Jauh Sebelum Kehadiran Netflix, Saya Merasakan Era Tukang Rental Laser Disc Keliling – Terminal Mojok

Jauh Sebelum Kehadiran Netflix, Saya Merasakan Era Tukang Rental Laser Disc Keliling

Artikel

Raden Muhammad Wisnu

Di tahun 2021 ini kita cukup beruntung karena bisa menonton film kesayangan melalui layanan streaming seperti Netflix, Disney Plus, HBO Go, Amazon Prime, maupun layanan sejenis lainnya. Tapi jauh sebelum itu, 25 tahun yang lalu, saya masih merasakan era tukang rental laser disc keliling. Pasti nggak ada yang tahu, kan? Izinkan saya menceritakannya.

Sekitar 25 tahun yang lalu, saya tinggal di Kota Medan selama kurang lebih tiga tahun, tepatnya di kawasan Malibu yang terletak di belakang Bandara Polonia. Saat itu jelas belum ada Netflix. Jangankan Netflix, DVD Player saja belum ada karena di zaman itu kalau kita mau nonton film, kita masih menggunakan laser disc. Pasti nggak ada yang tahu kan apa itu laser disc?

Jadi, laser disc ini adalah piringan optikal berdiameter 30 sentimeter yang digunakan untuk menyimpan file video ataupun musik. Singkatnya sih, laser disc sama seperti VCD dan DVD, hanya saja ukurannya jauh lebih besar. Laser disc ini sangat populer zaman itu karena kualitas gambar dan suaranya di atas VHS dan Betamax. Sekarang saya jadi jauh lebih mudah bercerita.

Saat saya masih berada di Taman Kanak-Kanak, saya cukup beruntung terlahir di keluarga kelas menengah sehingga bisa memiliki televisi dan perangkat laser disc untuk menonton film-film kesukaan saya seperti Tom and Jerry atau film-film kartun Disney seperti Donald Duck, Mickey Mouse, hingga Aladdin.

Uniknya, saat itu kepingan laser disc yang saya putar di rumah nggak saya beli, melainkan sewa. Berbeda dengan penyewaan DVD atau VCD yang populer di tahun 2000-an, saat itu ada karyawan perusahaan penyewaan kepingan laser disc yang berkeliling dari rumah ke rumah untuk menawarkan barang sewaannya menggunakan sepeda motor bebek dan tas besar yang berisi puluhan bahkan ratusan keping laser disc dan sejumlah alat tulis, buku kwitansi, dan catatan rental.

Baca Juga:  Kenangan Bersama Telepon Rumah dan Wartel

Kepingan laser disc tersebut berisi puluhan bahkan ratusan judul film dari berbagai genre yang berbeda. Ada film kartun seperti Tom and Jerry yang biasanya disewa oleh anak-anak. Ada film action seperti franchise James Bond yang biasanya ditonton oleh remaja laki-laki dan bapak-bapak, hingga film-film India yang biasanya disewa oleh remaja putri dan ibu-ibu. Zaman itu industri hiburan Korea belum seramai saat ini.

Sistem kerja abang-abang penyedia rental laser disc keliling ini mirip dengan abang-abang kredit panci keliling di daerah perumahan di mana mereka menawarkannya dari rumah ke rumah. Setelah pemilik rumah menyebutkan judul film yang akan mereka sewa, abang-abang ini akan mencatat judul film yang disewa, termasuk meminta nomor telepon rumah pemilik rumah, dan meminta identitas pemilik rumah sebagai jaminan. Setelah membayar uang sewa dan meninggalkan rumah, abang-abang rental akan kembali dalam waktu beberapa hari untuk menagih laser disc yang kita sewa sekaligus menawarkan untuk menyewa lagi.

Abang-abang rental ini biasanya berkeliling pada jam-jam pulang kerja, misalnya jam 4 atau jam 5 sore. Tujuannya tentu saja agar orang-orang yang baru tiba di rumah selepas bekerja bisa menyewa laser disc untuk ditonton di malam harinya sebagai pelepas penat setelah seharian bekerja, termasuk ketika berkunjung di rumah saya saat itu.

Sampai saat ini, baik televisi dan alat pemutar laser disc masih ada di rumah saya, meskipun nggak pernah saya sentuh sama sekali dan hanya tersimpan rapi di dalam lemari televisi lantaran saat ini saya menonton film di depan laptop saja. Hanya saja, mengingat kenangan 25 tahun yang lalu tersebut, nggak pernah terbayangkan dengan modal laptop dan koneksi internet, kita bisa menonton ribuan judul film dalam dan luar negeri kapan saja dan di mana saja. Bandingkan dengan zaman dulu di mana saya harus menunggu kedatangan abang-abang rental buat nonton film. Kepingan berdiameter 30 sentimeter tersebut bahkan cuma memuat satu judul film doang, sudah gitu kualitas gambar dan suaranya jauh banget dari sekarang.

Baca Juga:  Menjadi Orang yang Berbeda di Facebook, Twitter, dan Instagram

Tentu saja sekarang saya bersyukur bisa nonton film dengan gampangnya nggak sesulit dulu. Tapi saya berterima kasih pada seluruh kenangan yang saya alami pada zaman tersebut karena menjadi awal mula saya menyukai film hingga saat ini.

Sumber Gambar: YouTube Sinemascope3000

BACA JUGA Pengalaman Saya Menjadi Karyawan Rental Komik dan Novel dan tulisan Raden Muhammad Wisnu lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
9


Komentar

Comments are closed.