Informasi
ADVERTISEMENT

Jogja terbuat dari klitih, ketimpangan, dan bimbel

Jogja terbuat dari klitih, ketimpangan, dan bimbel

Jogja kota pendidikan mungkin bisa diperdebatkan. Karena pusat pendidikan tinggi adalah Sleman, dan penyebutan Jogja yang rancu antara sebagai kota atau provinsi. Tapi kalau menyebut Jogja kota bimbingan belajar (bimbel), tidak ada yang bisa mendebat.

Mungkin dulu Aku hanya mengenal Neutron, Ganesha Operation, dan Primagama. Sekarang bimbel makin menjamur dengan nama yang terdengar canggih sekaligus absurd. Semua berlomba mendorong (baca: memaksa) anak untuk meningkatkan kemampuan akademik. Belum cukup, banyak bimbel untuk kebutuhan CPNS atau akademi militer dan polisi.

Perputaran ekonomi yang deras di lini pendidikan, mimpi kesejahteraan, dan masalah sosial berkelindan manis. Menyisakan Jogja yang kota pendidikan penuh kosmetik. Pendidikan tidak lagi membangun, tapi menjadi trofi fana yang menekan generasi muda. Dan fenomena bimbel adalah bukti betapa kompleksnya pendidikan sebagai mimpi sekaligus standar sosial yang ra mashok!

Mimpi pendidikan baik berharga mahal

Sebelumnya ada yang harus kuluruskan. Aku membahas Jogja sebagai provinsi. Bukan hanya kota yang sempit dan penuh bus pariwisata, tapi wilayah otonomi khusus yang terbentang dari Merapi hingga Parangtritis. Kedua, Aku minta maaf pada Suwargi Mas Joko Pinurbo karena memelintir puisinya (lagi).

Aku melihat konten antrean orang tua yang mendaftarkan anak pada sebuah bimbel. Aku masih asing dengan nama bimbel itu. Juga, aku skeptis apakah antrean itu murni karena antusiasme, atau konten marketing. Tapi antrean bimbel itu adalah gambaran dari judul artikel ini.

Tapi pendidikan Jogja memang dibentuk dari tiga poin lagi: klitih, ketimpangan, dan bimbel. Isu klitih membuat orang tua khawatir pada kegiatan anak. Ketimpangan ekonomi dan sosial membuat orang tua khawatir pada masa depan anak. Maka orang tua berlomba-lomba menjejalkan anak di sekolah favorit. Terutama untuk mereka yang berada di zona pendidikan ‘kurang cerdas’.

Pernah dengar sistem booking di Muhammadiyah Sapen? Atau mahasiswa lintas agama berebut kursi di Kolese John de Britto? Ini adalah obsesi dari ketakutan perkara pendidikan. Memasukkan anak ke sekolah favorit seperti ‘nyicil lega’ pada nasib masa depan. Berapa pun biayanya, berapa pun mahalnya.

Tapi uang tidak cukup, karena masih ada tes masuk di sekolah favorit. Terutama sekolah negeri seperti SMA N 1, 2, 3, dan 8. Atau untuk lolos pendidikan tinggi di UGM dan sekolah kedinasan. Akhirnya bimbel jadi jawaban. Jaminan pendidikan tambahan untuk memastikan anak lolos tes masuk membuat orang tua rela membayar jutaan tiap bulan atau semester.

Mimpinya mulia, menjamin masa depan anak. Tapi mimpi ini belum cukup, karena ada ketakutan yang mengikuti. Ketakutan yang membuat les di bimbel terasa murah. Juga membuat bimbel jadi hal lumrah bahkan wajib bagi anak di Jogja.

Ketakutan orang tua, beban moral anak di Jogja

Aku masih ingat curhatan kawan yang khawatir dengan masa depan anaknya. Bagaimana anaknya nanti saat mulai remaja? Jadi korban atau pelaku klitih? Atau kuliah ala kadarnya yang menghalangi pertumbuhan karier. Aku tawarkan solusi untuk aksi massa menggugat pemerintah. Dia memilih solusi bimbel sejak anak masuk SD.

