Jangan Bilang Kudus Kota Sempurna kalau Tiap Lampu Merah Masih Dikuasai Badut dan Manusia Silver

Jangan Bilang Kudus Kota Sempurna kalau Tiap Lampu Merah Masih Dikuasai Badut dan Manusia Silver

Jangan Bilang Kudus Kota Sempurna kalau Tiap Lampu Merah Masih Dikuasai Badut dan Manusia Silver

Saya orang Demak yang hampir setiap hari ke Kudus. Belanja ke pasar, antar-jemput ponakan sekolah, dan urusan-urusan kecil lainnya yang bikin saya hafal betul jalanan di kota kretek ini. Hafal tikungannya, hafal macetnya, dan tentu saja—hafal di mana saja badut dan manusia silver berdiri menunggu mangsa.

Sebelum kalian pikir ini tulisan membenci Kudus, izinkan saya meluruskan: saya justru kagum sama kota ini. Serius. Buat ukuran kota kecil di Jawa Tengah, Kudus itu overachiever. Bayangkan, ada Menara Kudus yang jadi ikon wisata religi, taman-taman kota yang bersih dan tertata, fasilitas kesehatan yang memadai, stadion olahraga, pusat pendidikan yang oke. Mau wisata religi? Ada. Mau jajan jenang? Tinggal tunjuk. Olahraga? Fasilitasnya siap. Pendidikan? Banyak pilihan.

Kudus itu paket lengkap, kayak gebetan yang ganteng, mapan, rajin ibadah, gak merokok dan baik sama kucing—terlalu sempurna sampai bikin curiga. Dan kecurigaan saya terbukti benar.

Karena di balik segala kesempurnaan Kudus, ada satu hal yang konsisten merusak mood saya setiap kali berkendara di sana: badut dan manusia silver di lampu merah. Bukan satu-dua persimpangan. Bukan sesekali. Tapi di hampir semua lampu merah. Dari rumah saya sampai ke alun-alun Kudus saja, saya harus melewati sekitar lima lampu merah. Dan di kelimanya—saya ulangi, di kelimanya—selalu ada badut atau manusia silver yang siap menyambut saya dengan ember Tango dan tatapan penuh harap.

Lima lampu merah, lima badut. Konsistensi macam apa ini? Bahkan saya yang berangkat belanja ke pasar saja nggak sekonsisten itu—kadang mampir warung kopi dulu, kadang ketiduran. Tapi badut-badut ini? Mereka sudah stand by seolah-olah ada absensinya.

Mari berhitung

Coba kita hitung pakai matematika warung kopi. Katakanlah saya nggak tega dan kasih seribu rupiah per badut—angka paling kecil supaya nggak dikira ngece. Lima lampu merah, berarti lima ribu sekali jalan. Pulangnya lewat jalan yang sama, ketemu badut yang sama, tambah lima ribu lagi. Sepuluh puluh ribu per hari. Kalikan dua puluh enam hari kerja, sudah dua ratus enam puluh ribu sebulan. Dua ratus enam puluh ribu! Itu lebih mahal dari langganan WiFi rumah saya.

Saya bahkan belum menghitung ongkos bensin Demak-Kudus, dan ternyata biaya badut sudah bisa menandingi satu pos pengeluaran bulanan. Kalau ada aplikasi catatan keuangan yang menyediakan kategori “Badut & Manusia Silver”, saya mungkin pengguna pertamanya.

Dan yang paling bikin saya gerah bukan keberadaan mereka. Bukan. Saya paham, semua orang butuh makan. Yang bikin saya nggak nyaman itu caranya. Anda pernah berhenti di lampu merah di Kudus, terus tiba-tiba ada sosok berwajah putih pucat atau pakai topeng seram sembari berdandan warna-warni menyodorkan ember Tango tepat di depan badan Anda? Bukan sekadar menyodorkan, tapi mempertahankan posisi itu selama lampu merah belum hijau.

Ember itu nggak bergerak. Badutnya nggak pergi-pergi. Anda sudah geleng-geleng kepala, sudah pura-pura sibuk cek HP, sudah alihkan pandangan ke arah lain—ember itu tetap di situ. Statis. Sabar. Menunggu. Lebih sabar dari saya menunggu ponakan yang bilang “sebentar lagi keluar” tapi baru muncul dua puluh menit kemudian.

Rasanya awkward luar biasa. Mau kasih uang tapi males buka-buka dompet dalam tas. Tapi mau nggak kasih ya gimana, wong ada manusia bercat silver atau berkostum badut berdiri sejengkal dari Anda, menatap dengan mata memelas sementara pengendara lain juga ikut melirik. Kalau di film horor, adegan ini pasti sudah masuk kategori jumpscare.

Bagaimana perasaan turis di Kudus?

Saya kadang membayangkan, bagaimana kalau ada turis yang pertama kali ke Kudus. Mereka sudah kagum lihat Menara Kudus, sudah terpesona sama jenang dan soto khasnya, sudah memuji taman kotanya yang tertata. Lalu mereka berhenti di lampu merah dan disambut segerombolan badut nyodorin ember. Apa yang akan mereka pikirkan? Mungkin mereka mengira ini semacam welcome ceremony yang unik. Atau mungkin mereka langsung putar balik.

Yang bikin saya tambah gemas, Kudus itu jelas-jelas punya potensi dan upaya besar untuk menjadi kota yang nyaman. Bahkan Ferry Irwandi and the geng aja sampek bikin konten tentang Kudus buat diupload di kanal YouTube Malaka. Pemerintahnya sudah berusaha membangun taman, merapikan jalan, meningkatkan fasilitas publik. Tapi semua usaha itu terasa kurang greget ketika di setiap persimpangan ada badut dadakan yang nggak ada di brosur wisata mana pun.

BACA JUGA: Kabupaten Kudus Memang Layak Dinobatkan sebagai Kabupaten Terkaya di Jawa Tengah, Inilah Alasannya

Tidak menyalahkan, tapi…

Saya nggak menyalahkan individunya. Sekali lagi, semua orang butuh hidup. Tapi kalau fenomena ini ada di setiap lampu merah di kota yang fasilitasnya selengkap Kudus, bukankah itu jadi pertanyaan besar? Kota yang punya segalanya tapi belum bisa menertibkan satu hal ini. Kalau boleh diibaratkan rasanya kayak makan mie-bakso komplit tapi sendoknya patah.

Jadi, jangan dulu bilang Kudus kota sempurna. Tunggu sampai Anda melewati lima lampu merah berturut-turut dan selamat dari lima ember Tango yang disodorkan tepat di depan dada Anda. Kalau setelah itu Anda masih bilang sempurna, berarti mental Anda yang sempurna—bukan kotanya.

Tapi ya, besok saya tetap ke Kudus lagi sih. Namanya juga ponakan harus dijemput. Dan badut-badut itu, ya, mereka juga tetap akan ada di sana. Rasanya kami sudah seperti rekan kerja yang nggak pernah saling sapa tapi selalu bertemu setiap hari. Hubungan paling konsisten dalam hidup saya, begitu kalau dipikir-pikir.

Penulis: M. Daviq Nuruzzuhal
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kalau Mau Menua dengan Tenang, Jangan Nekat ke Jakarta, Menetaplah di Kudus!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version