Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta (Mufid Majnun via Unsplash)

Reaksi saya agak sinis waktu pertama kali mendengar kawasan Kebondalem dijuluki sebagai “Blok M-nya Purwokerto.” Antara ingin bangga karena Purwokerto punya tempat nongkrong yang dianggap “naik kelas”, tapi juga agak ngerasa aneh karena, kok ya harus Blok M segala.

Julukan itu beredar di media sosial, disebut dari kolom komentar ke komentar lain, lalu pelan-pelan diterima sebagai semacam kesepakatan tak tertulis. Kebondalem, kawasan di sekitar Pasar Sari Mulyo, Purwokerto Timur, mendadak punya identitas baru. Julukan ini muncul lantaran banyak orang yang merasakan adanya kemiripan atmosfer dengan Blok M di Ibu Kota Jakarta.

Jika menelusuri riwayatnya, pada tahun-tahun sebelumnya (pasca Covid), kawasan Kebondalem Purwokerto memang terlihat seperti kota mati. Apalagi dengan adanya sengketa gedung dan lahan, membuat kawasan ini terlihat kumuh dan tak terurus.

Dari situ, ada sekelompok orang berjiwa kreatif yang melihat adanya potensi dari daerah ini, kemudian membuat usaha kedai kopi jadul ala-ala tempo dulu. Seiring berjalannya waktu, karena viral dan ramai pengunjung, setelahnya muncullah kedai-kedai makanan dan minuman lainnya yang meramaikan tepi-tepi jalanan. Dari sinilah kawasan yang tadinya terbengkalai berubah sekejap menjadi tempat nongkrong “kalcer” bagi batir-batir di Purwokerto.

Julukan yang tiba-tiba muncul

Entah siapa yang mencetuskan julukan ini, entah orang Purwokerto atau bukan. Julukan Blok M-nya Purwokerto muncul di tengah-tengah ramainya arus perkembangan kedai kopi dan tempat nongkrong di Kota Satria ini. Memang tidak bisa mengelak bahwa tempat-tempat nongkrong di Purwokerto, secara konsep dan trend, banyak yang mengiblat dari kota-kota besar seperti Jogja, Bandung, dan Jakarta

Dari sekian banyaknya spot nongkrong di “Pewete,” mengapa kawasan Kebondalem yang dipilih sebagai tempat yang layak dilabeli Blok M-nya Purwokerto?

BACA JUGA: Purwokerto, Kota Pensiunan yang Makin Kehilangan Identitasnya sebagai Kota Tua yang Eksotis

Saya sempat mengobrol dengan salah satu tim manajemen Sarinah Coffee, kedai yang sering disebut sebagai pemantik ramainya kawasan ini. Dari obrolan itu, saya mulai paham kenapa julukan Blok M-nya Purwokerto terdengar masuk akal bagi sebagian orang.

Menurutnya, Blok M Jakarta itu adalah kawasan untuk hangout yang berisi kumpulan beberapa brand, khususnya F&B. Sama halnya dengan ini, kawasan Kebondalem juga berisi beberapa brand F&B seperti Sarinah, Pankoy, Tjong Djaja, Pak Memeng, dan masih banyak lagi.

Kalau dilihat-lihat, vibes dan konstruksi bangunannya memang mendukung. Beberapa sudut kawasan Kebondalem memang bisa disebut “vintage.” Mulai dari ruko-ruko yang terlihat lawas, area yang sedang ada pembangunan, hingga pohon rindang yang daunnya sering jatuh. Hal ini juga yang kayaknya bikin wilayah ini terasa serupa Blok M yang sebenarnya.

Ketika nongkrong jadi strategi bertahan hidup UMKM Purwokerto

Dengan adanya pemberian label dari daerah masyhur di Jakarta pada satu daerah di Purwokerto, para pelaku UMKM punya semacam “jalan lain” untuk melebarkan eksistensi dagangannya.

Saya melihat sendiri bagaimana narasi di media sosial memainkan peran besar. Menciptakan narasi-narasi yang unik di media sosial melalui penjenamaan (branding) terhadap kedai atau produk, mampu membawa karakteristik dan warna baru.

Sebenarnya, konsumen juga bisa ikut serta untuk promosi di media sosial. Tidak harus menjadi influencer dulu untuk mempromosikan suatu tempat. Cukup modal handphone, video singkat, caption nyeleneh, dan lagu yang lagi viral, sisanya biar algoritma yang bekerja.

Yang awalnya dari teman ke teman lainnya, setelahnya jadi makin banyak orang tahu dan penasaran. Imbasnya, daerah yang sebelumnya terkesan sepi pengunjung dapat beralih menjadi tempat yang gemar disinggahi banyak orang.

BACA JUGA: 7 Panduan Menjadi Pendatang yang Cepat Betah di Purwokerto

Takutnya Purwokerto Jadi Jakarta Versi Hemat

Purwokerto adalah suatu daerah yang konon katanya masuk di urutan atas tempat untuk pensiun atau sekadar slow living. Di kota ini, arus perkembangan trend tidak semasif di kota-kota besar. Akan tetapi, Purwokerto mempunyai “seribu” macam cara untuk membuatnya dirindukan oleh banyak orang.

Julukan “Blok M” memang membawa dampak positif bagi eksistensi UMKM di Kebondalem. Tapi di titik tertentu, saya juga mulai berpikir bahwa pelabelan semacam ini menggerus identitas lokal suatu daerah. Sampai kapan kita butuh label dari Jakarta untuk merasa keren?

Daerah yang tidak bisa disebut kota itu bisa dikatakan cukup ramai penduduk. Mengingat juga bahwa Kabupaten Banyumas adalah tempat bagi belasan hingga puluhan ribu mahasiswa datang setiap tahunnya.

Kota yang identik dengan Jenderal Soedirman ini punya ritme sendiri. Kota ini tidak pernah dirancang untuk terburu-buru. Di sinilah orang datang untuk pensiun, untuk hidup pelan-pelan, atau sekadar menepi dari hiruk pikuk kota besar. 

Biarkan Purwokerto hidup dan berkembang. Purwokerto tidak boleh termakan derasnya trend budaya populer di media sosial. Jangan biarkan kota ini kehilangan keotentikannya dengan membawa embel-embel khas dari daerah lain. Jangan sampai Purwokerto Kejakarta-jakartaan.

Penulis: Ferry Aditya
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Purwokerto Adalah Daerah Paling Aneh karena Bukan Kota, Kurang Pas Disebut Kabupaten, Apalagi Menjadi Kecamatan. Maunya Apa, sih?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version