Bagi sebagian orang, bubur ayam mungkin hanya sekadar menu sarapan yang lewat di depan rumah setiap pagi. Sepiring bubur nasi putih, diberi suwiran ayam, kecap, dan kerupuk. Selesai. Namun, bagi saya sarapan bubur bak ritual sakral.
Itu mengapa, soal bubur saya agak sensitif. Mencampuradukan atau menyamakan bubur ayam Jakarta dan bubur ayam Cirebon jadi penistaan luar biasa bagi saya. Asal tahu saja, keduanya berada di kutub yang sepenuhnya berbeda, lahir dari filosofi rasa yang tidak bisa dikompromikan.
Ketidakpahaman ini sering kali membuat saya gemas sendiri saat menemani teman sarapan di pinggir jalan. Banyak yang asal tunjuk gerobak tanpa tahu mazhab bubur mana yang akan masuk ke dalam perut mereka.
Berulang kali saya harus menahan napas ketika melihat seseorang memesan bubur Cirebon, tapi pasang ekspektasi rasa gurih kunyit khas ibu kota, sebuah salah kaprah yang sebenarnya sangat mudah dihindari sejak awal.
“Bubur ayam jakarta dan cirebon jelas beda, kuahnya nih lihat.”Kalimat itu selalu saya ucapkan tiap kali ada yang gagal paham. Agar tidak bingung dan salah beli lagi, saya punya panduan jelas untuk membedakannya langsung dari mata turun ke lambung.
Kuah bubur ayam Jakarta dan Cirebon itu berbeda
Cara paling mudah untuk membedakan keduanya adalah dengan melihat cairan yang menyiram bubur tersebut. Bubur ayam Jakarta mengandalkan kuah kuning yang kaya rempah, mirip kuah soto, tapi lebih pekat. Rasa kunyit dan kemiri langsung menyengat lidah, berfungsi memberikan rasa pada bubur putihnya yang cenderung netral.
Sementara itu, bubur ayam Cirebon sama sekali tidak menggunakan kuah kuning. Penjualnya akan menyiramkan kaldu encer gurih berwarna kecoklatan yang beraroma sate, lengkap dengan minyak sayur yang khas. Rasa asin-gurihnya sangat intens dan langsung menusuk hidung begitu mangkuk disajikan di atas meja.
Toping-nya juga berbeda
Perbedaan kedua yang sangat mencolok terletak pada urusan toping di atas mangkuk. Bubur ayam Jakarta adalah penganut paham kenyamanan klasik. Komponen wajibnya adalah potongan cakwe yang kenyal-renyah, kacang kedelai goreng, bawang goreng, dan tumpukan kerupuk oranye. Jika saya melihat cakwe di dalam etalase gerobak, sudah pasti itu versi Jakarta.
Sementara itu, bubur ayam Cirebon justru “mengharamkan” cakwe. Sebagai gantinya, mereka menggunakan tongcay yang memberikan sentuhan rasa asin-asam yang unik. Selain itu, bubur Cirebon selalu dicirikan dengan taburan daun bawang yang sangat melimpah, suwiran ayam yang super halus, serta pilihan sate usus atau ati ampela berbumbu kecap sebagai pendampingnya.
Tekstur bubur ayam keduanya serupa, tapi tak sama
Bukan hanya soal apa yang ditaburkan di atasnya, esensi dari bubur itu sendiri juga berbeda total saat sendok pertama diangkat. Saya perhatikan, bubur ayam Jakarta memiliki tekstur yang lebih padat, kental, dan kokoh. Ketika diaduk, akan menyatu menjadi satu kesatuan rasa yang tidak mudah berair.
Hal ini berbeda dengan bubur ayam Cirebon yang teksturnya sejak awal cenderung lebih encer dan lembut mengalir. Keenceran ini membuat kuah kaldu asinnya meresap sempurna ke dalam setiap bulir bubur, membuat permukaannya selalu terlihat agak menggenang dan basah saat disuap.
Jadi, dengan memahami tiga perbedaan struktur ini, saya tidak akan pernah lagi keliru membedakan keduanya di jalan. Membandingkan atau bahkan menyamakan kedua jenis bubur ini jelas menunjukkan ketidakpedulian terhadap kekayaan rasa Nusantara, karena bagi saya, tiap mangkuk memiliki batas identitas kuliner yang mutlak dan tidak boleh tertukar.
Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Dosa Pedagang Bubur Ayam Khas Jakarta yang Berjualan di Jogja.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
