Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Jangan Ejek Laki-laki yang Nyuci Baju dan Masak Sendiri

Abul Muamar oleh Abul Muamar
7 Mei 2019
A A
cuci baju

cuci baju

Share on FacebookShare on Twitter

Suatu pagi empat tahun yang lalu, di Kota Pematangsiantar, tak biasanya tetangga saya–seorang perempuan muda, sebut saja namanya Sabrina–bersenandung lagu Angka Satu–nya Caca Handika.

 

Masak, masak sendiri

Makan, makan sendiri

Cuci baju sendiri

Tidurpun sendiri…

 

Pagi itu saya sedang menjemur satu ember penuh pakaian di halaman belakang rumah kontrakan saya. Kebetulan, saat itu si Sabrina tengah menyapu halaman belakang rumahnya. Sambil saya memeras pakaian dan dia mengayunkan sapu lidinya, kami pun mengobrol.

Baca Juga:

Alasan Saya Bertahan dengan Mesin Cuci 2 Tabung di Tengah Gempuran Mesin Cuci yang Lebih Modern 

4 Dosa Pemilik Jasa Laundry yang Merugikan Banyak Pihak

“Ceweknya mana, Bang?” tanyanya. Belum sempat saya menjawab, dia sudah menimpali, “Suruhlah ceweknya datang, biar dicuciin.”

Memang, si Sabrina tahu kalau sesekali cewek saya datang bertandang. Mungkin, karena dia tahu saya punya pacar, makanya dia menyarankan demikian.

Tapi, sarannya justru mengusik saya. Batin saya, memangnya laki-laki nggak boleh nyuci sendiri? Memangnya nyuci itu cuma bisa dilakukan perempuan? Yang lebih disayangkan, saran seperti itu justru keluar dari mulut perempuan. Perempuan muda pula.

“Nyuci itu tugas cewek, Bang. Cowok fokus cari duit aja,” katanya lagi, seolah-olah bisa membaca pikiran saya.

Tanpa maksud membuat kesimpulan, berarti si Sabrina nanti kalau sudah jadi istri bakal nyuciin baju suaminya–dan mungkin juga nyiapin baju yang mau dipakai suaminya keluar rumah, menyiapkan handuk kalau suaminya mau mandi, menyiapkan makan, dan sebagainya. Dengan sendirinya dia menggolongkan dirinya ke dalam golongan perempuan yang siap melayani kebutuhan suami di rumah. Betapa calon istri idaman engkau, Duhai Sabrina….

Empat tahun kemudian, di Yogyakarta, tepatnya di wilayah Kecamatan Mlati, Sleman, tetangga saya–kali ini seorang ibu sekitar 40-an tahun–melantunkan penggalan lagu yang sama dengan yang dinyanyikan si Sabrina. Persis ketika ia sedang melihat saya menjemur beberapa potong baju dan celana. Bedanya, pertanyaannya lebih mengena walaupun disampaikan dengan ramah.

“Wong lanang kok nyuci ta, Mas?”

“Nggih, Bu,” jawab saya sekenanya. Rupanya ibu ini kelewat ramah. Jawaban saya yang pendek itu tak membuatnya puas.

“Ndang cari istri, Mas,” katanya. “Kalau sudah punya istri, kan, enak, ada yang nyuciin.”

Saya lagi-lagi hanya mengiyakan kata-kata si Ibu. Sungguh saran yang baik, pikir saya. Bukan, bukan berarti kalau punya istri saya jadi punya “pembantu rumah tangga” yang akan mencucikan pakaian saya. Tapi paling tidak, dengan punya istri, sesekali saya bisa nebeng pakaian kotor. Artinya, di lain kesempatan, istri juga boleh nebeng pakaian kotornya sama saya. Ya, ganti-gantian gitu.

Tapi ternyata, si Ibu satu ini bukan cuma ramah, tapi juga perhatian. Tidak hanya menyinggung soal perempuan yang menurutnya lebih pantas untuk mencuci baju, beliau juga menyarankan saya agar sebaiknya mencuci di binatu saja. Lebih praktis, katanya. Lagian juga murah dan masnya nggak perlu capek-capek, katanya lagi. Oh, Ibu…, ibu serasa ibu saya saja deh.

Ya, saya tahu, binatu sekarang sudah banyak. Jumlahnya seperti hendak mengimbangi jumlah pendatang di Jogja. Terpeleset sedikit, ketemu binatu. Terpeleset lagi, ketemu binatu lagi. Dan ongkosnya juga murah meriah. Ada yang Rp 4.000 per Kg, bahkan ada yang Rp 3.000 per Kg. Soal bersih atau enggaknya ya, itu urusan di akhirat. Yang penting murah. Dan wangi ding.

Jadi, selain terdesak oleh perempuan, laki-laki yang mencuci pakaiannya sendiri seperti saya ini juga terhimpit oleh keberadaan binatu yang menjamur. Seakan-akan, tugas mencuci itu hanya harus diserahkan kepada perempuan. Kalau bukan perempuan, ya, binatu. Laki-laki jangan.

Bukan cuma perkara nyuci baju sendiri. Ada banyak hal lain yang dianggap “pekerjaan perempuan”, yang akan menerbitkan ejekan bila laki-laki yang mengerjakan. Contohnya memasak.

Sebagai anak kos, saya termasuk sering masak. Selain menghemat, saya yakin masakan saya cukup bermartabat soal rasa dan kebersihan. Tentu selain mi instan, saya juga bisa masak sayur-sayuran, sup, gulai, dan beberapa masakan lainnya. Yang memuji memang lumayan banyak. Tetapi, tetap saja ada yang berkomentar senada dengan Sabrina dan si Ibu ketika memergoki saya menjemur pakaian.

