Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Kalau Eks Koruptor Boleh Nyaleg, Mending SKCK Dihapus Aja, buat Apa?

Muhamad Iqbal Haqiqi oleh Muhamad Iqbal Haqiqi
2 September 2022
A A
Kalau Eks Koruptor Boleh Nyaleg, Mending SKCK Dihapus Aja, Buat Apa?

Kalau Eks Koruptor Boleh Nyaleg, Mending SKCK Dihapus Aja, buat Apa? (Shutterstock.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Hapuskan saja SKCK. Toh, eks koruptor bisa nyaleg. Kalau mereka saja aman, kenapa justru rakyat biasa yang disuruh repot?

“Sudahlah, hapus aja itu secarik kertas bernama SKCK dari bumi Indonesia, apa fungsinya? Toh semua orang punya hak untuk melamar dan mendaftarkan diri di posisi apapun yang diinginkan” gerutu teman saya yang gagal daftar PCPM Bank Indonesia karena kendala SKCK.

Gerutu teman saya ini tentu relatable dengan wacana diperbolehkannya seorang eks koruptor untuk mendaftarkan diri sebagai calon legislatif (Caleg). Kalau mereka yang punya masa lalu bejat mencuri uang rakyat saja punya kesempatan untuk kembali korupsi mengabdi, kenapa rakyat biasa harus dibatasi haknya untuk berjuang demi ekonomi keluarga hanya karena secarik kertas bernama SKCK?

Diperbolehkannya eks koruptor menjadi caleg ini dilandasi pada UU tentang Pemilu No 7 tahun 2017 yang tidak melarang dan tidak mempersoalkan terkait status sosok caleg yang mantan koruptor.

Alhasil eks koruptor yang telah menjalani hukuman penjara boleh mendaftar sebagai caleg, baik DPR, DPD, maupun DPRD pada Pemilu 2024 mendatang. Jika mantan koruptor tersebut ingin mendaftar, mereka hanya diwajibkan mengumumkan hal tersebut kepada publik. Disebutkan bahwa mantan koruptor harus jujur kepada publik jika telah menjalani hukuman dan mengakui jika dirinya pernah menjadi koruptor.

Tentunya ini jadi berkah tersendiri bagi mereka eks koruptor yang masih punya nafsu untuk jadi anggota dewan. Tinggal kuatkan mental, pasang muka tebal, dan sebar janji manis, disertai uang keringat untuk para tim sukses. Persoalan status eks Koruptor yang diumumkan ke depan publik akan hilang juga karena tertutupi oleh berbagai perilaku dan tindakan populis. SKCK? Apa itu?

“Oh Pak iku wes tobat, Lur, buktine wingi nyumbang sekian juta.” Beressss dah udah. Nama jadi bersih.

Sebenarnya, pada 2018 KPU pernah merilis peraturan yang melarang mantan koruptor untuk nyaleg. Tapi, karena semangat menggebu para eks koruptor ini untuk menebus kesalahan mereka sebagai “pencuri” uang rakyat, akhirnya membuat Mahkamah Konstitusi membatalkan peraturan tersebut.

Baca Juga:

SKBN, Surat Tanda Bebas Zat Terlarang yang Bikin Pekerja Pusing Plus Kantongnya Jadi Kering

SKCK Harusnya Tidak Lagi Jadi Syarat Melamar Kerja, kalaupun Wajib Ada, Sebaiknya Dipermudah Saat Menerbitkannya

Aspek HAM yang melekat jadi pertimbangan kuat kenapa peraturan ini dibekukan dan tidak berlaku. Padahal kalau ngomongin HAM, sebenarnya negara bisa berperan lebih di persoalan lain yang lebih pelik. Misalnya kekerasan yang dilakukan oleh aparat kepolisian terhadap warga di Desa Wadas, Purworejo, Jawa Tengah. Hal ini lebih punya impact sosial yang signifikan ketimbang memberikan privilege kepada para koruptor dengan dalih HAM.

Apa memang karena eks koruptor itu banyak yang dulunya kawan jadi lembek begini? Wqwqwq.

Tapi yah setiap manusia punya dosa masa lalu, cukup jadi catatan di SKCK saja. Seyogyanya semua itu harus dimaklumi dan tidak menghilangkan hak-hak seorang warga negara dalam berpartisipasi menghidupkan perekonomian negara melalui profesi yang dilamar, bukan? Termasuk melamar sebagai caleg. Dan negara sedang menjadi pahlawan dalam konteks kali ini.

Oleh karena itu, SKCK dihapus saja. Ngapain rakyat wajib punya catatan baik kalau calon pemimpinnya saja boleh berlumur dosa?

Selama ini, SKCK dianggap sebagai kertas sakti, bukti kalau Anda orang baik-baik dan nggak punya catatan kriminal. Hampir semua lembaga minta kalian punya SKCK, agar mereka tahu mereka tak berurusan dengan kriminal. Meski, harusnya tanpa SKCK sekalipun, perusahaan bisa tau catatan kriminal lewat database kepolisian.

Tapi, dengan diperbolehkannya para eks koruptor untuk nyaleg, sudah sepatutnya SKCK ini dihapuskan saja dari segala macam syarat lamaran kerja. Bila perlu, penerbitan SKCK ini tidak perlu ada lagi dalam jobdesc-nya pihak kepolisian.

Oleh karena itu, Peraturan Kapolri Nomor 18 tahun 2014 soal SKCK sebaiknya dihapus atau direvisi. Misalnya menjadi Peraturan tentang Surat Catatan Kebaikan (SCK) mirip dengan SKKB yang dulu diberlakukan sebelum diganti dengan SKCK. Bedanya SCK ini akan fokus pada perbuatan baik yang selama ini dilakukan oleh seseorang, sehingga lebih fair karena hanya jadi catatan yang opsional dan sifatnya mempercantik berkas lamaran saja.

