Informasi
ADVERTISEMENT

Kadang orang ikut rewang bukan karena ingin membantu, tapi takut dihujat dan digibahin

Sisi Gelap Budaya Rewang di Hajatan Desa yang Nggak Banyak Orang Tahu Mojok.co

Takut dianggap cuma mau menerima, tapi tak mau memberi, serta menghindari konflik sosial

Ada pula alasan yang lebih sederhana. Orang tidak ingin dicap sebagai pihak yang hanya mau menerima tetapi tidak pernah memberi. Kalau pernah datang ke hajatan sendiri dan mendapat bantuan banyak orang, kemudian ketika tetangga punya hajatan malah tidak muncul, perbedaannya bisa terlihat.

Masyarakat biasanya cukup peka terhadap pola seperti ini. Apalagi dalam lingkungan yang orang-orangnya saling mengenal. Akhirnya, datang rewang menjadi cara untuk menjaga keseimbangan hubungan.

Lalu, ada satu yang kerap luput dari pandangan: rewang membuat orang terhindar dari konflik sosial.

Ada orang yang ikut rewang bukan karena takut digunjing, tapi karena tidak ingin hubungan dengan tetangga menjadi renggang. Tidak datang sebenarnya bukan masalah besar. Namun kalau hubungan sebelumnya memang sudah kurang baik, ketidakhadiran bisa saja dianggap sebagai bentuk sikap.

Daripada masalah kecil berkembang menjadi masalah hubungan bertetangga, datang rewang dianggap pilihan paling aman. Capek sedikit tidak masalah. Yang penting tidak menambah urusan.

Penghakiman sosial tidak selalu disampaikan terang-terangan

Hal paling menarik dari rewang adalah tekanan sosialnya jarang muncul dalam bentuk perintah. Tidak ada yang mengatakan, “Kamu wajib datang.” Justru karena tidak ada perintah, orang merasa keputusannya benar-benar bebas.

Padahal kebebasan itu kadang dibatasi oleh rasa sungkan, kebiasaan, ekspektasi tetangga, hubungan timbal balik, dan ketakutan terhadap penilaian sosial. Orang memang bebas memilih tidak datang. Tetapi tetap harus siap dengan kemungkinan pertanyaan, komentar, atau perubahan cara orang memandang.

Rewang tetap terlihat seperti gotong royong dari luar. Tapi, jangan salah. Tekanan sosial kadang jadi suatu hal yang lebih penting untuk dipikir ketimbang bantuan.

Penulis: Marselinus Eligius Kurniawan Dua
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Sisi Gelap Budaya Rewang di Hajatan Desa yang Nggak Banyak Orang Tahu 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 Agustus 2026 oleh .

Marselinus Eligius Kurniawan Dua

Guru yang baru terjun di dunia menulis. Gemar main game, jalan-jalan, dan kulineran. Suka membahas tentang daerah, sosial, ekonomi, pendidikan, otomotif, seni, budaya, kuliner, pariwisata, dan hiburan.