“Masnya bisa masak, ceweknya nggak bisa masak. Terus nanti gimana kalau nikah?” kata kawan yang satu.

“Nanti kalau sudah nikah, istrinya enak donk, nggak perlu masak,” kata kawan yang lain.

Kalau sudah begini, rasanya seperti sia-sia didikan orang tua saya dulu, yang mengajarkan saya agar mandiri; harus bisa nyuci sendiri, masak sendiri, membersihkan rumah sendiri, dan lainnya.

Terus terang, saya sebenarnya malu juga kalau dipergoki saat sedang mengerjakan hal-hal yang–terlanjur–dianggap sebagai pekerjaan perempuan. Apalagi kalau yang memergoki perempuan. Tetapi, seandainya tidak diejek, rasa malu itu sebenarnya bisa saya tepis seketika.

Ini sama halnya dengan perempuan, yang melakukan “pekerjaan-pekerjaan laki-laki”, seperti mengangkat galon, menambal ban bocor, jadi tukang becak atau kernet bus, dan sebagainya. Banyak sebenarnya dari mereka yang sanggup, tapi kemampuan mereka diremehkan–kalau bukan diejek.

Ini baru saya, satu orang. Di luar sana, saya yakin sebenarnya banyak laki-laki tulen yang terlatih dan lihai, maupun yang masih belajar, dalam mengerjakan “pekerjaan-pekerjaan perempuan”.

Tapi sayangnya, mereka diejek, dibikin malu (walaupun sambil bercanda), sehingga lama-kelamaan mereka menghentikan kebiasaan-kebiasaan baik itu. Dan ketika beristri, mereka lupa bahwa mereka pernah terbiasa dan telaten mencuci baju sendiri, masak sendiri, nyetrika sendiri, dan sebagainya.

Jadi, demi masa depan perempuan–terutama para istri–yang lebih cerah, demi pembagian tugas rumah tangga yang lebih berkeadilan, atau demi meringankan beban istri saat hamil atau lelah, misalnya, sebaiknya berhentilah mengejek laki-laki yang mencuci baju sendiri, masak sendiri, dan lainnya. Sebab, laki-laki yang demikian adalah aset terbaik bangsa. Ibu kita Kartini pasti ikut bangga.

Terakhir diperbarui pada 7 Mei 2019 oleh

Tags: Cuci BajuLaki-lakiLaundry
Abul Muamar

Abul Muamar

Seorang wartawan. Memiliki pengalaman lebih dari 12 tahun di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor di beberapa media nasional. Alumnus Ilmu Filsafat dari Universitas Gadjah Mada dan Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Memiliki minat kuat pada isu-isu ketimpangan struktural dan ketidakadilan sistemik.

ArtikelTerkait

Jangan Langsung Dipakai, Baju Baru Sebaiknya Dicuci Dulu

Jangan Langsung Dipakai, Ini Alasan Baju Baru Sebaiknya Dicuci Dulu

14 Mei 2023
laundry

Saran untuk Para Penyedia Jasa Laundry

6 Mei 2019
Bisnis Laundry Rumahan Lebih Banyak Buntung daripada Untung karena Tetangga yang Ngutangan Mojok.co

Bisnis Laundry Rumahan Lebih Banyak Buntung daripada Untung karena Tetangga Sering Ngutang

19 Maret 2024
laundry pakaian dalam

Laundry Pakaian Dalam Itu Sebenarnya Boleh atau Nggak, sih?

14 November 2021
Mengenang Kejayaan Ragnarok Online, Game Online Paling Fenomenal di Indonesia Alasan Saya Ketagihan Nonton Aplikasi Bigo Live Derita Pemain Game Online yang Main Pakai HP

Alasan Lelaki Memilih Ngaku-ngaku Perempuan saat Main Game

10 Juni 2020
Jadi Perempuan Sulit? Maaf, Jadi Pria Juga Ada Kalanya Sulit, Nona terminal mojok.co

Perempuan dan Laki-laki Bisa Memilih untuk Tidak Tunduk dengan Patriarki

5 Oktober 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Stasiun Plabuan Batang, Satu-Satunya Stasiun Kereta Api Aktif di Indonesia dengan Pemandangan Pinggir Pantai

Bisakah Batang yang Dikenal sebagai Kabupaten Sepi Bangkit dan Jadi Terkenal?

1 Februari 2026
8 Kasta Saus Indomaret dari yang Pedas hingga yang Biasa Aja Mojok.co

8 Kasta Saus Indomaret dari yang Pedas hingga yang Biasa Aja

4 Februari 2026
Tunjungan Plaza Surabaya Lebih Cocok Disebut Labirin daripada Mal, Membingungkan dan Rawan Tersesat Mojok.co

Tunjungan Plaza Surabaya Lebih Cocok Disebut Labirin daripada Mal, Membingungkan dan Rawan Tersesat

2 Februari 2026
Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan

Jogja Memang Santai, tapi Diam-diam Banyak Warganya yang Capek karena Dipaksa Santai meski Hampir Gila

2 Februari 2026
Jatim Park, Tempat Wisata Mainstream di Malang Raya yang Anehnya Tetap Asyik walau Sudah Dikunjungi Berkali-kali Mojok.co

Jatim Park, Tempat Wisata Mainstream di Malang Raya yang Anehnya Tetap Asyik walau Sudah Dikunjungi Berkali-kali

6 Februari 2026
Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau Mojok.co

Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau

5 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya
  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.