Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Kalau Bisa, Hindari Penggunaan Istilah Asing agar Tak Tercipta Sekat Bahasa

M. Fitrah Wardiman oleh M. Fitrah Wardiman
28 Juli 2020
A A
istilah asing mojok

istilah asing mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Perhatian tertuju pada layar. Saat itu pula pria dengan pakaian yang serba rapi menyapa ringan, “Selamat siang, semuanya,” ujarnya memecah kebekuan dalam perkuliahan konferensi video.

Sementara mendengarkan dengan malas, sontak saya menyadari kalau yang ingin disampaikan oleh orang ini pasti sangat menarik. Dari tayangan slidenya saja terbaca judul unik, yakni hubungan antara kemiskinan dan uban. “Ini pasti ada tipo diantara huruf U dan B, seharusnya urban,” pikirku membetulkan sendiri.

ADVERTISEMENT

Dua puluh menit mendengarkan, tidak ada kesulitan. Penjelasan tentang uban dan kemiskinan relatif mudah karena diikuti dengan tayangan slide yang mengilustrasikan realitas. Sebetulnya tidak perlu bantuan ilustrasi juga, sih. Karena di tempat saya tinggal, membuka jendela saja sudah ketemu dengan kemiskinan.

Singkat cerita, setelah mengikuti penjelasan yang dipenuhi dengan istilah asing, ia lantas menyuruh membentuk kelompok kecil yang disebutnya dengan istilah breakdown group. Disini, masalah mulai muncul karena istilah yang digunakan tidak familiar dengan kehidupan saya di desa.

Pikiran kemudian menimbang antara menanyakan maksud dari istilah tersebut atau bertahan dalam ((kepuratahuan)). “Maap pak, breakdown maksudnya bagaimana, yah? saya harus melakukan apa?,” tanyaku polos karena ingin tahu.

Mendadak suasana yang tadinya mengheningkan cipta, dipenuhi gelak tawa. Sebagian tampak manahan. Ada juga yang meringis kecil. Yang lain menutup tampilan video supaya bisa tertawa lepas. Sementara sisanya, diam memaklumi.

Wajah saya langsung pucat. Lantaran pertanyaan tadi sudah terlanjur diutarakan, maka perasaan menjadi campur aduk. Bingung, malu dan menyesal. Lagian, kenapa tidak googling saja ketimbang menjadi tertawaan di hadapan lima puluhan peserta.

Menit-menit berlalu, tidak ada tanggapan. Breakdown, frasa yang bagi mereka sangat sepele, tapi bagi saya adalah pengetahuan baru, tidak ditanggapi. Sedih sekali.

Baca Juga:

5 Rekomendasi Situs Belajar Excel Gratis dari Nol sampai Mahir. Pekerja Kantoran Wajib Tahu!

Kesulitan Bocah Jawa Suroboyoan Belajar Bahasa Jawa di Sekolah

Bukan kali pertama saya mengalami hal serupa. Sering dalam pembicaraan tidak formal, seminar atau bahkan dalam kehidupan sehari-hari. Istilah-istilah yang sepele bagi mereka tapi pengetahuan baru bagi saya, begitu saya tanyakan, ada senyum remeh yang terpantul. Sebagaimana kejadian diatas.

Suatu kali dalam pembicaraan telpon, “Kak, ini idenya bisa di-pitching dulu ke editor yah?,” katanya. Sembari mengiya-iyakan, otak saya bekerja keras menebak-nebak maksud dari kata pitching ini seakurat mungkin.

Tapi malu bertanya sesat di jalan. Setelah mengumpulkan keberanian, saya pun menanyakan maksudnya, “Jadi dikonsultasikan dulu ke editor,” jawabnya simpel sambil tertawa ringan. Ternyata kata konsultasi diganti menjadi pitching. Keren.

Meskipun dua peristiwa di atas sudah berlalu, tapi masih membekas karena mengajarkan bahwa seberapa kuat penerimaan diri seseorang untuk terlihat bodoh dan bersedia belajar untuk itu adalah hal tersulit kedua, setelah persoalan jodoh.

Nah, belajar dari sejumlah pengalaman itu, saya akhirnya menyusun daftar kosa kata istilah asing. Sekarang, jumlahnya sudah mencapai 23 kata. Kata terakhir yang saya tambahkan adalah social-distancing dan self-quarantine, yang belakangan gencar disosialisasikan pemerintah.

Bukan tanpa alasan. Cara ini sangat membantu. Begitu bertemu dengan istilah asing, saya akan lebih mudah membuka catatan ketimbang harus membuka peramban yang membutuhkan waktu dan jaringan internet.

Barangkali ada juga yang mengalami dan menggunakan metode serupa. Sebab belakangan ini, banyak sekali istilah asing yang digunakan sesukanya oleh pemerintah tanpa memasukkan penjelasan tambahan sebagai pertimbangan latar belakang sosial budaya.