Ketakutan perkara klitih dan kesejahteraan ini valid. Bahkan bagi generasi milenial yang katanya lebih terdidik, mereka punya keresahan sama dengan generasi Y yang lebih kolot. Mereka takut kalau anak mereka turun ke jalan membawa sajam dan saling serang. Lebih parah lagi, mereka takut kalau anak mereka berakhir jadi buruh berupah UMR Jogja.

Ketakutan ini membuat bimbel terasa murah. Anak dipaksa punya kegiatan lebih banyak. Jadi saat pulang mereka sudah kelelahan untuk nongkrong. Pendidikan sejak dini juga diharapkan mampu membawa anak ke jenjang pendidikan tinggi yang baik. Minimal kuliah di kampus 10 besar tanpa biaya mahal karena dapat beasiswa.

Tapi beban bagi anak tidak bisa dinilai dengan rupiah. Sistem sekolah full day sudah cukup melelahkan anak. Masih dipaksa ikut les sampai matahari terbenam. Belum lagi harus memikirkan event sekolah maupun tugas lainnya. Anak dipaksa hidup seperti pekerja kantoran bergaji rendah dengan lembur tak manusiawi.

Baiklah, mungkin kegiatan padat bagi anak tetap bermanfaat. Tapi kenapa harus pendidikan eksakta? Atau sekurang-kurangnya pendidikan berbasis kurikulum. Kenapa bukan les biola, sepakbola, dan keterampilan lain?

Mitos keterampilan yang tidak bermanfaat

Jika kamu pikir orang tua masa kini lebih modern, kamu salah. Meskipun orang tua hari ini terkesan lebih terbuka pada keterampilan di luar sekolah, pendidikan eksakta masih jadi standar emas. Anak boleh punya banyak bakat, tapi kepintaran berbasis KKM tetap diutamakan.

Anak dianggap cerdas ketika memiliki kepintaran eksakta yang terukur oleh sekolah. Keterampilan lain dianggap sebagai bonus yang tidak bermanfaat. Ketika pencapaian anak adalah sekolah bergengsi dan perguruan tinggi berkelas, maka standar semua anak jadi sama, bukan?

Aku tidak berani banyak mendamprat karena belum punya anak. Aku sendiri takut kalau nanti punya anak, cara pikirku jadi sama seperti yang kugugat saat ini. Tekanan sosial membuat model pendidikan dan standardisasi kepintaran anak jadi seragam. Bahkan bagi orang tua paling open minded sekalipun, tekanan ini tetap ada.

Mungkin tujuannya baik, demi masa depan. Tapi aku teringat pada satu hal: Jogja Kota Pendidikan. Kenapa daerah yang dianggap unggul urusan pendidikan malah menjadikan pendidikan sebagai komoditas? Bahkan dengan embel-embel ketakutan.

Jogja, Kota Pendidikan yang menjual pendidikan

Mungkin fantasi banyak orang membayangkan Jogja sebagai sebuah daerah penuh pendidikan. Setiap sudutnya penuh dengan edukasi alih-alih romantis. Aku pun dulu berpikir demikian. Sampai realitas membuka mataku, dan pendidikan di Jogja penuh label harga.

Ironis ketika pendidikan adalah komoditi mahal di kota pendidikan. Padahal Jogja bisa dikemas sebagai laboratorium raksasa untuk pendidikan dan budaya. Orang datang bukan untuk membeli, tapi mengakses pendidikan.

Tapi jargon kota pendidikan kini tidak lebih dari kalimat marketing. Dengan ketakutan masa depan sebagai unique sales proposition. Dan antre bimbel jadi jawaban dari ketakutan akan kesejahteraan dan kultur klitih.

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Jogja Kini Sudah Menjadi Kota Pendidikan Premium: Manis di Depan, Pahit di Tagihan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 15 September 2026 oleh .

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

Exit mobile version