Jadi nggak ada tuh catatan kejahatan, yang ada hanyalah catatan prestasi kebaikan. Terlebih, untuk para mantan narapidana yang mencuri akibat terhimpit kebutuhan hidup, mereka para kriminal yang membunuh karena membela diri, atau mereka para narapidana yang ditangkap karena mengonsumsi narkoba tidak perlu risau dan khawatir lagi ketika melamar pekerjaan

Semua akan sepadan, semua akan setara, dan semua akan diperlakukan adil di mata negara, bukan?

Penghapusan SKCK ini juga memberikan implikasi positif bagi citra negara bahwa sebejat dan sebajigur apa pun seseorang, toh kalau status kriminalnya itu hanya di masa lalu, negara harus tetap hadir dan memberi empati secara setara kepada seluruh warga negara yang membutuhkan hak-hak dalam bernegara, termasuk dalam mencari kerja. Bukankah hidup ini tentang menatap masa depan?

Mosok koruptor nggak boleh punya masa depan, udah susah-susah nyolong duit rakyat, mosok nggak bisa menikmati. Kan syedihhh.

Lagipula, model SKCK ini terkesan ketinggalan zaman jika terus dipraktikkan di zaman sekarang yang katanya serba digital. Rekam jejak warga negara seharusnya dapat diintegrasikan melalui chip yang disematkan pada E-KTP. Negara bisa jadi lebih mudah mengintervensi mengawasi warganya. Untung ada Setya Novanto, negara makin mundur dehhh.

Jadi, intinya, hapuskan saja SKCK. Toh, semua bisa dapat pengampunan, dan memang harus diampuni, koruptor sekalipun. Perkara kebrengsekan mereka makan duit rakyat, ya tetep kudu diampuni. Toh, yang terjadi selama ini kan hukum menang tajam ke bawah, dan kemanusiaan baru jadi penting ketika yang kena kasus adalah orang-orang yang berkuasa.

Betul begitu, Ferdy Sambo?

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Sebetulnya, Seberapa Penting sih Melampirkan SKCK Saat Melamar Kerja?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 2 September 2022 oleh

Tags: Calegeks koruptorSKCK
Muhamad Iqbal Haqiqi

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

ArtikelTerkait

kepalsuan

Kepalsuan-Kepalsuan yang Bikin Muntah

1 Juni 2019
Zulkifli Hasan Adalah Sebaik-baiknya Seorang Ayah Terminal Mojok

Zulkifli Hasan Adalah Sebaik-baiknya Seorang Ayah

14 Juli 2022
Baliho Caleg di Jalan Tangkel-Suramadu Malah Bikin Saya Ogah Nyoblos. Mending Balihonya Direvisi Sekarang, Pak/Bu!

Baliho Caleg di Jalan Tangkel-Suramadu Malah Bikin Saya Ogah Nyoblos. Mending Balihonya Direvisi Sekarang, Pak/Bu!

14 Januari 2024
Saya Justru Menyesal Tidak Jadi Kuliah di Jogja pariwisata jogja caleg jogja

Surat Terbuka untuk Caleg Jogja: Berani Nggak Bahas Isu UMR, Pertanahan, dan Sampah?

29 Juli 2023
Bocoran Jenis-jenis Ritual yang Dilakukan oleh Calon Pejabat Saat Musim Pemilu dari Dukun Gunungkidul

Bocoran Jenis-jenis Ritual yang Dilakukan oleh Calon Pejabat Saat Musim Pemilu dari Dukun Gunungkidul

17 November 2023
mulan jameela

Mulan Jameela Jadi Anggota DPR RI : Lucinta Luna dan Atta Halilintar Boleh Juga

24 September 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengendara Jogja Jarang Klakson Bukan Berarti Mereka Beradab di Jalan dan Layak Jadi Teladan  Mojok.co

Pengendara Jogja Jarang Klakson Bukan Berarti Mereka Beradab di Jalan dan Layak Jadi Teladan 

19 Januari 2026
Publikasi Artikel: Saya yang Begadang, Dosen yang Dapat Nama publikasi jurnal

Publikasi Jurnal Kadang Jadi Perbudakan Gaya Baru: Mahasiswa yang Nulis, tapi Dosen yang Dapat Nama, Logikanya di Mana?

19 Januari 2026
Ilustrasi Purwokerto dan Purwakarta, Bikin Kurir Ekspedisi Kena Mental (Unsplash)

Purwokerto dan Purwakarta: Nama Mirip Beda Provinsi yang Bikin Paket Nyasar, Ongkir Membengkak, dan Kurir Ekspedisi Kena Mental

19 Januari 2026
7 Lagu Bahasa Inggris Mewakili Jeritan Hati Dosen di Indonesia (Unsplash)

7 Lagu Bahasa Inggris yang Mewakili Jeritan Hati Dosen di Indonesia

16 Januari 2026
Belanja Furnitur Mending di IKEA Atau Informa? Ini Dia Jawabannya

Belanja Furnitur Mending di IKEA Atau Informa? Ini Dia Jawabannya

18 Januari 2026
Fisioterapis, Profesi Menjanjikan dan Krusial di Tengah Masyarakat yang Sedang Begitu Gila Olahraga

Fisioterapis, Profesi Menjanjikan dan Krusial di Tengah Masyarakat yang Sedang Begitu Gila Olahraga

18 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu
  • Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026
  • Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam
  • Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?
  • Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.