat mempopulerkan suatu profesi. Salah satu profesi tersebut adalah UX Researcher.

UX Researcher biasa disebut user experience researcher, bukanlah suatu profesi yang benar-benar baru. Pada tahun 1910 ahli mesin Frederick Winslow Taylor pernah melakukan riset mengenai interaksi pekerja dengan suatu mesin. Kerja dari Fredrick Inilah yang mempelopori lahirnya profesi ini.

Mari melompat ke tahun 2020 di mana profesi ini sudah menjadi bagian penting di perusahaan teknologi. Mulai dari perusahaan startup kecil, hingga decacorn (valuasi lebih $10M), perusahaan-perusahaan tersebut memerlukan kerja dari UX Researcher.

Lantas apa tugas UX Researcher? Jika diterjemahkan secara literal, tugas mereka adalah meriset pengalaman para pengguna, dan prakteknya kurang lebih serupa. Pekerjaan ini memiliki peran penting bagi perusahaan teknologi. Dengan kehadiran UX Researcher yang melakukan riset pengguna, maka asumsi atau pendapat para developer bisa dikesampingkan terlebih dahulu.

Sama seperti riset dalam ilmu sosial lainnya, dalam meriset para UX Researcher juga memulainya dari latar belakang masalah, menentukan tujuan riset, memilih metode yang dirasa cocok, terjun ke lapangan, hingga akhirnya membuat laporan temuan hasil penelitian. Karena kurang lebih serupa dengan cara riset ilmu sosial, maka bisa dikatakan kurang lebih beginilah alur kerja pada profesi ini.

Biasanya pekerjaan dimulai dari mendapatkan brief. Pada perusahaan teknologi biasanya UX Researcher akan mendapatkan brief dari divisi lain bisa dari UX Desainer, atau bahkan dari Product Manager. Sama seperti brief pada umumnya. Brief yang didapatkan juga berisi informasi dasar terkait panduan pekerjaan, waktu tenggat, dan biaya yang dapat dikeluarkan.

Setelah mendapatkan dan memahami sebuah brief, maka UX Researcher akan menentukan latar belakang masalah. Contoh latar belakang masalah: Misalnya saya adalah UX Researcher pada perusahaan aplikasi streaming anime berbayar. Kebetulan perusahaan saya tersebut membuat metode pembayaran baru dengan pulsa. Perusahaan ingin agar jika metode pembayaran dengan pulsa tersebut dirilis ke pasar, para pengguna paham akan cara pembayaran tersebut. Maka sebelum dirilis, saya akan melakukan riset terlebih dahulu.

Baca Juga:  Mengenal Pandhalungan, Asimilasi Budaya Jawa dan Madura

Dari sini saya dapat memahami bahwa tujuan risetnya adalah untuk menjawab, apakah konsumen paham dengan cara pembayaran melalui pulsa? Apakah icon yang digunakan sudah dirasa sesuai? Apakah copy pada metode pembayaran tersebut sudah informatif?

Setelah itu barulah menentukan metode penelitian. Metode penelitiannya bisa berbentuk kuantitatif atau kualitatif. Jika melihat latar belakang dan tujuan di atas maka kemungkinan saya sebagai UX Researcher akan menggunakan metode kualitatif. Saya akan mencari koresponden untuk melakukan uji coba pada aplikasi yang masih berbentuk prototype.

Saya juga bisa melakukan wawancara mendalam untuk mendapatkan masukan. Jawaban-jawaban jujur dari para koresponden sangat diperlukan. Dari jawaban ini bisa didapatkan kekurangan, kelebihan, dan masukan.

Setelah itu langkah selanjutnya adalah analisis. Sama dengan analisis data kualitatif pada ilmu sosial lainnya. Dalam meriset, para UX Researcher juga melakukan penyusunan suatu temuan, pengelompokan temuan, coding data, mendeskripsikan temuan, dan akhirnya akan membuat suatu kesimpulan yang berbentuk narasi dengan bagan-bagan. Setelah mendapatkan hasil analisis, barulah UX Researcher memasukan saran.

Hasil penelitian tersebut juga dibuat laporannya. Dalam dunia akademik mungkin disebut jurnal penelitian, tapi dalam perusahaan teknologi biasa disebut report. Isi dari report tersebut juga sama dengan jurnal akademik, berisikan latar belakang, tujuan, metode penelitian, hasil penelitian, kesimpulan, dan saran.

Jika dalam dunia akademik hasil penelitiannya akan dipresentasikan ke dosen pengampu, maka UX Researcher mempresentasikan hasil kerjanya kepada divisi yang memberikannya brief, bisa presentasi kepada UX Desainer, atau kepada Product Manager, atau bahkan keduanya.

Saran dari UX Researcher bisa sangat berkontribusi di sini. Dengan temuannya dia bisa memberikan suatu saran untuk kepentingan perusahaan tersebut. Karena masih berbentuk prototype, maka para developer masih bisa mengutak-atik dan memperbaiki aplikasi tersebut. Harapannya, apalagi kalau bukan untuk menyenangkan konsumen.

Baca Juga:  Curahan Hati Seorang Pendukung Liverpool FC

Jika metode pembayaran dengan pulsa tersebut sudah dirilis, maka UX Researcher juga bisa melakukan riset lanjutan terkait keberhasilan akan metode pembayaran tersebut. Bisa melakukan penelitian kuantitatif dengan melakukan survei dengan banyak responden. Pertanyaannya bisa berupa kepuasan terhadap metode pembayaran tersebut. Jawaban dari survei ini biasanya berupa skala likert, seperti sangat setuju, setuju, netral, tidak setuju, sangat tidak setuju. Hasil dari servei ini juga akan diolah, untuk kemajuan aplikasi tersebut.

Pada industri saat ini saya melihat, biasanya orang yang berprofesi sebagai UX Researcher adalah lulusan ilmu komputer, atau teknik informatika, yang tidak sanggup dengan coding. Akhirnya mereka memutuskan menjalani profesi ini.

Karena kerja UX Researcher memiliki sedikit kemiripan dengan riset-riset pada ilmu sosial, maka sebenarnya profesi ini juga bisa dilakukan oleh lulusan Ilmu Komunikasi, Psikologi, Antropologi, Sosiologi, dan banyak lagi. Kalau mau mencoba, banyak perusahaan yang membuka program magang, dengan tiga bulan kerja dibayar dengan upah sukarela, kamu sudah bisa mendapatkan ilmu dan merasakan profesi ini. Menarik bukan?

BACA JUGA Mengenal Profesi Social Media Officer yang Kerjanya Dikira Tukang Posting Konten doang dan tulisan Muhammad Ikhsan Firdaus lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
4


Komentar

Comments are closed.