Jogja Memang Bukan Tempat Pensiun Ideal Orang Kota, Jangan Sampai Menderita di Daerah Istimewa

Jogja Memang Bukan Tempat Pensiun Ideal Orang Kota, Jangan Sampai Menderita di Daerah Istimewa

Jogja Memang Bukan Tempat Pensiun Ideal Orang Kota, Jangan Sampai Menderita di Daerah Istimewa (Unsplash.com)

Halusinasi Jogja istimewa bikin orang kota menjadikan Kota Pelajar sebagai salah satu pilihan tempat pensiun ideal. Terbukti dari banyaknya penyataan orang kota yang ingin tinggal di Jogja menghabiskan masa tua mereka. Entah orang kotanya adalah orang biasa maupun figur publik.

Saya cuma bisa geleng-geleng kalau ada yang bilang pengin tinggal di Jogja menghabiskan masa pensiun. Gimana nggak geleng-geleng wong saya biasa baca tulisan soal daerah istimewa ini di Mojok, kok. Di Mojok, banyak penulis yang menguliti habis kebobrokan daerah istimewa ini.

Jadi, biar orang kota kayak kalian nggak salah pilih tempat pensiun, saya akan beberkan beberapa alasan masuk akal yang bakal bikin kalian berpikir ulang. Pokoknya jangan memasukkan Jogja dalam daftar tempat pensiun ideal, deh.

Kehidupan masyarakat Jogja komunal

Berdasarkan pengalaman istri yang pernah kuliah di Jogja, kehidupan masyarakat di sana sangat komunal. Makanya nggak usah heran kalau di sini ada banyak komunitas, paguyuban, dan sejenisnya yang bisa kita jumpai. Entah berada di lingkungan kampus maupun di masyarakat umum.

Kehidupan masyarakat Jogja ini tentu berbeda jauh dengan kehidupan orang kota pada umumnya. Orang kota biasanya lebih individual. Semua orang sibuk mengurus urusannya masing-masing, sangat jarang yang hidupnya komunal.

Makanya orang kota yang individual kurang cocok dengan Jogja yang komunal. Jangan sampai kebiasaan individual orang kota terbawa ketika pensiun di sini. Bisa-bisa bikin orang kota malah nggak suka dengan komunalnya Jogja.

Beda adat istiadat

Selain Bali, Jogja merupakan daerah paling kental adat istiadatnya. Budaya dan adat Jogja menjadi daya tarik sendiri bagi wisatawan hingga membuat daerah ini menjadi destinasi favorit wisatawan lokal dan mancanegara.

Adat masyarakat Indonesia itu semuanya baik, tak terkecuali masyarakat Jogja. Malah sangat baik. Betul apa betul, Gaes?

Akan tetapi, nggak semua orang kota mengerti adat dan budaya Jogja. Kalau orang kota tiba-tiba pindah ke Jogja, kemungkinan besar bakal mengalami culture shock dan bisa jadi proses adaptasinya nggak sebentar. Takutnya culture shock ini malah bikin orang kota yang baru pensiun nggak betah tinggal di sini.

Cita rasa masakan Jogja yang belum tentu sesuai selera

Seperti yang kita tahu, cita rasa masakan Jogja terkenal manis. Salah satu contohnya adalah gudeg. Gudeg adalah makanan berbahan dasar nangka muda yang dimasak dengan santan dan gula aren.

Sayangnya, nggak semua orang suka cita rasa manis ala masakan Jogja. Bahkan menurut saya, mayoritas orang Indonesia lebih suka makanan berempah dan pedas, seperti orang Jawa Timur dan Sulawesi.

Andai orang kota mau tinggal di Jogja selepas pensiun, berarti wajib berdamai dengan hal tersebut. Pelan-pelan harus menyesuaikan lidah dengan makanan manis. Atau, jika nggak mau, ya harus masak sendiri setiap hari.

Baca halaman selanjutnya: Sulit menikmati tempat ….

Sulit menikmati tempat wisata saat libur

Salah satu alasan orang kota mau tinggal di Jogja saat pensiun adalah karena tempat wisata di sana terkenal banyak. Kalau mau wisata alam ke pantai bisa datang ke Pantai Parangtritis atau pantai-pantai lainnya di Kabupaten Gunungkidul. Sementara kalau mau wisata sejarah bisa datang ke Kraton Yogyakarta atau mampir ke museum-museum yang letaknya ada di tengah kota. Pokoknya banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi, deh.

Celakanya, setelah orang kota yang pensiun kemudian menjadi warga daerah istimewa, kalian malah kesulitan liburan di tempat wisata. Apalagi kalau liburannya di saat libur panjang. Wah, jangan harap bisa berlibur dengan santai dan tenang karena berbagai tempat wisata bakal dipenuhi wisatawan. Makanya pemerintah setempat biasanya menyarankan warga Jogja untuk tinggal di rumah saat libur panjang tiba.

Keamanan dipertanyakan

Keamanan adalah hal paling penting ketika mencari tempat pensiun yang ideal. Pasalnya, pensiunan perlu tempat yang aman guna mendapatkan kenyamanan hidup. Sayangnya, Jogja belum tentu bisa memberikan keamanan bagi pensiunan.

Gimana mau aman, lha wong masih ada klitih yang meresahkan warga. Dan sepertinya, kasus klitih ini bakal tetap lestari di daerah istimewa mengingat peran pemerintah setempat kurang signifikan dalam menangani kasus klitih.

Harga tanah di Jogja mahal

Percayalah, satu-satunya yang murah di Jogja hanya UMP-nya, di luar itu semuanya mahal. Tak terkecuali harga tanah. Apalagi jika lokasi tanahnya strategis, mesti sangat mahal.

Kabarnya, harga tanah di Jogja sudah bersaing dengan harga tanah di Jabodetabek. Gokil nggak tuh? Terus terang, kalau harga tanah sudah semahal itu, jelas nggak akan tergapai oleh pensiunan pekerja yang dibayar setara UMP/UMK. Mungkin di masa yang akan datang, hanya pensiunan pejabat atau influncer yang mampu membeli tanah di daerah istimewa ini.

Sudah terlalu padat

Buat orang kota yang ingin tinggal di Jogja saat pensiun, jangan bayangkan daerah istimewa ini sepi banget layaknya daerah pedesaan di pinggir kota. Jogja nggak kayak begitu, Gaes. Di sana juga sudah padat, lho!

Dilansir dari Katadata, Yogyakarta berada di urutan keempat provinsi paling padat di Indonesia. Kepadatan Yogyakarta mengalahkan Jawa Tengah dan Jawa Timur, yang jumlah penduduknya jauh lebih banyak ketimbang Yogyakarta.

Akhir kata, saya sarankan buat kalian yang mau menjadikan Jogja sebagai tempat pensiunan, silakan berpikir ulang. Jangan sampai kelak kalian menyesal. Awalnya ingin bahagia tinggal sebagai pensiunan di daerah istimewa, jadinya malah menderita.

Penulis: Ahmad Arief Widodo
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Muntilan, Tempat Pensiun Paling Ideal Mengalahkan Jogja.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version