Dua dekade lalu Jember memang merajai dan selalu menjadi jujugan destinasi wisata di wilayah Tapal Kuda. Di antara wilayah eks Keresidenan Besuki, Jember jadi yang paling unggul dari berbagai sektor kala itu, utamanya pariwisata. Sebab daerah ini memiliki segalanya. Mulai dari bentang pantai, pegunungan, air terjun yang indah, hingga beragam peninggalan kolonial Belanda yang bisa dikelola sebagai wisata edukasi.
Namun sejak satu dekade lalu dominasi Jember sudah mulai redup, kalah dengan wilayah lain di Tapal Kuda. Jangankan bersaing dengan Banyuwangi yang melesat jauh, dibandingkan dengan Bondowoso pun kini jauh tertinggal.
Bukan tanpa alasan Jember kini tertinggal dari sisi wisatawan dengan daerah lain di Tapal Kuda. Sebab selama tiga kali kepemimpinan bupati terakhir, kepala daerah di sana selalu berganti tanpa fokus pembangunan jangka panjang. Imbasnya, tiap lima tahun, Jember selalu mengubah arah visi kota sesuai pemimpin baru yang terpilih.
Alih-alih melanjutkan program bupati pendahulunya, mereka cenderung menggarap sektor baru yang disenangi dan lebih mengedepankan pencitraan diri. Bahkan saat saya pulang ke Banyuwangi dan melintas di Jember, daerah ini menjadi asing buat saya. Semua ornamen kotanya bernuansa pink. Mulai gerobak penjual di pinggir jalan hingga ambulance milik Pemda.
Jadi ya, jangan heran jika wisata di sana makin kalah dengan daerah lain. Sebab, arahnya jadi nggak jelas.
Baca halaman selanjutnya: Fokus yang salah dari Jember.



















