Sungguh nestapa, selama ini warga Jombang kalau mau pamer foto berlatar kabut tipis pilihannya cuma dua, kalau nggak ke Batu-Malang ya melipir ke Pacet, Mojokerto. Padahal, ada Wonosalam yang sebenarnya punya potensi hebat.
Wonosalam, kecamatan di ujung timur Jombang ini, dulunya cuma dianggap sebagai gudang durian raksasa. Orang datang ke sana hanya kalau musim panen tiba atau saat festival kenduri Wonosalam. Setelah itu tempat ini kembali berkawan sepi.
Namun, akhir-akhir ini wajah Wonosalam berubah, seiring munculnya istilah Jombang Lantai 2. Sebuah branding yang cerdas sekaligus menantang. Nama ini seolah ingin menegaskan bahwa Jombang nggak cuma identik dengan suhu panas ekstrem tapi juga punya daerah yang sejuk yang bernama Wonosalam.
Pelan tapi pasti, Wonosalam mulai berani adu mekanik dengan Pacet dalam memperebutkan takhta wisata pegunungan di jalur tengah Jawa Timur.
BACA JUGA: Pengalaman Tertipu Beli Durian di Wonosalam, Pusatnya “Raja Buah” di Jombang
Adu Mekanik Pemandangan dan Kopi Excelsa di Wonosalam
Kalau kita bicara Pacet, yang terbayang di kepala adalah pemandian air panas Padusan atau deretan vila tua yang estetikanya agak mentok di tahun 2000-an awal. Pacet memang menang di popularitas, tapi Wonosalam menang di kesegaran. Sebagai Jombang Lantai 2, Wonosalam menawarkan paket lengkap yang lebih kekinian yaitu udara dingin khas lereng Gunung Anjasmoro yang dibalut dengan budaya ngopi yang sangat kuat.
Wonosalam adalah salah satu produsen kopi Excelsa terbaik di negeri ini. Para pelaku wisata di sana sadar betul kalau jualan pemandangan saja nggak cukup buat narik wisatawan. Maka, menjamurlah kafe-kafe estetik di pinggir tebing dan aliran sungai. Kalau di Pacet kamu mungkin merasa terjebak di kerumunan yang itu-itu saja, di Wonosalam kamu masih bisa menemukan hidden gem yang beneran terasa eksklusif.
Sensasi menyeruput kopi sambil memandang lembah hijau dari ketinggian ini adalah bentuk kemewahan yang sulit didebat oleh wisatawan yang sudah muak dengan hiruk-pikuk jalur lintas Mojokerto yang kian sesak.
Infrastruktur yang Mulai Glow Up
Dulu, alasan utama orang malas ke Wonosalam adalah jalannya yang bikin motor matic mengkis-mengkis saking terjal dan rusaknya. Tapi sekarang, ceritanya sudah jauh berbeda. Pemerintah Kabupaten Jombang sepertinya serius ingin memoles lantai dua agar layak dikunjungi tanpa harus bikin ban bocor di tengah hutan. Akses jalan utama kini sudah mulus, lebar, dan sangat layak untuk konten sunmori-an.
Kemudahan akses inilah yang membuat Wonosalam mulai berani menantang Pacet secara langsung. Jarak tempuh dari pusat kota Jombang kini terasa lebih singkat. Wisatawan dari arah Kediri, Nganjuk, hingga Madiun kini punya opsi yang lebih masuk akal daripada harus terjebak macet di jalur arteri menuju Malang atau masuk ke wilayah Mojokerto yang seringkali padat merayap saat akhir pekan.
Wonosalam menawarkan efisiensi waktu tanpa harus mengorbankan kualitas adem yang dicari oleh para pencari ketenangan dari panasnya aspal kota.
Melawan Dominasi dengan Orisinalitas Lokal
Tantangan terbesar Wonosalam untuk benar-benar menyaingi atau bahkan melampaui Pacet adalah soal konsistensi dan ekosistem. Pacet sudah punya sistem yang matang dari hulu ke hilir, mulai dari tukang parkir sampai pengelola vila mewah.
Sementara Wonosalam, meski branding Jombang Lantai 2 ini makin kencang, masih punya pekerjaan besar soal variasi penginapan dan manajemen sampah. Kita butuh lebih banyak glamping atau resor yang dikelola secara profesional agar wisatawan nggak cuma datang untuk foto di kafe lalu pulang. Mentok nginapnya di Kampoeng Djawi.
Namun, potensi Wonosalam untuk menang itu nyata dan sangat besar. Dengan adanya acara rutin tahunan seperti Kenduren Durian yang sudah jadi agenda nasional, Wonosalam punya modal sosial yang sangat kuat.
Mereka nggak cuma jualan alam, tapi juga jualan keramahan warga lokal yang belum sepenuhnya doyan duit alias komersial.
Jika Pacet adalah zona nyaman yang mulai terasa sesak dan bising, Wonosalam adalah ruang baru yang segar, luas, dan penuh kejutan. Saatnya Jombang naik kelas lewat lantai duanya.
Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Air Terjun Tretes Wonosalam, Bukti Jombang Nggak Miskin Wisata Alam
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
