Kabut Asap Merajalela: Pentingnya Aksi dan Kolaborasi Daripada Saling Menyalahkan

Justru yang diperlukan adalah tindakan dan langkah-langkah cerdas untuk setidaknya membantu dalam proses pemberantasan kabut asap tersebut.

Artikel

M. Farid Hermawan

Di tengah momen kumpul-kumpul, salah satu teman saya nyeletuk. “Anjir, asapnya malam-malam sudah muncul, Pak Jokowi ngapain aja, sih?” Celetukan itu akhirnya memicu terjadinya diskusi menyoal kabut asap yang terjadi di Riau, Kalimantan dan beberapa daerah lainnya. Isi diskusi pun pada akhirnya selalu ditimpali dengan menyalahkan secara langsung Presiden negeri ini terkait bencana kabut yang melanda Riau dan Kalimantan. Saya mafhum dengan berbagai pandangan dan pendapat teman-teman saya itu.

Hanya saja yang membuat saya cukup membatin adalah di rezim saat ini masyarakat memang sangat mudah mengaitkan dan membebankan hal apapun kepada orang nomor satu di negeri ini. Mungkin itu hak sebagai masyarakat, tapi ya Pak Jokowi hanya memiliki satu tubuh. Sibuk menyalahkan nyatanya tidak akan pernah menghasilkan apapun.  Justru yang diperlukan adalah tindakan dan langkah-langkah cerdas untuk setidaknya membantu dalam proses pemberantasan kabut asap tersebut.

Kabut asap yang terjadi di Riau dan Kalimantan faktanya memang seburuk yang diberitakan. Saya yang tinggal di Kalimantan Selatan, Kota Banjarbaru sangat merasakan bagaimana udara yang saya hirup tidak senormal biasanya. c Dari berita yang saya baca, Kalimantan sama seperti Riau dalam kondisi darurat kabut asap. Mulai dari Kalimantan Tengah, Timur dan Selatan, semua merasakan tidak enaknya saat bangun pagi bukannya udara segar yang dihirup tapi malah udara hasil terbakarnya hutan-hutan di Kalimantan. Di tengah kepanikan seperti ini memang semua berteriak meminta pertolongan. Setelah sebelumnya ada tagar #SaveRiau maka saat ini ada tagar #SaveKalimantan yang sempat jadi trending di Twitter.

Lalu yang jadi pertanyaan mengapa dan salah siapa menyoal bencana kabut ini? Menurut artikel yang saya baca, bahwa kebakaran yang terjadi di Kalimantan adalah 99% murni ulah manusia. Tentu ini menjadi tamparan keras bahwa nyatanya manusia kadang bisa menjadi serigala berbulu domba yang hebat. Beberapa artikel juga menyebut kabut asap yang terjadi adalah kiriman dari Malaysia dan Singapura. Kebakaran hutan  saat sedang musim kemarau memang sangat riskan terjadi di daerah-daerah yang memilki hutan lebat yang luas. Kalimantan nyatanya tidak kali ini saja dilanda bencana kabut asap. Dengan banyaknya hutan lebat, Kalimantan memang menjadi daerah yang sangat rawan bencana kabut asap.

Baca Juga:  Ukhti, Mengapa Aku Berbeda?

Ketika banyak orang berteriak agar orang nomor satu di negeri ini bertindak. Bagi saya sendiri sebagai orang yang memang merasakan dampak langsung kabut asap yang membuat saya harus sangat berhati-hati ketika ke kampus karena jarak pandang hanya berjarak 1 meter. Meminta bantuan adalah hal yang sah-sah saja. Mencari tahu siapa biang kerok terjadinya bencana kabut asap adalah hal yang sah-sah saja. Dalam prosesnya kita adalah warga negara yang punya hak untuk dibantu ketika menghadapi bencana seperti ini. Kita punya hak untuk menyebarluaskan fakta yang terjadi di lapangan lewat berbagai kanal media sosial agar semua orang tahu bahwa apa yang terjadi di Riau, Kalimantan dan daerah lain yang terkena dampak kabut asap memang seburuk itu.

Tapi ada satu poin penting yang membuat saya miris. Di tengah proses upaya berbagai pihak untuk mencoba memadamkan titik-titik api dan mengurangi dampak kabut asap. Ada saja mereka-mereka yang selalu mengaitkan hal apapun langsung kepada orang nomor satu negeri ini. Iya saya tau Pak Jokowi Presiden kita.

Tapi kan ada pemerintah daerah yang tentunya punya hak dan wewenang untuk bertindak. Kan ada BNPB serta badan-badan lainnya di daerah yang tentunya punya kapabilitas untuk bertindak secara nyata dalam upaya mengahalau kabut asap. Mengkambinghitamkan pemerintah pusat serta presiden nyatanya tidak akan menghasilkan apa-apa. Saya tentunya tidak sedang membela siapapun dalam hal ini, tapi saya yakin walau tidak secara terang-terangan, Presiden pasti sudah memerintahkan jajarannya untuk bergerak dalam proses pemadaman karhutla yang terjadi di berbagai daerah,

Kita semua saat ini perlu kolaborasi dan aksi bukan saling menyalahkan. Ketika semuanya ujug-ujug saling menyalahkan dan saling lempar bacot. Ada mereka yang beraksi di lapangan untuk memadamkan api dan mengurangi kabut asap yang perlu kita bantu dan apresiasi. Ada banyak kegiatan positif yang bisa kita lakukan untuk setidaknya membantu masyarakat terhindar dari dampak kabut asap yang melanda ketimbang menyalahkan presiden dan tidak melakukan apapun.

Baca Juga:  Darurat Asap itu Bisa Jadi Berkah, Bukan Musibah

Bencana kabut asap yang melanda beberapa daerah tentunya tidak bisa dipandang sebelah mata. Kualitas udara yang berbahaya yang mau tidak mau harus dihirup setiap harinya tentu akan sangat berisiko. Pilihan kita saat ini hanya satu, mencoba untuk saling bantu dalam proses menanggulangi dampak kabut asap yang terjadi saat ini atau hanya mau teriak dan nulis status di Twitter, Instagram dan Facebook, “Pak Jokowi tolong kami!” sambil rebahan di kamar dan tidak melakukan apa-apa. (*)

BACA JUGA Semua Orang Harus Mengkritik Jokowi atau tulisan M. Farid Hermawan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
278 kali dilihat

2

Komentar

Comments are closed.