Menikah terlalu cepat, berpisah terlalu banyak
Jepara menghadapi persoalan serius dalam kehidupan keluarga. Pernikahan dini masih jamak terjadi, sering kali didorong oleh ekonomi, tekanan sosial, atau ketakutan menjadi bahan gunjingan. Menikah dianggap solusi cepat, meski kesiapan mental dan finansial belum benar-benar terbentuk.
Konsekuensinya terlihat jelas dari tingginya angka perceraian. Berdasarkan laporan perkara yang diterima Pengadilan Agama (PA) Jepara sebagaimana yang dikutip dari Muria News, sepanjang tahun 2024, lebih dari 2.000 kasus perceraian tercatat di Kabupaten Jepara. Mayoritas berupa cerai gugat yang diajukan oleh istri. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan potret dari rumah tangga yang dibangun terlalu tergesa dan dijalani dalam tekanan berat.
Perceraian di Jepara bukan semata soal cinta yang habis, melainkan soal hidup yang terlalu sempit. Upah kecil, beban keluarga besar, dan ekspektasi sosial yang tinggi membuat rumah tangga mudah retak. Banyak pasangan muda dipaksa dewasa sebelum waktunya, lalu ditinggalkan sendirian saat gagal menjalaninya.
Ketika gaji pas-pasan bertemu gengsi kelewat tinggi di Jepara
Persoalan ekonomi di Jepara tidak berdiri sendiri, ia berkelindan dengan budaya gengsi yang makin kuat. Media sosial mempercepat perbandingan hidup. Standar berhasil bukan lagi hidup cukup, melainkan terlihat mapan. Motor harus bagus, nongkrong harus estetik, dan gaya hidup harus sepadan dengan lingkungan sekitar meski gaji sebenarnya pas-pasan.
Dalam situasi seperti ini, banyak keluarga muda hidup di ujung kemampuan. Utang, cicilan, dan pinjaman menjadi solusi instan agar tetap bisa “menjaga tampilan”. Hidup dijalani bukan berdasarkan kebutuhan, melainkan kepuasan sesaat. Perlahan tapi pasti, ekonomi rumah tangga pun tercekik.
Tekanan ini sering berujung pada konflik domestik. Masalah yang awalnya ekonomi berubah menjadi pertengkaran emosional. Bukan karena pasangan tidak saling mencintai, tetapi karena hidup tidak memberi mereka cukup ruang untuk bernapas.
Jepara sibuk mengejar tampilan, tapi lupa menyiapkan masa depan
Jepara hari ini bukan hanya mewarisi ukiran, tetapi juga FOMO. Generasi mudanya tumbuh dalam arus budaya instan: ingin cepat sukses, cepat terlihat berhasil, dan cepat diakui. Sayangnya, sistem sosial dan ekonomi Jepara belum mampu menopang keinginan itu secara sehat.
Pendidikan sering dipandang sekadar formalitas, pekerjaan dianggap rutinitas tanpa visi, dan masa depan dibiarkan berjalan tanpa rencana matang. Kota ini pandai menjaga tradisi, tetapi belum sepenuhnya serius menyiapkan regenerasi sosial yang kuat dan berkelanjutan.
Akhirnya, Jepara tampak seperti ukiran yang indah di luar, tetapi rapuh di bagian dalam. Ia dikagumi, dipuji, dan dipamerkan, namun manusianya terus berjuang sendiri menghadapi masa depan yang tak kunjung selesai dipahat.
Penulis: Mukhamad Bayu Kelana
Editor: Intan Ekapratiwi
BACA JUGA Jepara, Cukup Mebel Saja yang Diukir, Aspalnya Nggak Perlu “Diukir”, tapi Diperbaiki!
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