Ini benaran terjadi. Di salah satu gang di kota Yogyakarta, saya pernah menemukan penutupan jalan yang ditulis letdown, bukan lockdown. Layaknya bulan yang dikira matahari, salah kaprah. Ini lantaran kelatahan menggunakan bahasa indonesia dalam bersosialisasi—yang dibarengi dengan tingginya rasa kepuratahuan tadi—sebelum akhirnya dicoret dan diganti menjadi kata lain, ada PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).

Ingatan kemudian melayang pada wilayah yang, jangankan menguasai bahasa atau istilah asing, menemukan jaringan internet dan tempat belajar saja sulit. Sudah pasti ini menghambat tingkat penguasaan linguistik.

Nah untuk mengatasi sekat linguistik ini, diperlukan bahasa pemersatu, bahasa Indonesia. Ambil contoh Covid-19. Di kolom Bahasa harian Kompas, saya pernah menemukan tulisan yang menyetarakan kata Covid-19 dengan Peviko-19 (Penyakit Virus Korona). Alasannya, memudahkan sehingga dengan begitu, semua orang bisa mengerti. Termasuk saya, sebagai masyarakat yang tinggal di desa.

Lagipula, menghindari istilah asing tidak hanya mengatasi sekat linguistik. Tapi juga sejalan dengan peribahasa: gunakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah.

BACA JUGA Jogja dari Sudut Pandang Mahasiswa Baru atau tulisan M. Fitrah Wardiman lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 28 Juli 2020 oleh

Tags: Belajarcoronaistilah asing
M. Fitrah Wardiman

M. Fitrah Wardiman

Lulusan pembangunan sosial yang suka dengan FGD dan snack box. Gemar melakukan riset tentang kebijakan pembangunan sosial.

ArtikelTerkait

4 Alasan Seseorang Menanyakan Pekerjaan Orang Lain Saat Ngumpul

Arus Pulang Kampung di Tengah Covid-19: Mereka Bukan Pemudik, Mereka Pengungsi

27 Maret 2020
Dunia Perlu Pakar Konspirasi, karena Itu Saya Dukung Bli Jerinx Suntik Corona Ibu Saya Adalah Pakar Virus Corona (Dadakan)

Dunia Perlu Pakar Konspirasi, karena Itu Saya Dukung Bli Jerinx Suntik Corona

29 April 2020
Pecut Semangat Belajar Saya Bukan karena Punya Pacar, tapi Dimusuhin Teman terminal mojok

Pecut Semangat Belajar Saya Bukan karena Punya Pacar, tapi Dimusuhin Teman

15 Agustus 2021
Metode Konyol yang Menghantarkan Peserta CPNS Melewati Passing Grade

Metode Konyol yang Menghantarkan Peserta CPNS Melewati Passing Grade

17 November 2019
feynman mojok.co

Meningkatkan Efisiensi dan Efektivitas dalam Belajar Menggunakan Teknik Feynman

1 Juli 2020
Mau Meningkatkan Kemampuan Matematika_ Nih, Saya Kasih Tipsnya terminal mojok

Mau Meningkatkan Kemampuan Matematika? Nih, Saya Kasih Tipsnya

6 Juni 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Harapan Jaya dan Pelita Indah, duo maut bus Tulungagung yang bikin banyak penumpang trauma Mojok.co

Harapan Jaya dan Pelita Indah, duo maut bus Tulungagung yang bikin banyak penumpang trauma

10 Agustus 2026
Nakes vs pasien BPJS sama-sama korban sistem kesehatan (Unsplash)

Nakes vs pasien BPJS terjadi karena sistem kesehatan yang busuk

9 Agustus 2026
Punya tetangga yang suka nyetel musik keras-keras itu adalah ujian hidup paling berat

Punya tetangga yang suka nyetel musik keras-keras itu adalah ujian hidup paling berat

4 Agustus 2026
Kopdes mending jualan jasa aja ketimbang kalah sama Indomaret (Wikimedia Commons)

Kopdes mending jualan jasa aja ketimbang jualan barang entar pasti kalah sama Indomaret

7 Agustus 2026
Anak terakhir perempuan sering dikira manja, padahal diam-diam menyimpan keresahan yang tak kalah besar tentang keluarga Mojok.co

Anak terakhir perempuan sering dikira manja, padahal diam-diam punya keresahan yang tak kalah besar tentang keluarga

5 Agustus 2026
Nalar Cacat Kepala Sekolah yang Menganggap Enteng Bullying pada Siswa

Penyelesaian bullying di sekolah hanya dengan permintaan maaf adalah bukti bahwa hal ini nggak pernah dianggap serius

8 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.